
“SPEKTAKULER dan luar biasa.” Kalimat pendek ini pantas disematkan pada Inovasi Pompa Air Berbahan Bakar Elpiji dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sawe, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Betapa tidak, inovasi tersebut mampu mengefisiensi biaya yang dikeluarkan petani hingga 70-an persen.
Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Dompu Muhammad Syahroni, inovasi PPL itu sudah sekitar seminggu diujicobakan pada lokasi/lahan kelompok tani di Desa Sawe.
Hasilnya?
“Dari hasil uji coba dari inovasi itu didapatkan nilai tambah pada efisiensi biaya produksi petani,” kata Dae Roni, sapaan Muhammad Syahroni pada Lakeynews.com.
Hal tersebut dilontarkan Dae Roni di sela-sela acara Walimatussafar, dr. Heny Kustanti Nuraidah, istri Eddy Khaidir (Kabid PSP Distanbun Dompu), di Bonto Kape Sila, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Sabtu (3/6/23) sore.
Tampak hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Distanbun, beberapa kepala bidang, kepala seksi, pejabat fungsional dan staf Distanbun Dompu beserta istrinya.
Terlihat juga mantan pejabat Distanbun yang kini menjabat Camat Woja Edison “Sangaji”. Juga Koordinasi BPP Woja Sudirman dan Koodinator BPP Kilo Kaharudin.
Hitungan untuk penggunaan gas Elpiji pada sumur bor, jelas Dae Roni, dibutuhkan dua sampai tiga tabung dalam sehari semalam.
Sedangkan untuk penggunaan pada air sungai sementara ini cukup dibutuhkan satu tabung Elpiji.
Biasanya, lanjut dia, pengairan untuk 1 hekate (Ha) lahan dibutuhkan waktu sekitar tiga hari.
Jika menggunakan BBM jenis bensin (premium), urai Dae Roni, biaya yang dibutuhkan sampai Rp. 600 ribu (60 liter). Tetapi jika menggunakan gas Elpiji hanya butuh biaya Rp. 180 ribu.
Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan pengairan saja, petani dapat mengirit atau mengefisiensi biaya hingga 70-an persen.
“Sehingga disimpulkan, jika petani menggunakan gas Elpiji (untuk pengairan) dapat mengefisiensi biaya hingga Rp. 420 ribu per Ha,” papar.
Terkait hal itu, Dae Roni berharap, kedepan diupayakan Elpiji buat para petani. Selain tetap dipenuhi untuk kebutuhan rumah tangga.
Jangankan untuk pertanian, untuk rumah tangga saja, khusus gas Elpiji 3 Kg langka dan mahal beberapa waktu terakhir?
Karena itulah, menurut Dae Roni, kedepan diharapkan adanya penambahan alokasi Elpiji untuk membantu petani.
“Lagi pula masalah kelangkaan Elpiji pada beberapa wilayah di daerah kita, kan terjadi baru beberapa hari terakhir ini,” ujarnya. (ayi)
