Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah bersama Kapolda NTB Irjen Pol Drs. Nana Sudjana AS, MM yang dimutasi menjadi Kapolda Metro Jaya. (ist/lakeynews.com)

MATARAM, Lakeynews.com – Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah angkat bicara terkait mutasi Kapolda NTB Irjen Pol Drs. Nana Sudjana AS, MM menjadi Kapolda Metro Jaya. Meski mutasi itu merupakan kewenangan Kapolri, dia menilai kebijakan memutasi Irjen Nana menggantikan Irjen Pol Drs Gatot Eddy yang diangkat sebagai Wakapolri itu, sudah tepat.

Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini mengapresiasi kebijakan Kapolri Jendral Idham Azis menunjuk Irjen Nana Sudjana untuk menjaga keamanan Ibu Kota.

Dia yakin keputusan Kapolri itu berdasarkan rekam jejak, posisi-posisi strategis dan kapasitas Irjen Nana yang berpengalaman dalam bidang intelijen dan keamanan.

Sebenarnya, Bang Zul berat untuk melepas Irjen Nana. Pasalnya, jenderal polisi bintang dua itu baru delapan bulan menjabat Kapolda NTB. Namun, dia percaya, Irjen Nana memiliki kemampuan, pengalaman dan kapasitas yang mumpuni selama era bergulirnya reformasi 1998 dan setelahnya.

“Jadi saya pikir bukan sesuatu yang susah bagi beliau jika kembali mendapat amanah dari Kapolri untuk memimpin di ibu kota (Polda Metro Jaya),” ucap Bang Zul di Mataram.

Pascapilpres 2019, menurut Bang Zul, kondisi masyarakat bisa dibilang masih terbelah. Turbulensi politik identitas masih dapat memengaruhi situasi Kamtibmas nasional.

Selain itu, Jakarta adalah etalase Indonesia dan merupakan barometer keamanan nasional demi terciptanya kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang aman. “Di situlah dibutuhkan profil yang matang dan mumpuni, yang dapat berperan sebagai “cooling system”,” tandasnya.

“Dibutuhkan figur yang mampu melindungi hak dan kepentingan warga negara, bahkan kewajiban dan hak pemerintah. Termasuk menjaga ibu kota, stabilitas dan rasa aman masyarakat dalam menggerakkan ekonomi,” sambung Bang Zul.

Terkait potensi gangguan Kamtibmas di ibu kota ke depan, di satu sisi dapat dicegah dengan pengumpulan data dan koordinasi dengan sejumlah stakeholder. Di sisi lain, peran sejumlah ulama dan informal leader pun dioptimalkan dalam mengomunikasikan visi dan misi pemerintah.

Sosok Nana, menurut Bang Zul, sebagai figur polisi yang bertangan dingin. Kemampuan komunikasinya luwes, sehingga bisa menjangkau ke berbagai kalangan.

“Selama Irjen Nana Sudjana menjadi Kapolda NTB, meski bisa dibilang baru sebentar, Provinsi NTB terjamin dalam keadaan aman,” paparnya.

Potensi benturan di masyarakat, lanjutnya, berhasil dikelola dengan baik dan ketertiban berjalan maksimal. “Dalam waktu yang serba singkat, Irjen Nana telah mendapatkan apresiasi positif dari tokoh dan masyarakat NTB,” ungkap politisi PKS itu.

Sebelumnya, Kapolda NTB Irjen Pol Nana Sudjana mengaku mendapatkan surat telegram (ST) pada Jumat (20/12). Isinya terkait penunjukan dirinya sebagai Kapolda Metro Jaya oleh Kapolri Jenderal Idham Azis.

“Terkait dengan beredarnya kabar tentang mutasi saya selaku Kapolda Metro Jaya memang betul. Pada malam Sabtu, saya mendapatkan ST tersebut untuk menjadi Kapolda Metro Jaya,” ungkapnya saat memimpin Upacara Hari Ibu di Lapangan Gajah Mada Polda NTB, Senin (23/12).

Irjen Nana mengaku, mutasi tersebut membuat perasaannya campur aduk. Di satu sisi, ia dipercaya Kapolri untuk memimpin wilayah ibu kota. Di sisi lain, ia harus meninggalkan jabatan Kapolda NTB, sebuah amanah yang baru diembannya dalam waktu yang singkat.

“Jadi, terus terang, saya merasa ada suka dan luka. Saya baru menginjak bulan kedelapan menjadi Kapolda NTB ini. Saya sudah merasakan, kebersamaan dan rasa menyatu dengan seluruh anggota di Polda NTB,” ungkapnya.

Namun begitu, dia tegaskan, mutasi dalam tubuh Polri merupakan hal yang biasa dan harus diterimanya sebagai sebuah tugas, amanah dan pengabdian. (zar)