Inilah antara lain armada pengangkut sampah yang dimiliki DLH Kota Bima saat ini. (ist/lakeynews.com)

KOTA BIMA, Lakeynews.com – Jumlah sampah di wilayah Kota Bima mencapai 50 ton per hari. Sampah ini berdasarkan hasil pengakutan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Kepala DLH Kota Bima Drs. H. Alwi Yasin, M.Ap, menjelaskan, sampah-sampah itu murni bersumber dari rumah tangga. Setiap orang, terutama ibu-ibu rumah tangga menghasilkan 1,5 kilogram sampah per hari.

“Jadi, setiap hari kami mengakut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebanyak 50 ton,” ungkap Alwi, Jumat (6/12).

Alwi menyebutkan, dari 50 ton sampah itu, pihaknya hanya mampu menahan timbulan sampah tiga persen.

“Jumlah itu berdasarkan hasil pemilahan oleh para pemulung, khususnya sampah plastik (botol plastik dan lainnya) yang nantinya dijual oleh mereka,” jelasnya.

Kata Alwi, banyaknya sampah ini membuat lokasi TPA yang seharusnya bisa dimanfaatkan selama 5 tahun, hanya bisa bertahan jadi 1 tahun lebih.

“Ketika sampah itu masuk di TPA, kami langsung melakukan penimbunan. Hal ini agar lokasi TPA bisa terus dimanfaatkan,” katanya.

Bagaimana kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya?

Diakui Alwi, alhamdulillah kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan berangsur membaik. Tapi, pihaknya tetap terus mengedukasi masyarakat.

“Sedikit demi sedikit kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, tercipta,” tuturnya.

Berapa jumlah Armada pengakut sampah yang dimiliki DLH?

Menjawab itu, Alwi menyebut, ada 9 unit dum truck, 5 unit Amrol dan 52 unit motor roda tiga.

Untuk pengadaan armada baru, katanya, ada 5 dum truck, 2 unit pic up jenis Mitsubisi L300 dan 10 unit kontainer sampah. “Ini yang sedang diproses. Saat ini baru 2 unit dum truck dan 10 unit kontainer sampah yang sudah ada di DLH,” paparnya.

Dari jumlah armada yang ada, tambah Alwi, pihaknya hanya mampu melayani 22 kelurahan dari 52 kelurahan di Kota Bima. “Sementara sisanya itu tidak mampu dijangkau, terutama di wilayah pinggir yakni Nitu, Toloweri, Jatibaru, Jatiwangi dan Kolo,” sambungnya.

Menurut Alwi, persoalan sampah ini perlu adanya respon semua pihak, terutama dalam hal memilah sampah organik dan non organik. Seperti oleh masing-masing kelurahan di wilayah pinggiran.

Begitu juga di wilayah Pasar Amahami, mestinya kepala pasar setempat memiliki terobosan agar sampah-sampah tidak dibuang sembarangan. Minimal memantik kesadaran para pedagang di pasar itu.

“Kalau ini tercipta, tentu kita akan mampu menekan jumlah sampah. Terutama sampah plastik yang ada di Kota Bima,” tandasnya. (asm)