Dr. H. Ghazaly Ama La Nora, SIP, M.Si (kiri) bersama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Dr. Hamdan Zoelfa. (ist/lakeynews.com)

Setelah Masrin, 28 tahun, berlatar belakang miskin meraih gelar doktor pada 2016 lalu, kini satu lagi anak bangsa asal etnis Donggo yang sukses mencapai gelar tertinggi akademis itu. Dia adalah Dr. H. Ghazaly Ama La Nora, SIP, M.Si yang menggapai gelar tertinggi studi doktoral Bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid Jakarta. Pria yang pernah menjadi tukang masak, penjual keliling obat gosok, minyak kayu putih, serta pemungut dan penjual paku bekas di kawasan DKI Jakarta.

============

CAPAIAN itu tidak diperolehnya begitu saja. Namun melalui perjuangan sangat panjang dan melewati tantangan luar biasa. Bahkan hampir saja putus asa saat berusaha keras menyelesaikan studi S3-nya. Mengapa?

Bertapa tidak. Dr. Ghazaly merupakan angkatan 2010. Artinya, delapan tahun baru mampu dia tuntaskan pendidikan doktoralnya. Ini terkendala oleh rutinitasnya sebagai Dosen Komunikasi di Universitas Mercu Buana, Jakarta dan beberapa perguruan tinggi lain.

Dalam pidato promosi doktor beberapa waktu lalu, pria yang sebelum menjadi dosen berprofesi sebagai wartawan (senior) mengungkapkan, dia selalu mengadvokasi masyarakat, media, pekerja jurnalis, calon presiden dan pemerintah agar tetap berada dalam ranah etika profesionalitas.

“Masyarakat harus cerdas mengonsumsi isi berita karena dalam berita ada muatan ideologi dari pekerja media dan industri media. Jangan tergantung satu media yang dianggap paling sesuai perspektif pembaca, tetapi konsumsi juga dari media lain. Bisa juga media sosial agar punya alternatif sumber dan alternatif opini,” ujarnya.

Bagi media, kata Dr. Ghazaly, berita itu bukan semata-semata komoditas bisnis, namun informasi yang objektif dan jujur. Orientasi industri media tidak bisa hanya keuntungan finansial dengan mengorbankan kepentingan masyarakat.

Karena itu, ayah dari lima anak dan tujuh cucu meminta pada pekerja media (jurnalis) agar terus belajar dan konsisten berpihak pada profesi yang menjunjung tinggi etika profesional. Ketika merasakan ada tekanan dari ruang redaksi, bahkan termasuk dari pemilik sekalipun, jurnalis harus bisa meniti buih dan tetap profesional melaporkan peristiwa berbentuk tanggung jawab kepada masyarakat.

Dosen eksentrik itu kemudian mengingatkan baik calon presiden petahana maupun kandidat baru perlu menempatkan media pada posisinya yang benar. Media adalah mediator penghubung Capres dan Cawapres dengan warga calon pemilihnya.

Media mesti menyajikan informasi yang sahih berdasarkan fakta. Bukan informasi sampah bersifat insinyuasi/hisapan jempol belaka. Informasi sahih dan benar akan mencerdaskan. Bukan justeru membelah warga, karena kebanyakan warga terlalu peduli untuk memeriksa kebenaran informasi. “Warga justeru bisa menjadi agen penyebar kebenaran, bukan ikutan menyebar ujaran sampah yang menimbulkan permusuhan,” tegasnya.

Jenis informasi sampah, lanjut Dr. Ghazaly, akan bertemu sifat dasar industri media yang melakukan komodifikasi. “Inilah yang akan melululantahkan kesatuan masyarakat yang sangat susah dipulihkan jika sudah telanjur hancur,” tandasnya.

 

Pernah Nyelinap Masuk Toilet Kapal Badung

 

Berawal pelarian ke Jakarta, 1970. Itu dua tahun sebelum meletus Peristiwa Donggo 1972. Diam-diam Ghazali kecil, menyelinap masuk ke Toilet Kapal Badung (salah satu kapal laut). Setelah melewati Teluk Asa Kota, baru keluar membaur dengan penumpang lain, seolah-olah baru usai BAB (buang air besar).

Abang iparnya, Yahya Usman dan isteri Fatmawati yang tengah istrahat di dek kapal terperanjat melihatnya seraya berkata, “Astagfirullahal’adzim. Dari mana kamu? Na made ra ina wa’imu ro ibu-bapmu nggomi (Bahasa Bima: Mati sudah nenekmu dan ibu/bapakmu, red). Nekad banget kamu,” tuturnya di hadapan penumpang lain.

Dr. H. Ghazaly Ama La Nora, SIP, M.Si, saat pidato promosi doktornya beberapa waktu lalu. (ist/lakeynews.com)

Ghazaly kecil hanya tertunduk membiarkan omelan itu berlanjut. Tapi dalam hatinya bergumam: “Rasain saya kerjain kamu orang. Waktu di Donggo saya minta baik-baik untuk ikut malah dimarahi.”

