
SEJAK sebelum, saat, hingga selesai menjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Periode 2018-2023, Dr. H. Zulkieflimansyah tak pernah berhenti berselancar di sejumlah platform media sosial.
Di Facebook dan Instagram misalnya. Pria yang akrab disapa Bang Zul ini kerap menuangkan pikirannya di sana.
Hari ini saja, Selasa (25/2/2025), Bang Zul mengunggah tiga status berturut-turut terkait Danantara. Yakni Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Diketahui, BPI Danantara merupakan badan yang mengonsolidasikan dan mengoptimalkan investasi pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Badan ini dibentuk Presiden Prabowo Subianto. Bahkan nama ”Daya Anagata Nusantara” sendiri diberikan langsung oleh Presiden Prabowo.
“Danantara menurut saya adalah terobosan luar biasa dari Presiden Prabowo. Mestinya sudah dari dulu ada inisiatif-inisiatif seperti ini,” kata Bang Zul pada salah status yang diunggahnya.
Belum Tentu untuk Industrialisasi
Menurut Bang Zul, Danantara itu entitas yang berkepentingan pada investasi.
Mental model orang-orang investasi ini biasanya jangka pendek dan lebih mengedepankan pertimbangan-pertimbangan finansial.
“Dalam ilmu ekonomi, cara pemahaman teman-teman ini, mazhabnya neoclassical (neoklasik),” nilai Bang Zul.
Di sisi yang lain, industrialisasi itu, prosesnya panjang dan berliku. Butuh pembelajaran yang lama dan biaya yang tidak sedikit.
“Jadi, mengharapkan Danantara akan membiayai investasi seperti industrialisasi ini, nampaknya sulit,” tandasnya.
Ini yang Mesti Dilakukan Danantara
Seperti yang disampaikan di atas, kahadiran Danantara menurut Bang Zul adalah terobosan luar biasa dari Presiden Prabowo. Bahkan, mestinya sudah dari dulu ada inisiatif-inisiatif seperti ini.
Katanya, harus ada institusi seperti Danantara untuk membiayai proyek-proyek strategis nasional, seperti industrialisasi dan hilirisasi.
“Tapi industrialisasi ini prosesnya lama dan panjang. Jalannya berliku dan mendaki. Tidak ada leap frogging dalam proses industrialisasi,” tegasnya.
Dilemanya di sini kalau Danantara diisi oleh “mereka-mereka” yang mindset-nya keuangan semata. Industrialisasi tidak bisa didekati dengan cara berpikir cepat dan jalan pintas ini.
“Investasi untuk industrialisasi dan hilirisasi tidak bisa berbuah manis segera,” jelasnya.
Bang Zul lalu mencontohkan Investasi Smelter di Kabupaten Sumbawa Barat oleh PT Amman. Investasi itu sudah dimulai bertahun-tahun. Namun sampai sekarang (Februari 2025) belum kelar-kelar. “Ya, karena lama memang dan nggak mudah,” tegasnya.
Jadi menurutnya, perlu ada cara berpikir lain di dalam Danantara yang mampu mengimbangi cara berpikir ala Investment Bankers. Dengan demikian, investasi-investasi Danantara tidak melulu semata berorientasi pada persoalan keuangan dan dimensi jangka pendek.
Dan, yang paling penting, lanjutnya, publik harus tahu hal ini. Jangan gelayuti Danantara dengan harapan untuk semua investasinya bisa berbuah manis segera. “Butuh waktu,” tegasnya lagi.
Danantara juga tidak boleh investasi semata pada hal-hal populis dan cepat. Perlu keberanian untuk investasi di sektor agak panjang tapi strategis.
“Bukankah perjalanan panjang selalu harus dimulai dengan langkah pertama,” ujarnya dengan nada tanya.
Investasi ke UKM, Ekonomi Bangkit
Di masa Covid dulu, NTB menurut BNPB adalah provinsi terbaik yang mampu mengendalikan ekonominya di tengah wabah.
Bang Zul bercerita, bayangkan, di tengah bencana nasional, ada 5000 UKM baru muncul karena ada insentif ke UKM. UKM “dipaksa” memasuki Industri Pengolahan. Pemerintah menampung dan membeli produk-produk UKM-UKM tersebut.
“UKM-UKM kita rata-rata bisa memproduksi apa saja tapi susah mencari pasarnya,” paparnya.
Baru akan mantap kalau Danantara punya keberanian investasi ke UKM-UKM di seluruh Indonesia. Produk-produk UKM-UKM tersebut diserap seluruhnya oleh pemerintah daerah.
“Saya yakin di tengah beratnya situasi ekonomi global, ekonomi kita akan bangkit karena UKM-UKM kita bergerak dan hidup,” cetus Bang Zul.
“Kalau ini berani dilakukan oleh Danantara, maka kehadiran Danantara dalam menunjang industrialisasi dan hilirisasi menemukan maknanya secara mendasar,” pungkas Bang Zul. (tim)
