
Oleh: Muslimin Hamzah *)
SAYA kaget melihat/membaca kalimat: “Sadonggo-donggo lalona dou binatang mpoi ee, puee.” Seperti dimuat di salah satu media online, kajian seorang pakar bahasa (linguis) di Dompu.
Sebenarnya tidak ada kalimat demikian dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Bima. Dus, kalimat itu mengada-ada. Kalaupun mau dikaji secara linguistik, ambil yang lain saja yang lebih realistis. Ungkapan atau kalimat tersebut terlalu sarkastik, sangat menyudutkan orang Donggo. Kalau dikaji itu sangat out of date alias kadaluarsa.
Sarkastik atau lazimnya sarkasme adalah salah satu jenis majas yang menggunakan kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain dan dapat berupa cemoohan atau ejekan. Sarkasme berasal dari kata Yunani, yaitu sark yang berarti “daging”, dan asmos yang berarti “merobek”. Jadi secara harfiah, sarkasme berarti “merobek daging” (Wikipedia).
Saya ini separo Donggo. Lahir di Rada, Bolo/Sila (kampung qori Syamsuri Firdaus). Saya pernah sekolah di SDN Doridungga. Guru saya antara lain H. Nurdin (almarhum), putra Doridungga asli. Seingat saya tidak pernah terdengar kalimat sarkastik seperti itu.
Memang sekitar tahun 1980-an masih terdengar sebutan stigmatik pada Donggo tapi itu sudah amat jarang. Itu merupakan sisa-sisa dari era feodal raja-raja.
Nah, membuat kajian linguistik an sich pada sebutan-sebutan tendensius yang sangat menyakitkan seperti itu, saya pikir amat gegabah tanpa memahami aspek psikolinguistik dan historilinguistik ungkapan tersebut dalam masyarakat Bima.
Ungkapan sarkartisik tentang Donggo sebenarnya secara psikolinguistik merupakan hasil rekayasa penjajajah sebagai bagian dari politik devide et impera. Artinya ungkapan-ungkapan negatif tentang Donggo merupakan upaya psywar, perang urat saraf penjajah Belanda dengan bangsawan Bima, dalam hal ini para priyayi Rasanae pada era Perang Kala – Donggo (1907-1909).
Saat itu, selama sekitar dua tahun perang, Belanda dan pasukan Kerajaan Bima sulit menaklukkan Kala secara militer. Belanda bersama bangsawan Bima tak kehabisan akal. Mereka menempuh pelbagai cara seperti memberi cap negatif yang sangat keji pada komunitas Donggo.
Tampaknya itu berhasil sehingga muncul kesan komunitas Donggo itu jelek, bercitra negatif, rendah dan sejenisnya. Dokungan moril dan materil dari orang Bimapun berkurang drastis, bahkan berujung pada kekalahan.
Upaya sistematis penjajah plus bangsawan Bima tidak berhenti di situ. Mereka juga mendesain folklore atau cerita rakyat yang menjadi mitos asal usul orang Donggo. Konon orang Donggo berasal dari anak cucu Ina Ka’u Lamu di Kampung Tuntu, kawasan Sambi. Kampung kuno ini diyakini oleh sejumlah orang tua di Donggo berasal dari era Donggo masa lampau. Berkembang kisah tutur-tinular kalau anak cucu Ina Ka’u itu antara Ntehi, pahlawan Perang Kala.
Ada yang aneh dari folklore ini, yakni status Ina Ka’u yang hamil di luar nikah dan dibuang ke Sambi oleh pasukan kerajaan. Semula raja memerintahkan para algojo kerajaan membunuh Ina Kau di kawasan Wadu Pa’a. Rupanya para eksekutor itu merasa iba dan urung membunuh Ina Ka’u yang sedang hamil tua. Mereka kemudian membuang Ina Ka’u ke Sambi.
Ada maksud terselubung dari folklore ini. Pertama, pihak bangsawan Bima ingin memberi stigma negatif pada komunitas Donggo, yang moyangnya dari wanita tidak suci. Dus, di sini Ntehi dicitrakan sebagai anak haram. Ini tentu untuk meruntuhkan moral orang Donggo dan pasukan Kala yang gagah perkasa.
Di sisi lain para bangswan Bima juga berlaku culas dengan memberi kesan kalau orang Donggo bukan orang lain melainkan satu pohon silsilah dgn keluarga bangsawan Bima. Tak lain lewat proses kawin mawin anak cucu Ina Ka’u yang bangsawan dengan orang Sambi di masa Donggo kuno. Ina Ka’u sendiri konon dinikahi orang Sambi.
Strategi terakhir ini ternyata sangat ampuh. Hingga kini bahkan masih bersemayam anggapan di kalangan sebagian orang tua Donggo kalau komunitas Donggo itu keturunan Raja Bima.
Padahal itu tidak benar karena hal itu hanya rekayasa belaka. Folklore Ina Ka’u juga cuma akal-akalan kolonial dan bangsawan Bima. Sosok itu tidak ada dan sekadar fantasi pujangga istana. Dus, klaim orang Donggo punya tautan historis dan darah dengan raja-raja Bima hanya angin sorga untuk melemahkan api perjuangan dan perlawanan orang Kala – Donggo.
Yang pasti orang Donggo mengalami dua penjajahan sekaligus, yakni penjajahan oleh kolonial Belanda dan penjajahan oleh kaum feodal istana.
Dus, menghidupkan kajian linguistik dengan mengabaikan psikolinguistik dan historilinguistik hanya mengulik luka lama yang sangat tidak zeitgeist atau tidak sesuai dengan semangat zaman. Akibatnya, kajian lingustik itu menjadi menyesatkan dari sudut pandang sejarah, psikolinguistik dan historilinguistik khususnya. (*)
*) Penulis adalah Wartawan Senior juga Sejarawan.

Tulisan abang, sangat keren sarat makna, mengungkapkan fakta apa adanya, bukan ada apanya sebagaimana yang di tulis oleh sebagian sejarawan lokal di Bima yang hanya fokus pada puja puji atas Raja dan Istananya.