MATARAM, Lakeynews.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tentang gelombang tinggi.

“Waspadai tinggi gelombang yang mencapai lebih dari dua meter di Selat Lombok Bagian Selatan, Selat Alas Bagian Selatan, Laut Sumbawa, Perairan Selatan Sumbawa, Samudera Hindia Selatan NTB, dan Selat Sape,” demikian peringatan BMKG Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok (BIL). (http://cuaca.ntb.bmkg.go.id/)

Terkait cuaca (suhu) dingin akhir-akhir ini, pihak Stasiun Meteorologi BIL menjelaskan, radiasi sinar matahari yang diterima bumi pada siang hari diteruskan kembali ke luar angkasa pada malam harinya.

“Karena tidak adanya tutupan awan, maka radiasi matahari akan diteruskan secara besar-besaran ke luar angkasa yang berakibat suhu menjadi dingin,” jelasnya di GWA Media dan bmkg.

Karena itu, masyarakat diingatkan agar selalu waspada terhadap perbedaan suhu pada siang dan malam hari. Masyarakat pesisir pengguna transportasi laut agar waspadai adanya gelombang tinggi di Selat Lombok Bagian Selatan, Selat Alas Bagian Selatan, Laut Sumbawa, Perairan Selatan Sumbawa, Samudera Hindia Selatan NTB dan Selat Sape.

Juga, Waspada Angin Kencang pada Puncak Musim Kemarau

Secara umum pada musim kemarau maupun puncak musim kemarau, pola pergerakan massa udara dan angin berasal dan datang dari sebelah tenggara (Australia).

Menurut Stasiun Meteorologi BIL, secara klimatologis dan normalnya pola tekanan udara di wilayah Australia lebih tinggi dibandingkan di wilayah Asia pada saat musim kemarau. Kondisi saat ini di wilayah Australia berkisar 1.012 mb, sedangkan di wilayah Asia berkisar 1.006 mb.

Selisih tekanan udara yang cukup besar itulah yang meningkatkan dan menguatkan tarikan massa udara dan kecepatan angin di sekitar Indonesia terutama di sebelah Selatan Khatulistiwa Indonesia, khususnya Nusa Tenggara.

Sifat massa udara bergerak dari daerah yang memiliki tekanan udara tinggi menuju daerah bertekanan lebih rendah. “Semakin tinggi selisih tekanan udara antara dua daerah, maka kecepatan gerak massa udara juga akan semakin tinggi,” paparnya.

Pada 21 Juni sekitar pukul jam 14.00 Wita, angin bertiup kencang di wilayah Bertais, Mataram. Angin ini bersifat lokal dan terjadi disebabkan adanya perbedaan suhu yang tinggi antara daerah dataran tinggi dan daerah dataran rendah.

“Hal itu, memicu pola sirkulasi angin secara lokal yang berhembus dengan kencang bersifat kering pada siang hari dan dingin pada malam hari,” urainya. (tim)