

Laporan :
Sarwon Al Khan, Bima
SEJENAK kita sisihkan sedikit waktu dalam membicarakan dan membahas urusan politik. Khususnya terkait Pilkada 2020.
Ini. Anjing rabies masih menghantui kehidupan masyarakat Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, NTB.
Hingga saat ini anjing yang diduga terjangkit virus mematikan itu masih saja berkeliaran di wilayah itu.
Kemarin (Rabu, 11/3) sore, sekitar pukul 17.00 Wita, satu lagi warga setempat yang menjadi korban gigitannya.
Korban tersebut, H. Arahim Yasin, warga Dusun Duhani’u, Desa Mpili. Akibatnya, kakek 70 tahun itu mengalami dua luka gigitan anjing di kaki sebelah kiri.
Sementara anjing malapetaka tersebut berhasil dibunuhnya, setelah sempat “bertarung” selama beberapa menit.
Kondisi kesehatan korban berhasil ditangani setelah pihak keluarga melarikannya ke Puskesmas Donggo. Korban diperbolehkan pulang ke rumahnya, tak lama usai mendapat mendapat pertolongan medis.
Jika kondisinya baik-baik saja, pihak Puskesmas meminta korban untuk kembali melakukan kontrol pada Rabu pekan depan.
Keterangan yang diperoleh penulis di lapangan, korban yang akrab disapa Abu Tati itu tiba-tiba diserang anjing saat menanam sayur mayur di taman kebun, samping rumahnya.
Sesaat sebelumnya, pada jarak beberapa meter Abu Tati melihat bayangan anjing lewat. Korban lalu berdiri, namun tidak lagi melihat anjing itu.
“Tiba-tiba anjing muncul dari belakang dan langsung menggigit kaki kiri saya,” cerita Abu Tati yang ditemui tak lama setelah kembali dari Puskesmas.
Korban yang saat peristiwa terjadi memegang tembilang, mengayunkan alat pertanian itu. Anjing pun melepas gigitannya.
Kemudian dengan mulut terbuka dan gigi-gigi keluar semua, anjing menyerang lagi. Saat itulah, korban menghantamkan dengan tembilang dan anjing tersebut terkapar.
“Pukulan saya mengenai persis di rahang dan bagian bawah telinganya. Baru dibunuh dan dikuburkan oleh anak-anak yang datang kemudian,” tutur Abu Tati.
Beberapa warga setempat mengharapkan pemerintah daerah setempat untuk tetap memperhatikan pada persoalan anjing rabies ini. Pemerintah dinilai abai, mengingat jarang lagi terdengar ada korban gigitan anjing gila ini.
“Jangan karena sudah sepi dan jarang terdengar kejadian yang memakan korban, lalu masalah ini diabaikan. Pemerintah perlu terus menerus mengontrol ke bawah,” ujar Firman, salah seorang warga. (*)
