Massa FPR saat ditemui dan berdialog dengan Kabag Humas dan Protokol Setda Dompu Ardiansyah, SE, di pintu gerbang selatan. (poris/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Puluhan orang yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Kabupaten Dompu melakukan unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional ke-58. Massa aksi menyampaikan aspirasinya depan gedung DPRD dan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dompu, Senin (24/9/2018).

Massa menuntut penghapusan pupuk non subsidi dan memperbanyak pupuk bersubsidi, turunkan harga bibit jagung pestisida untuk para petani, naikan harga jagung dari Rp. 3.250 menjadi Rp. 5.000 per Kg. Mereka juga menuntut kenaikan harga bawang merah dan usir PT. SMS yang dinilai merampas tanah rakyat.

“Kabupaten Dompu merupakan daerah penghasilan jagung terbaik di Indonesia. Kenapa masih terjadi kelangkaan pupuk? Kenapa harga pupuk mahal? Kenapa terjadi perampasan tanah dilakukan perusahaan? Artinya Dewan Perwakilan Rakyat harus mampu mengawal dan mendorong pemerintah daerah agar segera meninjau kembali apa yang menjadi aspirasi rakyat,” teriak Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Ilham Apriliwijaya di atas mimbar orasi.

Menurutnya, para petani sudah ditipu. Pemerintah dan DPRD seolah menutup mata dengan apa yang menjadi keluhan para petani.

“DPR harus memanggil pihak pertanian agar melakukan pengawasan kembali, terutama terjadi penyelundupan pupuk di berbagai pihak, dari distributor 1, distributor 2 bahkan sampai pada pengecer ini tertipu. Pemerintah daerah tidak pro terhadap kelas tani, tidak pro terhadap kepentingan rakyat, ketika di beberapa desa terjadi variasi harga pupuk, di mana peranan DPR selaku perancang undang-undang,” kesalnya.

Meski massa sudah melakukan orasi secara bergantian, sejumlah anggota DPRD tidak ada satupun yang keluar dan menemui massa aksi untuk memberikan keterangan.

Massa melanjutkan aksi dan orasinya di depan kantor Pemkab Dompu. Mereka menyampaikan aspirasinya terhadap orang pertama di Bumi Nggahi Rawi Pahu, Drs. H. Bambang M. Yasin

Di depan kantor Pemda, massa aksi melakukan orasi kurang lebih satu jam namun bupati tak kunjung menemui mereka.

Massa ditemui Kabag Humas dan Protokol Setda Ardiansyah, SE, di pintu gerbang. Pria uang akrab disapa Simpe Dian itu berjanji akan menyampaikan ke Bupati Dompu apa yang menjadi tuntutan massa tersebut.

“Apa yang menjadi tuntutannya FPR terutama kaitan dengan bibit jagung, pupuk bersubsidi, harga jagung, bawang merah. Kaitan dengan PKL, Bulog, Perusda yang diminta difungsikan untuk menjaga produksi yang lebih baik, hentikan desinasi petani, jalankan reformasi agraria, usir PT. SMS dan lain sebagainya, akan saya sampaikan pada pimpinan,” janji Simpe Dian. (pis)