Inikah ”Pendidikan Berbasis Lingkungan” Itu?

BIMA, Lakeynews.com – Siswa kelas 1 dan 2 SDN Tolonggeru, Desa Mbawa, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, mulai Tahun Pelajaran (TP) 2019/2020, pertengahan Juli ini, mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di halaman sekolah. Namun, sejak beberapa hari lalu, para peserta didik belajar di bawah tenda darurat beratapkan terpal yang dibuat pihak sekolah.

Kondisi bangunan, termasuk atap ruangan kelas 1 dan 2 SDN Tolonggeru yang lapuk dan kini terancam ambruk. (amd/lakeynews.com)

Pihak sekolah melaksanan KBM di luar kelas, karena kuatir peserta didik tertimpa bangunan yang sudah lapuk dan terancam ambruk.

“Kami takut anak-anak maupun guru tertimpa bangunan saat KBM berjalan. Sehingga, untuk sementara, kita buatkan tenda di luar sebagai tempat KBM,” kata Kepala SDN Tolonggeru Muuminah, S.Pd, pada Lakeynews.com.

Pantauan media ini di lapangan, kondisi ruang kelas 1 dan 2 begitu memprihatinkan. Kayu-kayu dan bangunannya sudah lapuk, genteng atapnya banyak yang berjatuhan.

Awal-awal masuk TP 2019/2020, anak-anak kelas 1 dan 2 belajar di halaman. Agar anak-anak tetap semangat dan enjoy belajar, diberilah istilah bahwa KBM tersebut adalah “pendidikan berbasis lingkungan”. Tak lama kemudian, pihak sekolah membuatkan, sehingga peserta didik lebih nyaman belajar.

Murid kelas 1 dan 2 SDN Tolonggeru, mengikuti KBM di halaman sekolah selama beberapa hari, sebelum dibuatkan tenda terpal. (amd/lakeynews.com)

Menurut Muuminah, sejak berdiri pada 1 Agustus 1964, baru sekali bangunan SDN Tolonggeru direnovasi. Yakni tahun 2007 dengan memakai atap genteng.

Saat ini, sekolah tersebut memiliki enam rombongan belajar (Rombel). Tiap kelas, satu Rombel. Khusus kelas 1 dan 2, selama ini hanya menggunakan satu ruangan yang disekat dengan tripleks. Sedangkan mulai kelas 3 hingg kelas 6, masing-masing menggunakan satu ruangan.

Beberapa tahun tahun terakhir, satu ruang kelas untuk kelas 1 dan 2 mengalami kerusakan. Namun, kondisi rusak parahnya terjadi mulai 2015.

Menurut informasi, pihak sekolah bersama warga setempat sudah beberapa kali menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak terkait dan beberapa pejabat pernah turun ke sekolah itu. Tetapi hingga sekarang, belum juga mendapat perhatian nyata.

Sudah beberapa hari peserta didik kelas 1 dan 2 SDN Tolonggeru belajar di tenda beratapkan terpal ini. (amd/lakeynews.com)

Yang paling dibutuhkan saat ini, dua ruangan kelas untuk kelas 1 dan 2. Satu ruang kelas, cukup merenovasi satu lokal yang rusak itu. Sedangkan satu ruang kelas lagi, dibangun baru.

“Untuk satu lokal ruang kelas baru (RKB), sudah kita bangun pondasinya dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Tinggal dinaikkan tembok dan atapnya. Itulah yang kita butuhkan sekarang,” pinta Muuminah.

Muuminah juga berharap, renovasi untuk satu ruang kelas dan kelanjutan pembangunan satu RKB segera dilakukan. “Bisa menggunakan APBD Perubahan Kabupaten Bima 2019. Atau, dana yang bersumber dari pusat, seperti anggaran bencana alam,” ujarnya. (amd/won)