DI Desa Hu’u, kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, saya dan Tim Peneliti Sastra dan Tradisi Lisan dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang dipimpin Dr. Sastri Sunarti mewawancarai Abdul Malik H. Yusuf, ketua Pemangku Suku Adat Desa Hu’u dan adiknya Drs. Abdul Mared terkait kisah Gajah Mada di Dompu.

Nama asli Gajah Mada adalah Ndaja Daha yang akhirnya tersohor dengan Gajah Mada. Tetapi masyarakat setempat biasa memanggil dengan La Lenbo Ro’o Fiko atau La Lembo karena memiliki kuping lebar. Ayahnya meninggal ketika ibu La Lembo hamil tua. La Lembo lahir bersama sebuah cincin sakti. Kesaktian La Lembo sudah diketahui sejak kecil.

Setelah menikah dan memiliki putera yang bernama Idris, La Lembo berangkat ke Majapahit untuk membantu kerajaan itu berperang. Kesaktian La Lembo diketahui oleh Raja Majapahit dan dia dipanggil ke Istana.

Raja menawarkan dua hal kepada La Lembo jika dia mampu menaklukan musuh. Pertama, menggantikan kedudukannya sebagai raja. Kedua, mengambil semua hartanya dan ketiga menikahi puterinya. Lalu dijawab oleh La Lembo bahwa dia tidak menginginkan semua itu. Dia hanya ingin membantu dan menjalin persatuan antara sesama.

Maka La Lembo terjun ke medan perang. Dengan cincin dan keris saktinya, La Lembo mengalahkan musuh. Keris La Lembo memiliki lengkung tiga. Kerisnya bisa mengeluarkan api dan membakar musuh. Akhirnya La Lembo mampu menaklukan musuh kerajaan.

Raja sangat senang dan ingin mewujudkan janjinya. Namun La Lembo menolak karena harus kembali ke kampung halamannya. Raja mengirim 8 orang sakti menbuntuti La Lembo untuk mengetahui rahasia kesaktian La Lembo dan asalnya. La Lembo mampir di Kediri dan dialah yang menberi nama daerah itu Kediri sebagai persembahan kepada puteranya yang bernama Idris.

La Lembo menyeberangi selat Gili Manuk -Ketapang dengan mencelupkan keris saktinya. Dalam sekejap dia sudah sampai di Bali. Delapan orang sakti utusan Raja terus membuntuti. Namun ketika menyebrang ke Sumbawa, La Lembo sudah tidak dapat dilihat dan diikuti oleh 8 orang sakti itu. La Lembo mengisi hari tua dan meninggal di Dompu. (*)

Hu’u – Dompu, 19 Juni 2019
*) Penulis adalah budayawan dan sejarawan Bima.