Ustadz Zainuddin, S.PdI akrab disapa Ustadz Zen menyampaikan materi pada Dialog Tematik II yang digelar FKS “Oi Gentu” di Aula Kantor Desa Oo, Selasa (3/9). (zar/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Forum Keserasian Sosial (FKS) “Oi Gentu” Desa O’o, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, kembali menggelar dialog tematik. Pada Dialog Tematik II yang berlangsung di Aula Kantor Desa Oo, Selasa (3/9) ini mengangkat tema “Mereduksi Kenakalan Remaja untuk Menghindari Konflik Sosial Antarremaja”.

Sebelumnya, di tempat yang sama pada Agustus 2019 lalu, FKS yang diketuai Muhammad Jufrin, S.Pd, juga melaksanakan Dialog Tematik I dengan tema “Menangkal Pemahaman Radikalisme Berbasis Kekerasan.”

Tema dialog tematik kedua ini dinilai tepat dengan situasi dan kondisi saat ini. Sebab, belakangan ini konflik horizontal antarremaja, terutama di wilayah Dompu bagian timur, beberapa kali terjadi.

Karena itu, sesuai tema, Dialog Tematik II untuk mencari solusi atas maraknya konflik. “Dengan demikian, terjadinya konflik yang dipicu oleh kenakalan remaja bisa diatasi secara kolektif, baik oleh orang tua, sekolah, aparat, tokoh agama maupun elemen lainnya,” kata Ketua FKS “Oi Gentu” Muhammad Jufrin, S.Pd.

Jufrin (sapaan akrab Muhammad Jufrin) yang juga ketua panitia Dialog Tematik II ini, sempat mengutarakan tujuan utama terbentuknya FKS “Oi Gentu”. “Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan kehidupan yang serasi dan harmoni antarwarga masyarakat,” paparnya.

Dialog yang dibuka Kepala Desa O’o Wawan Wiranto itu menghadirkan beberapa pembicara dari institusi dan instansi pemerintah serta tokoh agama. Yakni IPTU Makrusabarudin (Polres Dompu) dan Kapten Inf Muhammad Yamin (Danramil 1614-01/Dompu).

Pembicara lain, Nurdin, S.Sos, MM (Dinas Kesbangpoldagri Dompu), Agussalim, SKM (Puskesmas Dompu Timur), Ustadz Zainuddin, S.PdI (Pimpinan Ponpes Utsman bin Affan) dan Hairudin, S.Sos (Dinas Sosial Dompu). Ditambah lagi Pendamping Keserasian Sosial Zam Zam.

Satu persatu para pembicara menyampaikan materinya. Ustadz Zainuddin misalnya. Pria yang akrab dipanggil Ustadz Zen itu menyebut tiga penyebab yang mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja.

Pertama, lemahnya nilai-nilai agama yang ditanamkan pada remaja atau generasi muda. “Akibat lemahnya nilai-nilai agama, mudah terpengaruh, terjebak dan terlibat dalam tindakan-tindakan justru merugikan diri sendiri dan orang lain,” tandasnya.

Kedua, pengaruh lingkungan pergaulan. Lingkungan pergaulan yang rusak, menurutnya, bisa membuat rusak para remaja. “Kalau anak bergaul dengan orang jahat, akan jahat. Bergaul dengan maling, akan maling. Bergaul dengan yang berprilaku jelek, akan jelek,” tandas Ustadz Zen.

Pria yang dikenal vokal dan kerap bersuara lantang itu mengaku heran dengan sikap sebagian orang tua saat ini. Menurutnya, kalau seekor kambingnya hilang, orang sekampung ribut dan sibuk mencarinya.

Ketua FKS “Oi Gentu” Desa O’o Muhammad Jufrin, S.Pd (sendiri, kiri) dan puluhan peserta Dialog Tematik II. (zar/lakeynews.com)

“Tapi kalau anak-anak mereka pergi, entah kemana tidak tahu, dengan siapa, melakukan apa saja, tidak ada yang perhatikan. Bahkan dibiarkan,” kritik Ustadz Zen.

Dan, ketiga, kenakalan remaja dipengaruhi medsos (media sosial). “Selain konten yang beredar di medsos yang di dalamnya kadang tidak baik bagi remaja, medsos juga membuat anak-anak mengabaikan hal-hal positif,” tandas Ustadz Zen.

Terkait dengan masalah-masalah tersebut, Ustadz Zen menawarkan beberapa solusinya. Diantaranya, terhadap para remaja perlu pencerahan dan pembinaan dari semua pihak, tanpa terkecuali. “Baik unsur pemerintah, sekolah (lembaga pendidikan), tokoh agama, tokoh masyarakat, orang tua, keluarga maupun masyarakat umumnya,” tegasnya.

Apalagi remaja yang tingkat kenakalannya sudah masuk “stadium empat”, menurut dia, harus terus dibina. Bahkan, perlu sesekali disikapi dan bertindak tegas sebagai bagian dari upaya pembinaan.

“Sebenarnya tidak ada nakal. Yang ada adalah anak butuh perhatian khusus dan serius,” papar Ustadz Zen.

Setelah satu persatu para pembicara menyampaikan materinya, dilanjutkan sesi tanya jawab. Antusiasme para peserta yang terdiri dari siswa SMA dan SMP, mahasiswa, pemuda dan masyarakat tampak begitu tinggi.

Pada sesi ini, secara bergilir sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan masukan hingga saran. Bahkan beberapa diantaranya melontarkan kritikan tajam. (zar)