Ketua DPRD Kabupaten Dompu Muttakun. (tangkap layar/lakeynews.com)

DOMPU – Sudah lebih dari seminggu, dua titik saluran irigasi sekunder di Dusun Ragi, Desa Mbawi, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, jebol dihantam banjir pada Senin (20/1/2025).

Namun, hingga hari kedelapan pascabanjir, belum tampak tanda-tanda adanya upaya dari Pemda Dompu untuk segera memperbaiki kerusakan tanggul sepanjang puluhan meter tersebut.

Sementara, air berpasir dan berlumpur terus menggenangi sekian luas areal pertanian padi petani. Akibatnya yang belum tanam terancam gagal tanam, dan yang sudah tanam terancam gagal panen.

Berita sebelumnya: Petani Padi Mbawi Terancam Gagal Tanam maupun Panen

Kondisi tersebut masih dikeluhkan warga. Hingga diunggah di media sosial Facebook. Salah seorang diantaranya oleh pemilik akun berinisial ER.

Menurutnya, karena tanggul sungai di Dusun Ragi – Mbawi jebol, air merendam lahan pertanian. Benih padi tidak dapat ditanam. Selain akibat lahan digenangi air, juga ditutup lumpur dan kerikil.

“Ini banjir yang ketiga kalinya. Puluhan hektare lahan pertanian yang rusak akibat tanggul jebol. Mohon pihak yang berwenang untuk menanggulangi dua titik tanggul yang jebol di Dusun Ragi,” pinta ER.

Persawahan padi petani, baik yang sudah maupun hendak ditanam di Dusun Ragi, Desa Mbawi, Kecamatan Dompu, terendam air akibat tanggul jebol dihantam banjir, beberapa waktu lalu. (ist/lakeynews.com)

Muttakun Bereaksi Keras

Belum adanya aksi riil dari pemerintah daerah melalui dinas/OPD (organisasi perangkat daerah) terkait, mendapat reaksi keras dari Ketua DPRD Kabupaten Dompu Muttakun.

Muttakun dibuat murka, “di saat masyarakat (petani) galau dan sangat khawatir merugi karena terancam gagal panen, pemda kok terkesan adem dan tenang-tenang saja!”

Kegundahan politisi NasDem ini disampaikan menjawab konfirmasi Lakeynews.com, Selasa (28/1/2025) malam. Pernyataan yang sama juga diteruskan ke WAG Lakeynews, beberapa saat kemudian.

Muttakun dengan tegas meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk saling koordinasi dan bersinergi dalam penanganan drainase di Desa Mbawi yang jebol tersebut.

“Gunakan seluruh sumber daya yang ada untuk memperbaiki atau menutup drainase yang jebol. Kerahkan alat berat Exavator ke lokasi,” pintanya dengan nada instruksi.

Mengapa Muttakun sampai setegas dan sekeras itu?

Kondisi pemerintahan di Dompu saat ini, menurutnya, seperti anak ayam kehilangan induknya. Demikian pula sebaliknya ada induk namun anak ayam tidak bisa berbuat apa-apa.

Kondisi ini tergambar ketika tanggul drainase di Dusun Ragi Desa Mbawi jebol dan diketahui akan berdampak buruk bagi petani, namun tidak segera ditangani oleh eksekutif.

“Sungguh aneh, OPD-OPD terkait tidak segera merespons masalah drainase yang jebol, padahal sudah dilaporkan oleh Kades sejak seminggu yang lalu,” kritik Muttakun.

Mantan Ketua Komisi I ini mengaku sangat prihatin melihat makin menurunnya kinerja pimpinan OPD yang dinilai tidak lagi mampu menyelesaikan masalah yang menimpa petani, khususnya di So Ragi.

“Apakah pimpinan OPD terkait tidak lagi mempunyai mata dan hati untuk melihat dan membantu menyelesaikan persoalan daerah yang menjadi bidang tugasnya,” tanya Muttakun.

“Kalau areal pertanian yang siap tanam dengan bibitnya dan sebagian sudah ditanam tiba-tiba rusak oleh banjir karena drainase yang jebol, padahal bisa dicegah kalau diperbaiki, maka membiarkannya sama halnya membunuh masa depan petani yang sangat menanti hasil pertaniannya,” sambungnya tegas.

Karena itu, Muttakun mengajak para pimpinan OPD untuk meningkatkan kepeduliannya dalam menyelesaikan masalah-masalah prioritas dan urgen yang menimpa petani saat ini.

Bagaimana tanggapan Plt. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Yani Hartono dan Kadis PUPR Aris Ansary, juga Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Syahrul Ramadhan?

(tim)