Obrolan santai di Warkop La Pituk, Komplek Pertokoan Mataram Square Blok C 6-8, Jalan R. Suprapto, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram. (ist/lakeynews.com)

Catatan:
Sarwon Al Khan, Mataram

LUPAKAN sesaat ketegangan dan serba-serbi politik menjelang Pilkada serentak, 9 Desember 2020. Sejenak kita bicara dan nikmati dulu sensasi kopi.

Bicara soal kopi, ya… kopi luwak atau musang ahlinya. Loh koq?

Ya, iyalah. Biji kopi yang keluar bersama kotoran luwak ini paling diburu dan mempunyai nilai jual tinggi.

Diyakini, fermentasi dalam lambung luwak ini mampu memberi sensasi berbeda dalam hal rasa. Namun itu masih harus diolah oleh ahlinya agar rasa kopi semakin mantap.

Tempat nongkrong ngopi pun banyak rasa dan selera. Tapi, Warung Kopi (Warkop) La Pituk menawarkan nuansa lain dari yang lainnya. Juga memiliki sensasi sendiri.

Warkop yang di-owner-i Bambang Waluyantoro ini berkedudukan di wilayah Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Tepatnya, Komplek Pertokoan Mataram Square Blok C 6-8, Jalan R. Suprapto, Taman Sari.

Sekali lagi, Warkop La Pituk menawarkan sensasi. Memanfaatkan meja dari lembaran kayu-kayu tua. Sajian kopi serta makanan seperti beberapa jenis bakso dan lainnya tercipta memiliki rasa yang berbeda.

Dinding beton berlapis ukiran dan guratan kuas menambah kesan seakan berada di alam khayal nan halus.

Pastinya, makanan dan minuman yang disajikan di Warkop La Pituk, asli. Tidak dan bukan di alam khayal.

Bambang Waluyantoro memang sengaja menyajikan konsep berbeda di La Pituk sejak tahun 2013.

Owner Warung Kopi La Pituk, Bambang Waluyantoro. (sarwon/lakeynews.com)

“Saya ingin mereka yang kesini (La Pituk, red), pulang dengan membawa kesan positif dan menarik,” kata Bambang saat ngobrol santai dengan beberapa pegiat pers di salah satu meja Warkopnya, Sabtu (19/9) sore.

Seperti apa kesan dimaksud?

Bambang hanya tersenyum. Kesan memang tidak bisa digambarkan dengan rangkaian kata. Atau, seperti untaian bait-bait puisi.

Semuanya tersimpan dalam rasa yang ada dalam setiap kalbu pengunjung yang menikmati kopi, hidangan bakso beranak, bakso mercon, bakso tulang iga atau renyahnya bakso kepiting.

Bila masih penasaran, sajian berbagai jenis soto pun siap menemani secangkir kopi maupun teh.

Bagi pembaca yang suka makan sambil membaca, tidak usah ragu bila lupa membawa buku bacaan. Majalah dan buku tua, buku-buku yang terbit di bawah tahun 2000, ada di sana.

Lembaran-lembaran halamannya bisa menjadi teman dalam menikmati makanan atau seruputan minuman hangat dan dingin.

Untuk menuntaskan rasa hayal itu, La Pituk membuka pelayanan mulai pukul 12 siang sampai malam.

Penulis (selanjutnya: saya) pun awalnya dibuat penasaran oleh cerita demi cerita yang masuk ke telinga.

Namun, rasa itu terbayar setelah salah seorang sahabat yang lumayan lama tak bersua, mengundang untuk ngobrol-ngobrol santai dan diskusi ringan di tempat itu.

Adalah Owner Mataramradio.com Sukri “Ray” Aruman. Mantan Ketua KPID NTB itu hadir bersama Pemred Mataramradio.com Dedi Suhadi.

Agar tidak sendiri, penulis pun mengajak Feryal, pimpinan media online Siarpost.com. Tak ingin menyia-nyiakan dan mengecewakan teman, Ketua Perkumpulan Media Online Indonesia (MOI) Kabupaten Sumbawa itu memenuhi ajakan saya.

Kami pun sama-sama menikmati bakso yang disuguhkan berdasarkan pesanan. Feryal mencicipi bakso urat. Sedangkan saya merasakan sensasi bakso tulang iga sapi.

Rasanya sungguh maknyus memang. Kepingin setiap hari nangkring di tempat itu. Dan, rasanya tidak cukup jika cuma sekali dua kali.

Yang mengasyikkan lagi, bukan hanya sekadar warung kopi dengan beberapa jenis makanan dan minuman yang disajikan di La Pituk. Menurut Bos Warkop yang akrab disapa Kang Bambang, tempatnya juga bisa dijadikan tempat diskusi atau acara-acara positif lainnya.

Gedung berlantai dua itu mampu menampung peserta hingga 100-an orang.

Umat Islam yang ingin menunaikan ibadah salat, Kang Bambang sudah menyiapkan tempatnya. “Kalau mau salat, silakan Mas. Langsung saja ke lantai dua,” katanya sembari menunjuk ke atas. (*)