Oleh: Muslimin Hamzah  *)

(Penulis Buku “GAJAH MAJA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA”)

Satu hal lagi, misalnya Anda mau beralasan, situs penting kerajaan Bima yakni istana nyatanya ada di Mbojo. Jangan salah! Biaya pembangunan istana Bima (bukan istana Mbojo), sekitar 60-70 persen dari masyarakat di luar Mbojo Nae kata mendiang KH Ghanny Masykur pada saya. Dana itu mereka peroleh dari menjual hasil bumi petani pedalaman. Selebihnya diambil dari kas kerajaan dan bantuan pemerintah Hindia Belanda. Uang Belanda/kerajaan pun dari pajak masyarakat Bima.

Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)

Menurut cerita KH Ghanny Masykur, puluhan kuda mengangkut sarang burung Perado yang dibeli murah kolonial Belanda tiap musim panen sarang burung. Uangnya dipakai untuk membangun istana Bima. Belum lagi padi, jagung, ternak yang disumbangkan masyarakat di luar kawasan Mbojo Nae. Mungkin saja ada sumbangan harta dan tenaga orang Mbojo Nae tapi tidak diceritakan oleh Pak Kiai.

Saran saya, kita orang Bima jangan aneh-aneh, jangan lebay, jangan berfantasi yang berlebihan. Cukup moyang kita yang menggunakan cara-cara gaib, sehingga harus bertanya pada roh-roh halus, hantu dan setan tentang dunia manusia Bima.

Mereka akhirnya dikibuli oleh mahluk astral, makhluk gaib serta supranatural lain karena gagal paham tentang pada siapa mereka harus bertanya dengan tepat. Sejatinya mereka bertanya pada Allah SWT, pemilik jagad raya ini. Dan itu wajib dilakukan karena Allah sudah memberi kita akal pikiran yang brilian.

Karenanya tanpa bermaksud mendiskreditkan moyang kita, merujuk pada pakar kepemimpinan Stephen Covey dalam bukunya yang legendaris “Seven Habits of Highly Effective People” mereka (moyang kita) sudah melakukan hal benar tapi belum melakukan dengan benar.

Mereka, orang pintar/pujangga dulu-kala yang masih pakai cara-cara kurafat dengan media keris pusaka, sesajen, tempat-tempat keramat, jin-jin, hantu-hantu, dedemit-dedemit, setan-setan, roh-roh untuk bertanya. Maka, jadilah cerita-cerita hantu jadi-jadian di BO seperti Indera Kumala, Sang Bima, Sang Klula, Sang Naka, Indera Zamrut, Jan wa Manjan, Ncuhi Dara, dan tokoh-tokoh besar namun aneh di BO yang ditengarai sebagai pendiri negara Bima.

Saya berani katakan itu lelucon murahan. Tampaknya itu yang masih dirawat pewaris wangsa Mbojo Nae dan [bukan Bima] untuk diperdagangkan sebagai sumber penguat dinasti politik eks bangsawan di Tanah Bima.

Selalu saja ada yang bilang pada saya jangan menghakimi raja, penulis sejarah, pujangga, juru tulis dan orang dulu yang sudah tiada. Itu tidak elok, kata mereka. Loh, kalau konsep mereka salah karena belum “melakukan dengan benar” harus kita koreksi. Justru kesalahan itu bisa menjadi dosa jariah bagi mereka. Dengan koreksi ini, kita bebaskan orang dulu dari kesalahan menahun pada anak cucunya. Karena ego kita, jangan berlindung dengan pura-pura berewuh pakewuh. Ini untuk kebaikan Bima bukan kelompok.

Kepada Dinas Pendidikan tanggaplah, kritislah, karena hal ini akan Anda pertanggungjawabkan dunia akhirat. Bahwa penamaan itu salah besar dan menyesatkan jangan malah ikut mendukung buku-buku yang salah untuk dibaca anak-anak kita di sekolah.

Kita “lakukan dengan benar” seperti saran Covey. Termasuk untuk  bupati, bertindaklah karena ini menyangkut identitas kita yakni Bima. Jangan biarkan nama Bima sebagai suku-bangsa dibajak, dengan dasar ego dan pertimbangan tanpa akal sehat.  

Cover buku karangan Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)

Kekonyolan lain, penamaan suku Mbojo ini ikut memarginalkan bahkan menggerus nama historis Dompu. Entah siapa yang punya ilmu sesat ini? Katanya Dompu merupakan subordinat Mbojo, bagian dari Mbojo.

Ini benar-benar culas karena tak berdasar, asbun, asal-asalan dan tidak dielaborasi secara ilmiah. Dompu merupakan semesta yang genuine, historis, lebih purba dari Bima bahkan Majapahit sekalipun. Kok bisa Dompu bagian dari Mbojo? Ini keterlaluan dan pembodohan.

Jangankan Mbojo yang kemarin sore itu dan hanya bagian kecil dari Bima, Bima saja sebagai sebuah entitas hebat, itu lahir dan eksis berkat Dompu. Ketika Gajah Mada datang tahun 1357 menurut informasi Nagarakrtagama dan Pararaton, Bima yang kita kenal sekarang masih berupa hutan belantara yang dihuni monyet, kadal, ular, babi, hantu-hantu, jin-jin dan setan (makanya baca buku: “GAJAH MADA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA” biar terang-benderang).

Orang Dompu harusnya tidak berdiam diri. Ini menyangkut kehormatan Anda, harga dirimu, wibawa daerahmu, marwah sukumu, identitasmu yang dicabik-cabik serta nama besarmu yang diobok-obok.

Nyatanya orang Dompu sering dirugikan secara moril dan meteril, seperti dilupakan/tidak mendapat porsi jika terdapat proyek-proyek pemerintah Pusat dan Provinsi sejak dulu. Yang terbaru seperti mulok misalnya, orang Dompu menurut informasi teman-teman di Dompu malah tidak tahu-menahu dan gigit jari. Semuanya diambil oleh orang Bima dengan topeng suku Mbojo. Ini maunya apa? Saudara sendiri kok dikadali? (*)

Baca juga;