Oleh: Damar Damhuji *)

SEBAGAI narasi awal saya, bahwa “Visi Bima RAMAH” adalah visi yang luar biasa bagus, meskipun dalam implementasinya tak sehebat makna yang ada di dalamnya. Apapun keadaannya, kita layak memberi apresiasi terhadap para penggagas yang melahirkan visi tersebut. Visi ini begitu ‘sempurna’ dari segi makna, yaitu Religius, Aman, Makmur, Amanah dan Handal.

Berbicara Visi Bima Ramah, tentu membuat nitizen gregetan untuk memberikan komentar terkait implementasinya selama kepemimpinan DILAN (Dinda-Dahlan) berlangsung. Tapi, harapannya, bahwa tulisan ini bertujuan mengajak semua pihak untuk menyumbang ide agar implementasi Visi Bima RAMAH ini bisa lebih optimal ke depan.

Kalau kita bedah Visi Bima RAMAH ini, kata-katanya adalah kumpulan beberapa konsep dasar yang luar biasa sebagai pondasi untuk membangun sebuah daerah yang maju dan menjadi impian masyarakat Bima. Bagaimanapun, kita semua mendambakan pribadi dan masyarakat yang Religius, mendambakan rasa Aman, mendambakan kehidupan yang Makmur, mendambakan rakyat dan pemimpin yang Amanah, dan mendambakan birokrasi dan tenaga kerja yang Handal untuk melayani dan membangun peradaban ‘Dana ro Rasa’.

Apakah kondisi ideal yang kita dambakan dalam visi tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda terwujud dalam implementasinya atau belum?

Jawabannya, sangat relatif. Tergantung siapa yang menjawabnya. Tapi kalau kita mau jujur, bahwa orientasi perioritas pembangunan di Kabupaten Bima tiga tahun terakhir tidak maksimal mencerminkan Visi Bima RAMAH. Argumentasi sederhananya adalah bahwa APBD yang digunakan tak sampai 30 persen yang mengarah kepada realisasi Visi Bima RAMAH (berharap agar bisa diperkuat dengan data).

Sesungguhnya, untuk mewujudkan Visi Bima RAMAH harus kita optimalkan melalui desain program kerja yang didukung oleh dana yang cukup, baik yang bersumber dari APBD maupun dari pembiayaan lainnya. Nah, apa saja program kerja dan berapa dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan Visi Religius, Aman, Makmur, Amanah dan Handal dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Dengan begitu kita dapat melihat dan mengukur hasilnya selama masa kepemimpinannya.

Misalnya, bagaimana kita optimalkan Visi Religius. Saya kira, untuk mewujudkan Visi Religius, tentu tidak cukup hanya dengan program pesantren sehari, membangun masjid, memberi bantuan untuk MTQ, memberi bantuan untuk kegiatan dakwah dan memberi penghargaan terhadap generasi berprestasi dalam bidang agama secara ‘esidental’. Tetapi harus lebih dari itu, seperti melahirkan kurikulum atau ekstra kurikuler pendidikan agama yang aplikatif, toleran dan moderat; mereformasi yayasan Islam, membangun pusat pendidikan agama Islam berbasis Masjid, membangun BAZDA/BAZDES yang profesional dan amanah; Melaksanakan Wajib belajar Al-Quran 12 Tahun; dll.

Berikutnya, bagaimana kita optimalkan Visi Aman. Saya kira untuk mewujudkan Visi Aman, tentu tidak cukup diserahkan kepada aparat kepolisian, polisi pamong praja, kelompok Pamswakarsa seperti ronda malam dan semacamnya, kepada Linmas yang ada di desa, dan tidak cukup dengan imbauan dan ajakan lisan.

Lebih dari itu, bagaimana kita melahirkan sistem keamanan terpadu dan berkolaborasi dengan semua pihak. Kita mengidentifikasi daerah-daerah rawan kejahatan dan kita tangani dengan baik. Kita harus berdiskusi melahirkan sistem untuk menurunkan kejahatan Narkoba, Curanmor, perjudian dan lainnya, yang didukung anggaran yang cukup.

Nah, untuk dapat mengoptimalkan Visi Bima RAMAH Jilid II nanti, sebelum dirumuskan untuk menjadi rancangan resmi RPJMD, maka perlu didiskusikan ulang secara matang oleh beberapa cendekiawan atau intelektual dari berbagai disiplin ilmu agar lebih komprehensif dan aplikatif.

Karena itu, saya usulkan beberapa nama yang akan merancang Visi Bima RAMAH Jilid II. Antara lain: Abdul Rauf, Zulchijjah Djuwaid, Khairul Anas, Asrul Raman, Bung Zepe, Bima Timur, Nurdin Micky, Amien Muhammad, Direktur LMPI, Egon Lantoedboy, dan Opick Al-Paradewa. Tim ini diberi nama TIM 11.

Terlepas dari sukses atau tidaknya implementasi Visi Bima RAMAH, yang jelas, bahwa kepemimpinan IDP-DMN masih dianggap on the track dan baik menurut para pendukungnya. Karena bagi masyarakat atau orang awam, ukuran kesuksesan seorang pemimpin tak semata dinilai dari bagaimana mengimplementasikan visi-misinya.

Masyarakat sangat sederhana melihat dan menilainya, cukup dengan melihat, bahwa jalan raya di desanya sudah baik, infrastruktur sudah baik, irigasinya sudah memadai, Safari Ramadhan ramai, dll. Disinilah peran akademisi atau Intelektual dibutuhkan, agar paradigma masyarakat tidaak lagi tersesat.

Tulisan ini, sejatinya hanya mengapresiasi Visi Bima RAMAH dari segi makna dan konsep. Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan dukung mendukung IDP-DMN dua periode dilanjutkan. Tidak ada kaitan dengan pasangan IDP-DMN pecah atau mencari pasangan lain untuk maju sendiri-sendiri. Juga tidak ada kaitannya dengan IDP harus mencari pasangan lain agar Visi Bima RAMAH bisa lebih optimal.

Jika partai politik dan rakyat menghendaki agar IDP mencari pasangan lain, misalnya IDP-DHS atau IDP-AR, mau tidak mau, ya harus mau dan layak kita apresiasi keputusan dan aspirasinya. (*)

*) Penulis adalah Dosen STKIP Bima.