Oleh: Muh. Fitrah *)

SEORANG mahasiswa STKIP Bima Th. 2017 diamankan kepolisian karena diduga menghina Suku Donggo. Kini kembali terjadi hal sama yang dilontarkan perempuan yang berasal dari Bolo dengan inisial ESN. Dalam status Facebooknya ESN menulis; “Dou Donggo Pama Mpa’a Tunti Dei Status FB eeeeeeeeee, Naharikai Kuba Lak…” (hanya orang Donggo yang menulis status di facebook, diketawai sama anj…g). Pengguna media sosial (netizen) terutama yang berdarah Donggo (keturunannya) menganggap apa yang ditulis itu adalah hinaan bagi Dou Donggo (masyarakat Donggo).

Muh. Fitrah (ist/lakeynews.com)

ESN itu tidak menyebut nama orang dalam statusnya, lalu mengapa ia dihujat terutama oleh netizen Donggo? Kenapa pula orang-orang memarahi dia lewat kicauan statusnya? Tapi ada hal lain yang sangat urgen ialah ia menyebut nama “Dou Donggo” pada statusnya.

Nah, disini ternyata problemnya. Nama Donggo adalah “sakral”. Bagi orang yang terlahir dari rahim dan darah Donggo, baik dari keturunan bapak atau ibu tentu hal ini ialah pukulan keras. Dan, bagi sebagian banyak orang yang pernah akrab dengan Donggo, menyebut nama itu sama halnya mengingatkan sebuah kenangan, mengingatkan kebermaknaan hidup, dan bahkan menyinggung kewibawaan dan atau harga diri.

Bagi Dou Donggo, nama bukan soal sebutan semata akan tetapi mengandung nilai yang amat dalam terutama hubungan sosial yang menunjukkan bagaimana mereka mengatur hubungan-hubungan pribadi. Misalnya, hubungan kekerabatan. Hal ini berkaitan dengan masyarakat Donggo (Dou Donggo) dan masyarakat Bolo (Dou Bolo).

Donggo, bagi banyak orang ialah sesuatu yang melampaui dari sekadar lokasi sejarah, budaya, bahkan tujuan wisata; “Situs Wadu Pa’a, Uma Leme, Kebun Kopi, Doro Leme, dan lainnya”. Nama Donggo ialah identitas suatu nagari di tanah Bima yang kian tua umurnya (hari lahir Bima beberapa waktu lalu yaitu ke-379 Th).

Nama “Donggo” yang berarti gunung yang tinggi. Walaupun demikian, buka dilihat dari gunung yang tinggi akan tetapi sejarah peradabannya. Ketika nama itu “dihina (dihujat)”, maka tidaklah heran orang-orang Donggo (Kaum Tani, Intelektual Muda, Jurnalis dan segenap Dou Donggo) di seluruh penjuru akan bergerak untuk melawannya serta memberikan pukulan keras dan tak pandang siapapun dia dan dari mana asalnya dia. “Donggo dengan sejarahnya soal gerakan sosial masa Era Orde Baru 1972”.

Merujuk dari hal itu, bahwa kondisi sosial Dou Donggo sesungguhnya memiliki keberanian yang khas dan terkenal menghargai orang tua, guru, dan menjunjung tinggi makna dari persahabatan. Kehidupan masyarakat Donggo di era ini sudah relatif sangat baik, seperti terlahirnya para akademisi baik bergelar Doktor (S3), Magister (S2), dan Sarjana (S1) pada tiap rumah Dou Donggo.

Falsafah hidup Dou Donggo selalu diidetikkan dengan rasa kekeluargaan dan sukuisme serta sifat gotong royong yang sangat erat. Hal ini bisa dilihat pula di Donggo terdapat penganut Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan yang terletak di Desa Mbawa dan Palama.

Hidup rukun, damai, saling menebar kasih sesama dan tak pernah mempersoalkan beda keyakinan. Hal itu menendakan bahwa sesungguhnya Dou Donggo sifat kearifan, pemaaf dan toleran sangat tinggi yang melekat dalam diri Dou Donggo “Living Moderate Islam Education in Donggo”.

