Fasilitator Literasi Baca-tulis Regional Bali dan Nusa Tenggara Bunyamin. (ist/lakeynews.com)

Penulis : Bunyamin *)

Derasnya arus globalisasi saat ini sudah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia dan pendidikan. Hal tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari arus globalisasi itu sendiri karena berkaitan erat dengan ketersediaan serta penyiapan sumber daya manusia (SDM) di dalamnya.

Selain arus globalisasi, saat ini semua negara di dunia juga sedang bersiap-siap memasuki era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 sesungguhnya merupakan salah satu  “pemantik” bagi pendidikan di Indonesia agar lebih intensif dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten dan kompetitif guna menghadapi arus globalisasi yang telah nyata membawa perubahan di berbagai bidang.

Sudah dapat dipastikan bahwa kehidupan yang akan datang akan semakin kompleks. Generasi muda harus disiapkan agar mampu memecahkan masalah-masalah yang semakin kompleks yang akan dihadapinya. Sebagai implikasinya, maka di kelas pembelajaran maupun di tengah masyarakat, wajib memunculkan literasi membaca dan menulis. Karena, hanya dengan itulah akan mampu mengembangkan pengetahuan mereka sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang akan mereka hadapi.

Di dalam dunia pendidikan, kemahiran berliterasi merupakan hal yang sangat mendasar. Semua proses belajar sesungguhnya didasarkan atas kegiatan membaca dan menulis. Melalui kegiatan literasi membaca dan menulislah dapat dijelajahi dunia ilmu yang luas dari berbagai penjuru dan pada berbagai zaman.

Dalam menghadapi persaingan di Abad XXI, generasi muda harus menguasai sejumlah kecakapan literasi. Salah satunya literasi baca-tulis. Literasi ini merupakan pintu masuk bagi kecakapan literasi lainnya.

Setidaknya, saat ini sekolah sebagai lembaga yang mendidik generasi bangsa melalui kegiatan baca-tulis dipandang belum mampu menyiapkan peserta didik untuk berpartisipasi secara baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Berbagai survei mengenai tingkat literasi siswa selalu menempatkan Indonesia pada posisi terendah di antara negara-negara yang disurvei. Artinya ada yang belum lengkap dengan pembelajaran baca-tulis di sekolah, walau biaya pendidikan sudah mencapai 20 persen dari APBN.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukan kecakapan literasi baca-tulis, yakni pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif dan kompetitif. Hal tersebut salah satunya dapat dicapai dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan. Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital.

Sistem pendidikan membutuhkan gerakan kebaruan untuk merespon era industri 4.0. Salah satu gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah adalah gerakan literasi baru sebagai penguat bahkan menggeser gerakan literasi lama. Gerakan literasi baru yang dimaksudkan terfokus pada tiga literasi utama; 1) literasi digital, 2) literasi teknologi, dan 3) literasi manusia (Aoun, 2018).

Zaman teknologi canggih seperti sekarang, keberadaan literasi membuat seseorang mudah berkomunikasi dalam masyarakat. Jika memiliki pengetahuan dan kemampuan literasi yang baik, akan menjadi kunci masa depan manusia yang berperadaban tinggi dengan ilmu pengetahuan. Terlebih di Abad XXI ini, keterampilan membaca bukan hanya kemampuan membaca biasa tetapi harus dipenuhi dengan tuntutan memahami informasi secara kritis dan analitis untuk menantang kecerdasan buatan seperti sekarang ini. (*)

*) Penulis adalah Fasilitator Literasi Baca-tulis Regional Bali dan Nusa Tenggara.