Erkaem Award 2019 – Tribute To Pengsong

MATARAM, Lakeynews.com – Komunitas Gerakan Geriliya Kesenian Rumah Kucing Montong atau biasa disebut eRKaeM menggelar Erkaem Award 2019 Tribute To Pengsong. Kegiatan ini akan dihelat Minggu (30/6) di eRKaeM, Rumah Kucing Montong, BTN Montong Keadaton, Meninting, Kabupaten Lombok Barat.

Perupa I Wayan Pengsong dipilih Erkaem Award 2019 sebagai pengkarya yang akan dianugerahi penghargaan, Minggu (30/6). (ist/lakeynews.com)

“Erkaem Award merupakan program yang digagas sekelompok seniman di Lombok untuk memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada seorang pengkarya seni,” kata Yuga Anggana, pengelola aktif Komunitas eRKaeM, dalam rilis yang diterima Lakeynews.com, Rabu (26/6).

Menurut dia, banyak cara dalam mengapresiasi karya seni, tergantung sense of beauty yang dimiliki oleh setiap individu. Namun pada dasarnya mengapresiasi karya seni berarti menghayati, menentukan nilai, hingga mampu menyadari keindahan dari karya tersebut.

Meyadari keindahan dan menilai karya seni akan memunculkan respon, baik berupa kritik konstruktif maupun penghargaan empatik dari apresian terhadap pengkarya. “Hal itulah yang menjadi pertimbangan digelarnya Erkaem Award 2019 Tribute To Pengsong,” jelasnya.

Dikatakan Yuga, Komunitas eRKaeM telah membentuk tim kurasi dan menentukan siapa yang layak diberikan penghargaan. Bentuknya berupa apa saja sesuai kesepakatan. Misalnya, karya lukis, karya kriya, karya musik, atau bentuk lainnya.

Poin penting dari penghargaan tidak terletak pada siapa yang memberikan penghargaan, juga bukan pada bentuk fisik penghargaan yang diberikan. Namun, esensi dari kegiatan apresiatif tersebut bahwa betapa pentingnya kesadaran untuk menumbuhkan sikap saling menghargai.

“Erkaem Award 2019 memilih I Wayan Pengsong, seorang perupa sebagai pengkarya yang akan dianugerahi penghargaan,” paparnya.

I Wayan Pengsong lahir di Cakra Negara, Bali, 15 Desember 1943. Dia pelukis yang tinggal di Lombok. Kecintaannya pada bumi Lombok itulah yang membuat karya-karya lukisnya memiliki hubungan erat dengan arsitektur Lombok yang unik.

I Wayan Pengsong lebih dikenal sebagai seniman impresionis dekoratif. Beberapa karyanya menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia, sekaligus menjadi koleksi negara. Diantaranya, lukisan cat minyak pada kanvas berjudul Panen, 80 x 100 sentimeter, 1991. Karya lainnya, Pasar di Tepi Pantai, 103 x 135 centimeter, 1983. “I Wayan Pengsong meninggal pada Kamis, 11 Agustus 2016,” sambung Yuga.

Kegiatan dari Program Erkaem Award 2019 akan digelar Minggu (30/6).

Rencananya, Progran Erkaem Award 2019 Tribute To Pengsong ini akan dimulai pukul 13.00 Wita dengan beberapa rangkaian kegiatan. Antara lain, pameran seni rupa, pentas musik, pembacaan puisi, pentas teater monolog, pemutaran video dokumenter, diskusi hingga acara puncak yaitu pemberian penghargaan dari Komunitas eRKaeM kepada pihak keluarga I Wayan Pengsong.

eRKaeM melibatkan seniman-seniman besar dalam kegiatan Erkaem Award. Mereka adalah Ary Juliyant, Arief Firmansah, Sidzia Madvox, Paris Hasan dan Reva Adhitama yang berkontribusi mengisi Pameran Rupa, Kiki Sulistyo yang akan membacakan puisi dan Novrie Vie bermain teater monolog.

Selain itu, Suradipa dan Kelompok Musik Yoiakustik juga dilibatkan untuk mengisi pentas musik, Ridho Zikrimaula mengisi sesi pemutaran video dokumenter, serta I Wayan Geredeg dan Mantra Ardhana (kedua putra dari I Wayan Geredeg) yang akan mengisi sesi diskusi.

Program pemberian penghargaan terhadap pengkarya seni sering dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Dari skala kecil hingga penghargaan nasional. Sayangnya, di Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya Pulau Lombok tidak banyak terdengar tentang bagaimana seseorang, sekelompok, atau instansi tertentu memberikan penghargaan khusus pada bidang seni.

Melalui kegiatan Erkaem Award, eRKaeM hendak memberikan kritik konstruktif sekaligus stimulus bagi masyarakat dan instansi terkait. Ini salah satu cara mengapresasi kesenian yang kerap diabaikan di daerah ini. (tim)