Almarhum Prof. Dr. H. Muhammad Natsir, SH, M.Hum, Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Mataram. (ist/lakeynews.com)
Jenazah almarhum Prof. Dr. H. Muhammad Natsir, SH, M.Hum, malam ini disemayamkan di rumah duka. (ist/lakeynews.com)

 

DOMPU, Lakeynews.com – Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un. Dunia pendidikan tinggi berduka. Baru sekitar seminggu dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Mataram (FH Unram) Prof. Dr. H. Muhammad Natsir, SH, M.Hum, meninggal dunia.

Wakil Rektor III Unram yang dikenal juga sebagai kriminog ini menghembuskan napas terakhirnya di RS Kota Mataram, Selasa (11/2) sekitar pukul 18.45 Wita.

Belum banyak informasi yang diperoleh Lakeynews.com terkait wafatnya almarhum. Menurut informasi, dugaan sementara karena penyakit jantung.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit, almarhum sempat main tenis lapangan di kompleks DPRD NTB. “Menurut pihak keluarga, almarhum masuk rumah sakit setelah main tenis,” kata DR. Risnaen, salah seorang rekan almarhum pada Lakeynews.com, malam ini.

Saat dihubungi media ini via ponselnya, Risnaen sedang berada di rumah duka. Tepatnya di Jalan Dewi Sartika, Lingkungan Karang Kelok Baru, Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram (Belakang Grand Madani Hotel).

Pria yang juga Ketua Umum Rukun Keluarga Bima (RKB) Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Selasa, 4 Februari 2020. Atau, genap seminggu yang lalu.

Hingga berita ini diupload, belum diketahui kapan dan di mana rencana pemakamannya. Apakah di Mataram atau di kampung halamannya di Wera, Bima. Dr. Risnaen juga belum mengetahuinya.

 

Sekelumit Sosok Prof. Natsir

 

Sebagaimana dilansir situs berita online Katada.id, putra asli Wera, Kabupaten Bima, dikukuhkan sebagai Guru Besar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Nomor 24551/M/KP/2019 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.

Gelar guru besar ia raih dengan banyak keringat. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Natsir kecil dulunya tidak pakai alas kaki. Tapi itu tak menghalau tekadnya untuk menuntut ilmu.

“Masih jalan kaki dari kampung di Wera hingga Bima Kota. Tidak pakai sandal. Harus melewati empat gunung sekitar 50 kilometer. Kadang saya memakai jalan pintas, pakai perahu kecil. Kadang juga pakai kuda,” tutur Prof. Natsir mengisahkan perjalanan sekolahnya dulu, Rabu (5/1).

Tumbuh dan hidup di pelosok yang jauh dari kota tidak menghalangi putra pasangan H. Abdul Hakim Zen (Alm) Hj. Siti Zahara ini untuk terus belajar. Karena ia punya motivasi untuk menjadi orang sukses memaksa. Baginya, keterbatasan dalam segala hal termasuk akses pada masa itu tidak menghalanginya.

Justru keterbatasan ini yang mendorong dirinya untuk terus menuntut ilmnu. Prof Natsir menempuh pendidikan SD Negeri No. 3 Bima dan lulus tahun 1973. Setelah itu melanjutkan ke jenjang SMPM Gubug Jawa Tengah dan lulus tahun 1976 . Ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN Demak Jawa Tengah dan lulus tahun 1979.

Gelar Sarjana Hukum ia raih di Unram tahun 1985. Sementara gelar Magister Hukum di Universitas Brawijaya tahun 2000. Terakhir gelar Doktor Ilmu Hukum di Universitas Brawjiaya tahun 2014.

Bagi Natsir, apa yang telah diraihnya kini tidak terlepas dari peran berbagai pihak yang telah mendorong dan membantunya. Mulai dari dukungan keluarga, fakultas dan universitas.
“Saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut berjasa dalam mengantarkan saya menjadi Guru Besar,” ucap Wakil Rektor (WR) III Unram ini.

Ia menambahkan, semua kesuksesannya diawali dengan perjuangan. Ia berharap anak-anak muda saat ini termotivasi untuk belajar meski keterbatasan. Tidak mudah menyerah dengan keadaan.

Menurutnya, apapun keadaan yang dilalui seseorang harus menjadi pembelajaran demi peningkatan potensi diri di masa yang akan datang.

”Mudahan anak-anak muda ini bisa termotivasi bahwa jangan pernah menyerah dengan keadaan,” pesan Prof. Natsir. (won)