Catatan: Sarwon Al Khan, Bima – NTB

Sebagian orang boleh saja menganggap bahwa di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, minim persoalan yang menimpa anak-anak. Atau, bisa saja pihak tertentu berusaha menutup-nutupi masalah anak di wilayah itu. Namun, faktanya, terkuak sejumlah kasus yang mendera anak-anak di salah satu kecamatan bagian utara Bima tersebut. Apa saja kasus dimaksud?

ADALAH Pekerja Sosial (Peksos) Perlindungan Anak yang ditugaskan Kementerian Sosial (Kemensos) di Kabupaten Bima Abd Rahman Hidayat, SST, yang mengungkap beragam fakta dan kasus anak di Donggo.

Temuan Dayat (sapaan Abd Rahman Hidayat) makin komplit setelah menjadi bagian dari “Dou Donggo” (orang/keluarga Donggo). Sejak beberapa tahun lalu, dia menikahi putri salah seorang tokoh Donggo yang juga mantan Kades O’o, A. Karim.

“Berdasarkan data yang saya miliki, tingkat permasalahan anak di Donggo cukup memprihatinkan,” cetus Dayat pada Lakeynews.com di Bima, beberapa hari lalu.

Data-data tersebut bahkan telah disampaikan Dayat secara terbuka dalam forum Penyuluhan dalam Rangka Peningkatan Pembangunan Kesejahteraan Sosial (Kessos) 2019 yang digelar Dinas Sosial Bima di Aula Kantor Camat Donggo, Selasa (28/5/2019).

Ketika mengungkap fakta-fakta itu, Dayat menegaskan, sumber permasalahan sosial (masalah anak) yang terjadi di Donggo itu antara lain, pola asuh dan kebiasan buruk sebagian orang tua. Dimana para orang tua tersebut sering mengabaikan anaknya dan berkata-kata kasar dengan melakukan stigma terhadap anaknya.

Selain itu dan paling penting dipahami, tergerusnya nilai-nilai budaya luhur Dou Donggo yang hilang, menambah buruk keadaan tersebut.

Mencuatnya beberapa kenyataannya itu, kontan saja mendapat tanggapan respon luar biasa dari peserta sosialisasi. Bahkan, beberapa tokoh dan unsur pemerintah desa begitu semangat dan antusias meminta Dayat untuk membuka semua permasalahan anak di wilayah itu.

“Ditantang” seperti itu, Dayat yang merupakan lulusan khusus sekolah kedinasan Kemensos pun meresponnya dengan mengungkap semua fakta yang diketahuinya.

Setelah menjawab dan memberikan tanggapan panjang lebar, Dayat menantang balik. Terutama kepada para aparat desa dan pemerintah desa se-Kecamatan Donggo diajak dan diminta agar “berani” menganggarkan dana desa untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Disamping itu, pengalokasian sebagian dana desa dimaksud, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menekan permasalahan sosial. “Yaaaa…. sekalian mengembalikan nilai dan budaya Dou Donggo,” imbuh Dayat. (*)