Kepala Penmad Kanwil Kemenag NTB H. Zamroni Azis, S.Hi, MH (kanan). (nasuhi/lakeynews.com)

Kabid Penmad NTB Saat Workshop Implementasi K13

MATARAM, Lakeynews.com – Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kanwil Kemenag NTB H. Zamroni Azis, S.Hi, MH, menyentil guru-guru di lingkungan Kemenag yang “pelit” beli buku. Lebih-lebih saat keluar dana sertifikasi atau tunjangan lainnya.

“Jika sertifikasi (tunjangan sertifikasi, red) keluar, bisa dihitung dengan jari guru-guru yang beli buku,” sentil Zamroni pada acara Workshop Implementasi Kurikulum 2013 (K13) Lingkungan Kemenag NTB, di Hotel Lombok Plaza Mataram, Jumat (11/10) sore.

Di hadapan sekitar 50 peserta, guru dan pengawas se-NTB, Zamroni menegaskan, sertifikasi adalah hak guru yang sudah melaksanakan tugas profesionalnya. Maka, untuk menambah khazanah keilmuan dan profesionalitasnya, perlu memiliki buku.

Guru-guru, tegasnya, tidak boleh hanya mengandalkan buku panduan atau pegangan guru yang pengadaannya dari sekolah. Tetapi, harus dapat mengadakan sendiri. “Untuk memperkaya ilmu diri itu melalui beli buku,” tandasnya.

Kabid termuda di Kemenag NTB ini menambahkan, guru harus mencintai profesinya. “Kalau ada cinta berarti harus siap berkorban,” ujarnya dengan nada diplomatis.

Demikian juga dengan kehadiran guru di madrasah, katanya, jangan sampai hanya mengejar finger print. “Cinta dengan madrasah bukan setelah finger print, lalu cepat-cepat pulang atau kabur dari madrasah,” ingatnya.

Untuk melengkapi profesionalitas seorang guru, sambungnya, harus tetap di madrasah dan berulang-ulang. Itu juga untuk meningkatkan kompetensi profesionalitasnya.

Karena itu, pada acara yang dihadiri juga Kasi Kurikulum Kanwil Kemenag Drs. H. Jalaluddin, M.Pdi, Zamroni mengingatkan guru-guru madrasah agar tidak menjadi guru karena dipaksa, terpaksa atau memaksakan diri.

Sisi lain dia mengimbau, apapun yang dilakukan guru agar didokumentasikan atau dipublikasikan. “Kita tidak cukup kata-kata saja tetapi bukti fisiknya tidak ada,” tuturnya. (nas)