
Mental dan Karakter Siswa Dikhawatirkan Rusak
–
Sekitar seminggu sudah kegiatan pembelajaran tatap muka diberhentikan sementara di Kabupaten Dompu, NTB. Mengiringi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara daring itu, dijumpai sederet permasalahan. Baik yang dialami pihak sekolah maupun orang tua atau wali murid.
———–
BELUM dapat dipastikan sampai kapan kondisi ini akan berlangsung. Dikhawatirkan akan memberikan pengaruh buruk pada mental dan karakter peserta didik. Itu, jika permasalahan-permasalahan tersebut berlangsung lama dan tidak segera teratasi dengan solusi terbaik.
Diketahui, Bupati Dompu H. Bambang M. Yasin menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor: 360/37/BPBD/I/2021 tentang Pemberhentian Sementara Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021 Dimasa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Dompu.
SE tertanggal 11 Januari 2021 itu ditujukan kepada Kadis Dikpora, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kepala SMP dan SD Se-Kabupaten Dompu. Tembusannya disampaikan kepada Gubernur NTB, Dandim 1614/Dompu dan Kapolres Dompu.
Selain mengacu pada keputusan bersama empat menteri (Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri), SE tersebut dikeluarkan Bupati Dompu dengan beberapa pertimbangan.
Salah satu pertimbangannya, kasus Covid-19 yang tetap bertambah, sehingga Kabupaten Dompu masuk dalam kategori Zona Merah. “Perlu kewaspadaan dan kehatia-hatian dari semua pihak,” kata Bupati dalam SE itu.
Menurut Bupati, kesehatan dan keselamatan semua warga satuan pendidikan merupakan prioritas utama yang wajib dipertimbangkan dalam menetapkan kebijakan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19.
Bukan itu saja. Satuan pendidikan dalam pembelajaran tatap muka dianggap belum siap secara totalitas, sehingga perlu dilakukan persiapan-persiapan.
Karena itu, proses KBM untuk Tahun Ajaran 2020/2021 di Kabupaten Dompu tidak boleh dilakukan secara tatap muka sampai dengan waktu yang belum ditentukan. “Proses pembelajaran dilakukan secara daring di rumah, sesuai teknis dan ketentuan yang berlaku,” tegas Bupati dalam SE-nya.
Kadis Dikpora Kabupaten Dompu melalui Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Zainal Afrodi, S.Pd, MM, mengatakan, pihaknya telah meneruskan SE itu kepada para kepala UPTD Dikpora dan kepala SD dan SMP. “Sudah kita sampaikan, baik melalui surat maupun lewat grup Watsapp,” kata Zainal.
“Pihak sekolah dan wali murid kita harapkan bersabar. Insya Allah, KBM secara tatap muka tetap akan diberlakukan ketika Dompu bebas dari Jona Merah Covid-19 ini,” sambung pria yang akrab disapa Dae Feri atau Feri Afrodi itu pada wartawan di ruang kerjanya, pekan lalu.

Sejumlah Persoalan
Hampir setiap hari Lakeynews.com mendapat informasi tentang hambatan dan kendala KBM daring ini. Baik yang dihadapi pihak sekolah –terutama guru– maupun orang tua/wali murid.
Sayangnya, rata-rata di antara mereka meminta agar identitasnya tidak ditulis. Mereka hanya siap mengutarakan persoalan-persoalan yang dihadapi belakangan ini.
Di antara sejumlah persoalan itu, pertama, terkait kepemilikan Handphone (HP) android. Sebagian wali murid tidak memiliki HP android dan hanya mempunyai HP jenis poliponik. Bahkan, ada pula yang tidak mempunyai HP poliponik.
“Proses KBM sekarang dilakukan secara daring (online). Bagaimana anak-anak kami bisa belajar, kalau kami tidak punya HP android,” kata salah seorang wali murid asal Desa Tembalae, Kecamatan Pajo.
Kedua, punya HP android tapi tidak punya paket internet. Kemarin-kemarin, sebagian mereka mendapatkan paket internet dari Kemendikbud.
“Sekarang saya tidak punya lagi paket itu. Mau beli paket internet, belum ada uang. Kalaupun ada uang, cukup untuk beli beras. Kebutuhan sehari-hari pun banyak yang tidak terpenuhi,” kata seorang Wali Murid asal Desa O’o, Kecamatan Dompu.
“Agar anak saya mengetahui ada tugas dari gurunya, kadang saya telepon langsung gurunya. Kalau tidak ada pulsa, saya ke rumah guru untuk menanyakan,” papar warga Desa Mangge Asi.
