Ketua Badan Pengawas Disiplin DPP Partai Gerindra H. Bambang Kristiono, SE (HBK, tengah) diapit Mori Hanafi (kanan) dan Farin, calon pengganti Mori sebagai wakil ketua DPRD NTB. (ist/lakeynews.com)

HBK: Tujuh Tahun Mori Menjabat, Penggantian sebagai Penyegaran

MATARAM, Lakeynews.com – Nama Ketua Badan Pengawas Disiplin (BPD) DPP Partai Gerindra H. Bambang Kristiono, SE (HBK) disebut-sebut sebagai dalang di balik proses pergantian Mori Hanafi sebagai Wakil Ketua DPRD NTB.

Diketahui, awal diketahui Wakil Ketua DPRD NTB dari Partai Gerindra Mori Hanafi bakal diganti setelah Surat Keputusan (SK) Partai dibacakan pada sidang paripurna dewan setempat, Kamis (21/4) lalu. Kabar pergantian ini menimbulkan kegaduhan. Sejumlah loyalis Mori menolak pergantian ini.

HBK yang dikenal dekat dengan Prabowo Subianto pun dituding terkait dengan proses penggantian itu. Menaggapi hal tersebut, HBK angkat bicara.

Anggota DPR RI dari Dapil NTB 2 (Pulau Lombok) ini menilai, rotasi atau pergantian posisi jabatan di partai itu bukanlah sesuatu yang luar biasa.

“Tidak usahlah terlalu dibesar-besarkan. Biasa-biasa saja, karena proses rotasi dan pergantian itu akan terus berjalan,” katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima Lakeynews.com, beberapa hari lalu.

Soal adanya aspirasi yang ingin mempertahankan Mori, HBK menghargainya. Namun, HBK mengingatkan, publik harus mengetahui bahwa Mori telah menjabat pimpinan DPRD NTB sejak 2019. Lebih dari tujuh tahun.

“Cukup lama untuk seorang politisi menduduki jabatan yang diamanahkan. Saya kira sudah waktunya (giliran) kader lain didorong untuk mewujudkan regenerasi dan penyegaran,” tandasnya.

HBK menegaskan, jangan sampai ada kejenuhan dan kompetisi positif yang tidak berjalan. Selain itu, keputusan penggantian tersebut merupakan kewenangan pimpinan kolektif DPP Partai Gerindra.

“Tidak diputuskan oleh orang berorang. Saya memang dimintai pendapat dan masukan. Dan, saya menghargai hasil konsensus adik-adik saya di DPD Partai Gerindra NTB,” paparnya.

Pemilik klub sepak bola profesional Lombok FC ini menegaskan, pergantian itu tak hanya menyasar Mori Hanafi. Ketua Fraksi Gerindra juga berganti. Dari Naufar Farinduan kepada Sudirsah Sujanto. Pergantian berlaku agar semua garbong berjalan stabil.

“Memangnya ada yang sakral dalam jabatan politik? Ada yang tak tergantikan? Sekarang Mori diganti Farin, berikutnya bisa jadi Farin diganti yang lain. Atau Mori kembali lagi,” terangnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI ini mengaku, serangan-serangan yang dialamatkan kepada pribadinya tak terlalu membuatnya risau. Dia justru lebih memikirkan eksistensi dan kegairahan partai.

Posisi kader Gerindra, sambungnya, sama-sama berjuang. Tidak boleh ada istilah, apalagi pemahaman, kader merasa lebih besar dari partainya.

“Saya mendengar ada tokoh-tokoh yang ingin berjumpa dengan saya untuk menyampaikan aspirasi. Saya persilakan. Saya akan jelaskan alasan-alasan dan pertimbangannya. Saya sangat terbuka,” tuturnya.

Sebagai perbandingan, HBK menyinggung proses pergantian Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M. Taufik, juga dari Partai Gerindra. Dia kagum dengan kebesaran hati Taufik yang telah memilih membacakan sendiri SK pergantiannya.

“Taufik melakukan itu karena dia paham merit sistem yang diterapkan di dalam partai. Sekarang dia diganti, dan besok bisa saja dia naik lagi. Tidak ada hal yang istimewa,” tandasnya. (tim)