Oleh: Muslimin Hamzah  *)

(Penulis Buku “GAJAH MAJA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA”)

Ada pun pembentukan quarted frasa kata adik saya Endo Ibra di FB seperti dou mbojo, sangaji mbojo, nggahi mbojo, dana mbojo dan lainnya, itu bukan rumus baku tapi kebiasaan belaka seperti orang menyebut nggahi/dou Kore, nggahi/dou Donggo, nggahi/dou Sambori, nggahi/dou Kolo, dou Sila, dou Kae, dou Wera dan lainnya.

Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)

Nah, ada pun frasa itu dipakai secara luas karena dikukuhkan dengan modus dominasi oleh priyayi Mbojo dalam waktu ratusan tahun kala daulah Kerajaan Bima masih bercokol di Tanah Bima, bukan Dana Mbojo. Frasa-frasa tersebut malah bernuansa rasis.

Kalau pun ada yang menganggapnya baku sebutan nggahi mbojo untuk bahasa Bima, itu salah salah kaprah. Itu sekadar kebiasaan. Kalau kita menyebut nggahi Bima untuk bahasa Bima itu tidak salah. Seperti halnya bahasa Jawa untuk nggahi Jawa, bahasa Sunda/nggahi Sunda.

Dari sekian inskripsi tentang Bima, tidak satupun yang menyebut Mbojo sebagai semesta utama di Bima. Baik Pararaton, Piagam Jawa, Nagarakrtagama tidak ada yang menisbatkan Mbojo, kecuali BO, yang tergolong naskah baru dan bukan naskah kuno karena ditulis di era modern, dan zaman kertas kala kolonial bercokol akhir abad ke-19.

Sejarawan Prof. Slamet Mulyana serta Prof. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia juga hanya menyebut Bima di buku-bukunya. Para pakar seperti Michael Hichcock mempertegas kalau Bima dibagi dua; lowland yakni satu kawasan dataran rendah sempit yang kemudian menjadi Mbojo di timur teluk dan highland di luar itu. Hichcock sama sekali tidak menyebut Mbojo. Dia menyebut juga barat teluk sebagai Donggo.

Begitu pun Heinrich Zollinger (1818-1859), cuma menyebut Bima bukan Mbojo ketika dia mengeluh soal sejarah Bima yang dia bilang ribet karena tidak sampai ke hal-hal yang benar tapi penuh dimensi magi. Dalam artikelnya “Verslag van eene reis naar Bima en Sumbawa”, cendekiawan berkebangsaan Swis namun bekerja pada Hindia Belanda ini hanya menyebut Bima dan tak mengenal Mbojo.

Juga dokumen Zollinger tentang bahasa Bima dan aksara Bima sama sekali tidak menyebut Mbojo. Literatur-literatur Belanda umumnya menyebut Bima bukan Mbojo seperti buku Jonker “Bimaneesche Texten” dan selusin buku lain.

Begitu pun Raffles dalam karyanya History of Java hanya menyebut Bima bukan Mbojo. Hj Maryam R. Salahuddin pun yang membahas soal aksara Bima bersama Syukri Abubakar juga tidak menyebut aksara Mbojo.

Dennys Lombard di bukunya yang menjadi salah satu “Kitab Suci” bagi sejarawan modern juga tidak pernah menyebut Mbojo melainkan Bima. Lontara Gowa-Makassar juga tidak secuilpun menyebut Mbojo tapi Bima atau Gima.

Cover buku karangan Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)

Ratusan kajian linguistik bahasa Bima, juga tidak ada yang menyebut bahasa Mbojo. Satu diantaranya tesis Syamsuddin, “Kelompok Bahasa Bima-Sumba. Kajian Makna Penghormatan dan Solidaritas” (1996). Atau tesis Made Sri  Satyawati, “Pemarkah Diatesis Bahasa Bima” dan banyak lagi. Dalam studi linguistik komparatif ihwal kekerabatan bahasa, juga disebut bahasa Bima sebagai kerabat bahasa Lio, Sumba, Ende, dan lainnya.

Jadi, salah kaprah. Penamaan Suku Mbojo ini  tidak memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Dulu, di era daulah raja-raja, nama keramat Mbojo Nae memang didesain sebagai alat propaganda raja untuk memarginalkan dan mendominasi kawasan di luar Mbojo Nae, seperti Kae, Bolo, Donggo,Sanggar, Sape, Wera.

(Bersambung ke; http://lakeynews.com/2019/07/05/suku-mbojo-itu-keliru-dan-menyesatkan-3/ )