Amirudin: BAB tak Pakai Air PDAM karena Numpang di Kamar Kecil Masjid
Mandi dan cuci tidak bisa tiap hari, karena suplai air PDAM ke kami macet. Mungkin dirasakan juga oleh pelanggan lain. Normalnya, sehari air sengalir, sehari tidak. Pada bulan Juli 2019, pernah macet sampai seminggu penuh.”
Agus Setiawan S.Pd, Pendiri Yayasan We Save Dompu.

DOMPU, Lakeynews.com – PDAM Dompu diprotes pelanggan. Betapa tidak, air yang dipakai hanya 63 meter kubik, namun konsumen ditagih dan diharuskan membayar hingga Rp. 1 jutaan.
“Sebenarnya, berapa rupiah tarif (harga) per kubik air PDAM ini? Kok, untuk pemakaian dua bulan, kami disuruh dan harus bayar Rp. 1.100.000,” kata Pendiri Yayasan We Save Dompu Agus Setiawan, S.Pd, dengan nada tanya pada wartawan, Selasa (6/8).
Yang membuat Agus (panggilan Agus Setiawan) heran, karena sesuai dengan yang tertera di meteran, pemakaian air mereka 63 meter kubik. Dan, gambar meteran dengan angka 63 meter kubik itu, mereka ambil Senin (5/8).
“Kita ambil gambar itu setelah menerima surat pemberitahuan tunggakan dari PDAM. Dimana, pelanggan atas nama Kantor/Sekretariat We Save harus membayar Rp. 1.100.000 untuk dua bulan pemakaian paling lambat tanggal 8 Agustus ini,” kata Ketua Bidang Sosial dan Kesehatan We Save Amirudin, S.Pd.
Pemberitahuan tersebut disertai dengan ancaman penutupan sementara. “Jika tidak diselesaikan pada tanggal tersebut (8 Agustus 2019, maka instalasi air di rumah Bapak akan ditutup sementara,” ancam pihak PDAM Dompu dalam pemberitahuan yang ditandatangani Parsan, S.Sos tertanggal 5 Agustus 2019.
Agus Setiawan dan Amirudin mengaku tidak habis pikir dan bertanya-tanya. Setahun lebih sudah mereka menggunakan air PDAM dengan meteran yang terpasang di sekretariat We Save itu, namun angka yang tercatat di meteran baru 0063 (63) meter kubik.
“Sebelumnya, tiap bulan rata-rata kita bayar paling sedikit Rp. 70-an ribu dan maksimal Rp. 150-an ribu. Tapi sekarang, kita disuruh bayar hingga Rp. 1.100.000 untuk dua bulan. Ini sangat tidak normal,” tandas Amirudin.

Lebih jauh dijelaskan pria yang akrab disapa Amir We Save, di Sekretariat We Save ada dua kran air, satu di depan dan satu lagi di belakang. Sedangkan yang menetap dan biasa memakai air PDAM di tempat tersebut, hanya tiga orang.
Umumnya, air PDAM dipakai untuk mandi dan cuci. Sedangkan untuk buang air besar (BAB), menumpang di kamar kecil (WC) kompleks masjid, depan Sekretariat We Save.
Mengapa harus numpang BAC dan BAB di kamar kecil dalam kompleks masjid?
“Mau tidak mau, karena di tempat kita tidak ada WC-nya,” jawab Amirudin tanpa ragu mengungkap kondisi riil sekretariat yayasan yang berkedudukan di Jalan Baru Lingkungan Karijawa, Kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu itu.
Demikian halnya untuk mandi dan cuci, baik cuci pakaian maupun peralatan dapur, juga tidak bisa dilakukan rutin setiap hari. “Mandi dan cuci tidak bisa tiap hari, karena suplai air PDAM ke kami macet. Mungkin dirasakan juga oleh pelanggan lain. Normalnya, sehari air sengalir, sehari tidak. Pada bulan Juli 2019, pernah macet sampai seminggu penuh,” sergah Agus Setiawan.
Dengan tegas Agus dan Amir mendesak PDAM agar segera menuntaskan dan mengklirkan masalah penagihan tunggakan pembayaran rekening air yang dianggap merugikan We Save. “Tolong hitung ulang dan teliti lagi soal pembayaran kami. Harus berdasarkan volume yang kami gunakan sesuai tertera di meteran,” tegasnya.

Mereka juga mengingatkan dan mengharapkan supaya PDAM lebih transparan dalam hal penarikan retribusi pemakaian air terhadap pelanggan. “Mungkin bukan hanya kami yang mengalami hal ini,” ujar keduanya yang ditemui di tempat yang sama.
Bagaimana tanggapan pihak PDAM Dompu?
Direktur PDAM Dompu Agus Supandi, SE, ketika dikonfirmasi Lakeynews.com mengaku telah mengetahui hal itu. “Iya, saya sudah mendengar informasinya dari staf,” kata Agus via ponselnya, Selasa (6/8).
Dia berjanji akan segera menindaklanjuti dan menuntaskan masalah tersebut. “Apapun hasilnya, akan kami sampaikan. Insya Allah kita usahakan solusi terbaik,” ujarnya. (won)

Jadi ingatt kejadian kurleb 5 tahun yg lalu,,,,
Para nasabah PDAM di bikin kaget dengan kenaikan tarif yg drastis,,,,ini menyeluruh di bima kota juga demikian.banyak orang2 yg keberatan akan hal itu.