
Bawaslu Launching Indeks Kerawanan Pemilu Pilkada Serentak 2020
JAKARTA, Lakeynews.com – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI melaunching Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) Pilkada serentak Tahun 2020.
Kegiatan itu berlangsung di Hotel Redtop Jakarta, Selasa (25/2). Dihadiri Wapres RI KH. Ma’ruf Amin, Wakil Ketua Komisi II DPRRI Gus Yaqut, Perwakilan KPU, Polri dan Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia.
Wapres dalam sambutannya mengapresiasi kinerja Bawaslu yang telah memetakan dimensi kerawanan Pemilu. Seperti ketidaknetralan ASN yang ada di 167 daerah, pemilih ganda, serta alat peraga yang tidak sesuai aturan.
“Selamat Bawaslu yang telah berhasil menyusun IKP. Diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal. Sehingga dapat mengukur potensi kerawanan Pilkada serentak bagi Bawaslu atau pihak lain yang berkepentingan,” ujarnya.
Ketua Bawaslu RI Abhan menjelaskan, terdapat sembilan provinsi yang menyelenggarakan pemilihan gubernur memiliki skor rata-rata 73,8 yang masuk dalam kategori tinggi.
“Ini menandakan hampir seluruh indikator kerawanan berpotensi terjadi,” jelasnya.
Sedangkan untuk Pilkada kabupaten dan kota, lanjut Abhan, dimensi-dimensi kerawanannya memiliki skor rata-rata 51,65 yang masuk dalam kategori rawan sedang.
“Artinya, kerawanan pilkada di tingkat kabupaten/kota berada pada level 4 yang berarti lebih dari setengah indikator kerawanan berpotensi terjadi,” jelasnya.
Komisioner Bawaslu Afifuddin, S.THi, M.Si, dalam pengantar pemaparan tentang IKP menyampaikan, kentongan adalah simbol pengingat.
Simbol penabuh kentongan sebagai simbol peringatan dini, bahwa ada kerawanan-kerawanan. “Kita semua harus sinerg’ dan kerja sama,” ajak Afif, sapaan akrabnya.
Afif menambahkan, kesiapsiagaan terhadap kemungkinan yang muncul, isu utamanya soal keberpihakan ASN dan netralitas penyelenggara negara. “Para petahana berpotensi berpihak, serta politik transaksional,” tandasnya.
Menurut Afif, mahar politik yang terjadi susah sekali melacaknya. Penggunaan medsos dan penyebaran hoax yang menimbulkan ujaran kebencian, sangat marak terjadi seperti pada Pemilu 2019. (tim)
