Muhammad Tahir : Harga Bawang Putih Tembus Rp. 48 Ribu per Kilo
BIMA, Lakeynews.com – Senyuman para petani bawang putih di Desa Sambori, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima dan sekitarnya, makin manis dan mekar. Mereka merasa senang dan bahagia. Betapa tidak, bawang putih yang selama ini harganya berkisar Rp. 10 ribu per kilo, sekarang sudah menembus Rp. 48 ribu.

Penangkar Bawang Putih “So Sipi” Desa Sambori, Muhammad Tahir (paling kiri) bersama perwakilan pihak terkait di lokasi pengumpulan bawang putih. (ist/lakeynews.com)
Taraf perekonomian petani bawang putih Sambori dan sekitarnya itu terangkat berkat Program Swasembada Bawang Putih dari Kementerian Pertanian (Kementan) sejak tahun 2017 (dan direncanakan) hingga 2021 mendatang.
Selain itu, para petani sangat terbantu oleh PT. Pertani (Persero), salah satu perusahaan (pihak swasta) yang menyupport berbagai kebutuhan petani mulai 2017 lalu.
Menurut Penangkar Bawang Putih “So Sipi” Desa Sambori Muhammad Tahir, bantuan dari PT. Pertani itu antara lain, bibit dan saprodi (pupuk dan obat-obat pertanian) gratis, serta sarana pendukung lainnya, seperti pipa air.
“Tahun 2019 ini, bantuan bibit dari pihak swasta untuk pengembangan lebih kurang 80 ton,” papar Tahir pada Lakeynews.com di Sambori, Kamis (30/5/2019).
Selain di Kecamatan Lambitu, wilayah pengembangan dimaksud, di Kecamatan Wawo, Langgudu dan sebagian wilayah Kecamatan Tambora.
“Tujuan Program Swasembada Bawang Putih ini untuk menstabilkan harga bawang putih. Selama ini, harga bawang putih petani ini kan hanya dipermainkan oleh para tengkulak,” tegas Tahir.

Penangkar Bawang Putih “So Sipi” Desa Sambori Muhammad Tahir. (ist/lakeynews.com)
Saat ini, tengkulak-tengkulak tidak bisa lagi bermain atau mempermainkan harga yang merugikan petani. Sekarang harga bawang putih di Bima, khususnya Desa Sambori dan sekitarnya sangat terbantu dengan bantuan dari pihak swasta, PT. Pertani (Persero).
Sebelum ada (masuk) Program Swasembada, harga bawang putih di Sambori hanya Rp. 10 ribu per kilo. Kalau para tengkulak senang, harganya bisa sampai Rp. 25 ribu per kilo.
Sekarang ceritanya sudah lain. Semenjak ada penangkar yang dikomandoi Muhammad Tahir, harga bawang putih petani naik drastis. Tahun lalu (2018), harganya meroket jadi Rp. 45 ribu hingga Rp. 48 ribu per kilo.
“Mudah-mudahan harganya tahun ini, minimal sama dengan tahun lalu. Bisa saja naik lagi,” tegas bapak dari lima anak (dua putra, satu putri) itu.
Sejak mengambil peran Penangkar “So Sipi”, Muhammad Tahir-lah yang menampung bawang putih para petani dengan harga sangat tinggi.
“Penangkar inilah yang mengembangkan dan menstabilkan harga bawang putih. Serta, mencari pihak swasta dalam hal ini Importir sebagai mitra kerja,” jelas pria yang dikenal humoris dan dermawan namun tegas itu.

Bawang putih petani Sambori hasil panen tahun lalu. (ist/lakeynews.com)
Kita ketahui, Program Swasembada ini hingga tahun 2021. Apakah selepas itu, petani bawang putih sudah bisa mandiri?
“Insya Allah pasti bisa mandiri. Kami sudah komit dengan para petani dan pihak swasta, termasuk dengan Dirjen Pertanian untuk mengejar ekspor bawang putih,” jawab Tahir sembari menambahkan, selama ini importir juga diwajibkan nanam 10 persen.
Sejauh ini, kata Tahir, penanaman bawang putih di Sambori masih dilakukan sekali setahun. “Tahun lalu kami pernah melakukan demplot ujicoba pada pra musim. Ada yang berhasil, ada yang tidak,” ujarnya tanpa merinci penyebab yang tidak berhasil.
Lebih jauh dijelaskan Tahir, potensi keseluruhan lahan pertanian Desa Sambori, sekitar 1600-an hektare. Dari luas itu, untuk produksi tanaman bawang putih tahun ini sekitar 500-an hektare.
“Itu meningkat dari tahun 2017 yang hanya 250 hektare. Tahun 2018 dibantu oleh PT. Pertani benih untuk 320 hektare,” jelasnya. “Tahun 2019 dibantu oleh Importir dengan benih 80 ton, sehingga luas untuk produksi meningkat menjadi 500-an hektare,” tambahnya. (tim/adv)