Ketiga, ada HP android dan ada paket internet tapi lemot jaringan. “Walaupun kita punya isi paket internet banyak, karena di sini sering macet jaringannya, ya KBM daring tetap saja tidak efektif,” kata orang tua siswa dari Desa Kadindi, Kecamatan Pekat melalui telepon genggamnya.
Keempat, guru kadang tidak punya paket internet. “Mohon maaf ya abang-abang saleh, kakak-kakak salehah. Pak Guru baru sempat kirimkan tugasnya,” kata salah seorang guru SD dalam sebuah Grup WA bersama wali murid.
“Hal ini disebabkan Pak Guru kehabisan paket internet. Alhamdulillah, saat ini sudah ada. Sehingga bisa langsung sampaikan tugas-tugasnya,” sambung guru itu sebagaimana dikutip wali murid asal Kelurahan Bali.
Kelima, peserta didik lebih patuh pada guru ketimbang orang tua atau walinya. Beberapa wali murid mengaku kesulitan mengatur dan membina anak-anaknya selama KBM daring.
“Hanya sebentar saja anak-anak saya betah di rumah. Sulitnya kalau kita suruh belajar. Tiba-tiba sudah pergi main dengan teman-temannya,” kata wali murid di Kelurahan Dorotangga.
Disamping lima poin itu, juga masih ada beberapa persoalan lain yang hadapi para wali murid dan pihak sekolah.
Sehubungan dengan masalah-masalah itu –terutama poin kelima, umumnya para wali murid –termasuk beberapa guru- mengkhawatirkan kondisi tersebut memperburuk mental dan karakter peserta didik.
“Kami sebagai orang tua siswa, hanya berharap agar kondisi ini tidak berlarut-larut dan segera ada solusi untuk mengatasinya,” harap Akbar, orang tua siswa salah satu SMP di wilayah Kota Dompu.
Akui Ada Persoalan, Dikpora Harapkan Semuanya Bersabar
Kabid Dikdas Dinas Dikpora Kabupaten Dompu Zainal Afrodi, S.Pd, MM, ketika dikonfirmasi media ini mengaku, mengetahui dan menyadari betul adanya persoalan maupun berbagai kendala tersebut.
“Kita sudah mengetahuinya. Dan, hal-hal tersebut memang sulit terhindarkan dimasa pandemi ini,” kata pria Dae Feri di ruang kerjanya, Rabu (3/2).
Menurutnya, selain beberapa hal di atas, ada yang lebih krusial di dunia pendidikan ini. Kalau pendidikan, belajar dan mengajar, bisa dilakukan, kapan, di mana dan oleh siapa saja.
“Tetapi pembinaan hanya bisa dilakukan oleh guru. Dan, baru akan maksimal pembinaannya, antara guru dan murid harus bertatap muka. Atau, bertemu langsung,” tandasnya.
Hanya saja, kondisi ini membuat pembinaan melalui tatap muka (luring) tidak memungkinkan dilakukan untuk sementara ini. Para orang tua/wali murid maupun guru-guru diharapkan bersabar dulu.
“Mari kita doakan bersama, semoga badai ini tetap berlalu. KBM secara tatap muka dapat segera kita mulai kembali,” imbuh pria yang dikenal low profile itu.
Meski demikian, dia berharap kepada Satgas Covid-19 Kabupaten Dompu, kiranya secara bertahap melakukan evaluasi KBM daring ini. Sebab, bukan tidak mungkin di wilayah (kecamatan) tertentu bisa diterapkan KBM luring.
“Satgas bisa melihat, mungkin tidak semua wilayah di Kabupaten Dompu ini diberlakukan Zona Merah. Ada wilayah-wilayah tertentu yang dianggap bisa melaksanakan KBM tatap muka,” harap Dae Feri.

K3S-SD: Ada Home Visite tapi tidak Efektif
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Tingkat Sekolah Dasar (SD) Kabupaten Dompu Suriansyah, S.Pd, M.M.Pd, juga angkat bicara. Menurut dia, KBM tanpa tatap muka, dirasa tidak maksimal.
“Mungkin tidak semua wilayah di daerah ini diberlakukan Zona Merah. Sehingga, di kecamatan tertentu sudah bisa melakukan KBM secara tatap muka,” kata Suriansyah pada Lakeynews.com.
Lelaki yang sehari-harinya menjabat kepala SDN 10 Dompu tidak menafikkan, termasuk di sekolahnya menerapkan home visite. Guru berkunjung langsung ke rumah siswa.
“Memang ada home visite, guru datangi siswa. Tapi, tetap tidak efektif. Saran kami, perlu dipertimbangkan untuk dilakukan KBM tatap muka di wilayah tertentu,” harapnya.
( sarwon al khan )