Era kini, tua-muda, laki-perempuan tidak akan terlepas dari media sosial. Sebab keberadaan media sosial sesungguhnya telah banyak membuktikan dan dirasakan efeknya, baik (positif) maupun buruk (negatif). Andreas Kaplan dan Michael Haenlein (2010) dalam karyanya yang berjudul “Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media” menjelaskan bahwa jenis media sosial, yakni wikipedia, twitter, youtube, facebook, instagram, world of warcraft, & second life.

Media sosial selalu kita kenal dengan media online dan tentu saling menyapa dan berinteraksi dengan baik sesuai dengan nilai dan akal budi yang melekat (berpulang pada konteks user “privasi”). Medsos terlihat orang-orang yang menjalin persahabatan, saling share informasi, ide dan atau gagasan terkini dengan media sosial.

Era ini dan berkembangnya media sosial, akhirnya juga jadi media kritis “misalnya pemerintah”. Juga media saling hina maupun hujat, dan media untuk menyebarkan kebencian antara satu dengan yang lain, antara suku satu dengan suku lain. Kemarahan di balas kemarahan dan itu sering terjadi di medsos.

Sesungguhnya hal demikian terjadi dimana orang-orang sudah terisolir oleh medos itu sendiri. Akan tetapi di dunia nyata semakin terkikis dengan objektifitas serta kebijaksanaan dan perlahan diganti dengan subjektifitas dan sikap “sensitifitas cara penyelesaiannya.”

Facebook tentu kita semua mengenal dan melakoninnya dan telah mengubah cara orang-orang berkomunikasi dan berdialog. Seperti halnya kasus yang tiga tahun ini terjadi, khususnya kasus yang menghina Suku Donggo.

Permasalahannya ialah bagaimana seorang memberadakan diri dan ia menanggapi keberadaan orang lain, lingkungan serta dinamikanya. Ketika “kemarahan” dan atau terjadi “kebencian” telah berbentuk semacam “pemaklumat” di medsos, maka dengan segera dapat menyulut kemarahan dan kebencian lagi pada orang lain.

Saya kira ini terkait bagaimana cara pandang orang terhadap sesuatu yang dirasa memiliki ikatan, baik secara historis, sosio-kultural, politis-ideologis maupus psikologis. Mengikatkan diri secara kuat terhadap sesuatu bahkan dapat berujung pada “klaim” kepemilikan yang kemudian berkembang memunculkan semacam tanggung jawab penuh untuk menjaganya agar tetap natural dan baik adanya.

Jadi, menyingung sesuatu yang disakralkan itu, “Donggo” dan “Dou Donggo”, sama dengan menyinggung kewibawaan, harga diri, kenyaman diri, dan seolah-olah kehidupan sedang direnggut. Ditambah pula, ketika apa yang dianggap menghina, mengejek dan merendahkan itu kian dengan mudah disebarkan segenap netizen, maka sesuatu yang mungkin saja dianggap biasa saja dan atau permainan, akan tetapi diera digital ini menjadi sesuatu yang sungguh luar biasa dan bahkan dengan segera bisa menyulut “kemarahan” besar sebagai balasan.

Jadinya, gejala ini sesungguhnya lebih dari sekadar cara atau teknik orang-orang berkomunikasi di medsos, terutama tidak dibentuk oleh perangkat-perangkat digital yang belum lama menjadi bagian dari masyarakat. Situasi ini membuat masyarakat kita lebih menyukai “pembedaan” ketimbang merayakan “perbedaan” secara bijaksana.

Perbedaan agama, suku, ras dan termasuk pemikiran sepertinya lebih mudah diselesaikan secara emosional dan pada banyak kasus lainnya bahkan berujung kekerasan, ketimbang dengan penalaran akal, budi luhur dan hati yang jernih.

Apa gerangannya? Ini rupanya karena identitas cultural sedang dihayati secara ideologis menjadi simbol pembeda dengan orang lain. Maka, ini sesungguhnya ialah mentransformasi dan menempatkan emosi personal yang subjektif menjadi kesadaran cultural yang jauh lebih peka dan mampu memanfaatkan “medsos” dengan baik untuk menebarkan pesan-pesan moral serta kemanusiaan bagi keadilan dan perdamaian yang mencerahkan serta membahagiakan banyak orang. (*)

*) Penulis adalah Asli Dou Donggo-Dompu dan Dosen Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Bima.