Tiba di Jakarta, numpang di rumah pamannya, Hamzah Hasan, guru di SMP Negeri 88 Slipi, Jakarta Barat. Karena sampai di Jakarta berpasan tahun ajaran baru daftar murid baru, maka Ghazaly pun ikut didaftar oleh paman ke SMP Muhamadiyah Slipi Blok B Jakarta Barat. Guru di sekolah itu mayoritas asal Bima.

Angkatan pertama dengan tiga orang murid, Kholil, Ghazaly dan Abdul Manan. Tahun kedua setelah naik kelas tidak mampu bayar sekolah karena pendapatan jadi tukang parkir liar tidak bisa menutupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah. Akhirnya Ghazaly mencoba cari pekerjaan lain. Tapi karena masih kecil, orang tidak ada yang mau menerima lamarannya.

Pada suatu ketika dia lapar. Dam-diam Ghazaly masuk kamar tidur paman mengambil pulpen jenis Pilot dalam kantung baju paman dan menjual di tukang loak pinggiran Rel Kereta Api Tanah Abang, bersama sahabat Iqraman Deo (alm). “Uang hasil jualan digunakan buat makan kami berdua dan membeli keris kecil,” kisahnya.

Pulang ke rumah rupanya sudah punya firasat tidak orang lain yang berani masuk kamarnya kecuali dirinya. “Benar juga, begitu melihat kami paman memanggil dengan santai. Ayo ke sini sebentar saya mau ngomong,” panggil pamannya.

“Saya sudah punya firasat bakalan kami dimarahi, sementara pasang strategi meminta supaya masuk rumah terlebih dahulu. Kemudian saya menyusul. Bagaikan gayung bersambut begitu Iqraman, masuk pintu langsung disambut bogem mentah sang paman. Melihat Iqraman dihadiahi bogem tidak berpikir panjang lagi balik kanan terus lari tunggang langgang melarikan diri ke Kota Beos, terus masuk ke Pasar Ikan Jakarta Utara,” kenang Ghazaly.

Di sini, di Jakarta Utara, Ghazaly keluar-masuk warung-toko melamar pekerjaan yang berujung pada diterimanya menjadi Pakolo (tukang masak) di perahu layar orang Bugis di bawah Nahkoda Puang Abdullah, di Pasar Ikan Jakarta Utara. Selama dua tahun berlayar pulang pergi Pasar Ikan Jakarta Utara -Sungai Lumpur Sumsel, berhasil mengumpulkan uang dari gaji bulanannya. Kemudian turun ke darat dan melanjutkan sekolah.

“Saat itu, paman kaget dan pangling melihat saya sudah berubah baik fisik maupun prilaku. Kami berpelukan campur haru dengan paman seolah-olah menyesali apa yang telah terjadi dua tahun lalu,” ucapnya.

Tahun ajaran baru dirinya kembali aktif sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) Kampung Kecil Kebayoran Lama. Siangnya sekolah SMP Al Falah, Lantai Masjid Al Falah Jalan Masjid I Pejompongan Jakarta Pusat.

Untuk biaya sekolah Ghazaly harus menjual keliling minyak kayu putih dan minyak gosok. Juga memungut paku bekas sepanjang jalan rel kereta api Pejompongan – Kebayoran Lama selama perjalanan menuju sekolah PGA Al Islamiyah Kapung Kecil. Penjualan dilakukan malam hari ke Diskotik, Night Club dan hotel.

“Alhamdulillah laris juga jualan. Ya, cukup buat makan, hingga biaya bulanan sekolah hingga kuliah di Sekolah Tinggi Punlisistik (STP) Gedung Canisius, Menteng Raya, Jakarta Pusat,” katanya.

Sepulang jualan tidur di Mushalla Al Mukaram, Gang Tahiyat Slipi Kelurahan Gelora RT. 008/RW. 01, dekat rumah paman. Sabtu-Ahad, peluang untuk menjajakan keliling minyak kayu putih dan minyak gosok bisa mengantongi keuntungan lumayan.

Sampai sekarang, rekam jejak itu ia merentangkan benang merah perjuangan hidup awalnya bersama adik-adiknya; Haidun, Sulaiman dan Ijma mendirikan CV. Sari Bumi Sakti.

Khusus raw material minyak kayu putih dan minyak gosok dikelola secara profesional oleh Ijma. Bahkan sudah memiliki karyawan serta cabang penyilingan di Banten dan Bogor, Jawa Barat, beromzet puluhan juta rupiah tiap bulan.

Minyak kayu putih dan minyak gosok produksi CV. Sari Bumi Sakti, berizin Balai POM (Pengawasan Obat dan Makanan), hak paten dari Departemen Kehakiman Republik Indonesia Tangerang Banten.

Setelah tamat S1, dari penjual kayu putih beralih profesi menjadi pekerja media (jurnalis), sambil kuliah S2 dan mengajar di SMP/SMA swasta, dosen Univ Azzahra, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Seiring perjalanan waktu, setelah tuntas kuliah S2, Ghazaly mengajar di Univ Mercu Buana, Jakarta Barat hingga sekarang.

Sejak 2010 lalu menunaikan studi S3 di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta. September 2018 ini tuntas. Tepatnya, beberapa hari lalu, telah berlangsung Sidang Terbuka Promosi Doktor Bidang Ilmu Komunikasi untuk putra salah satu pejuang Donggo, KH Abdul Majid Bakry itu. (tim)