MATARAM, Lakeynews.com – Bidang Keilmuan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat (DPD IMM NTB) menggelar Diskusi Kewirausahaan. Diskusi yang mengambil tema “Bangkitnya Pengusaha Muda Dalam Mewujudkan NTB Gemilang” berlangsung di Aula Lantai III Rektorat Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram, Jumat (24/5/2019).

Pengusaha Retail NTB Hadi Santoso, ST, MM, tampil sebagai pembicara dalam Diskusi Kewirausahaan. (ist/lakeynews.com)
“Saat ini, mahasiswa dituntut untuk mampu menciptakan lapangan kerja, mengingat semakin tingginya angka pengangguran di negeri ini. Sehingga, sebagai organisasi yang konsen pada penguatan insan akademis, kami terpanggil untuk memberikan pemahaman tentang dunia usaha,” ujar Ketua Umum DPD IMM NTB, Miftahul Khair melalui Ketua Bidang Kelimuan, Faidin.
Diskusi tersebut sengaja mengundang Pengusaha Retail NTB Hadi Santoso, ST, MM, yang juga pengurus KADIN. Hadi dianggap cukup menguasai seluk beluk dunia wirausaha.
“Kakanda Hadi Santoso sudah bergelut di bisnis lebih dari 10 tahun. Selain praktisi beliau juga akademisi dan aktivis berbagai organisasi profesi. Sehingga, terbukti diskusi tadi berlangsung cair dan penuh semangat,” jelas Faidin.
Sementara itu, Hadi Santoso, ST, MM, dalam materinya menjelaskan pentingnya para aktivisi IMM memahami dan menggeluti dunia bisnis, mengingat keistimewaan-keistimewaan yang ada dalam dunia usaha.
“Jumlah pengangguran semakin tinggi, karena sebagian motivasi mahasiswa kuliah justru untuk menjadi Job Seeker (pencari kerja, red). Karena itu, sejak sekarang mindset harus diubah menjadi Job Creater (pencipta pekerjaan, red). Ruang untuk menjadi pengusaha terbuka lebar, tanpa memandang basic keilmuan pelakunya,” jelas Hadi.
Menurut Direktur Sentral Muslim Group itu, syarat menjadi pengusaha harus fokus, konsisten, kreatif, jaringan luas, komunikatif dan mengembangkan jiwa kepemimpinan. Semua kemampuan itu bisa dipupuk, jika mahasiswa mau serius mengembangkan dirinya di organisasi kemahasiswaan.
“Jika kita bisa sukses memimpin organisasi nirlaba seperti IMM, HMI, BEM dan lainnya, hampir bisa dipastikan kita akan lebih sukses memimpin organisasi laba/bisnis. Karena di perusahaan kita langsung menggunakan pendekatan ekstrinsik berupa gaji. Sementara di organisasi kemahasiswaan kita hanya menggunakan motivasi intrinsik untuk menggerakkan pengurusnya,” imbuh Korwil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bali-Nusra ini.
Selain itu, dengan berbisnis secara otomatis dapat mengurangi beban negara dan mendorong kemandirian kemandirian generasi. “Tidak ada kemandirian politik tanpa kemandirian ekonomi,” tegasnya.

Para peserta tampak antusias mengikuti diskusi kewirausahaan yang digelar DPD IMM NTB. (ist/lakeynews.com)
“Hari ini, bangsa kita masih bisa dikatakan terjajah secara ekonomi. Industri-industri besar termasuk dunia pertambangan dan manufakture besar di dalam negeri, masih dikuasai pihak asing,” jelas Hadi.
Menurutnya, itu terjadi karena sangat rendahnya jiwa wirausaha dari generasi muda. Padahal, aset sumber daya alam (SDA) bangsa Indonesia sangat besar. Namun, tidak banyak yang mau dan mampu mengembangkan diri untuk tampil mengolah SDA dan potensi bisnis tersebut.
“Jadi, saatnya kita tampil menjadi tuan di negeri sendiri, dengan serius dan berkomitmen menjadi pengusaha sejak dini. Sehingga, NTB Gemilang, benar-benar bisa terwujud di tangan anak-anak muda NTB,” tandas Hadi. (zar)
