Oleh: Ihlas Hasan )*

 

Ihlas Hasan. (ist/lakeynews.com)

DARI Istana hingga pemukiman kumuh, aroma politik tercium menyengat. Bak wangi bawang goreng di etalase Warteg di sudut ibu kota. Hubungan rakyat dan para Calo(n) Presiden, Gubernur, Bupati, Legislatif, dan sejenisnya terjalin rapi, nyaris tanpa hijab. Tampak mesra dan begitu sangat intim. Tak diundangpun mereka datang, menyisir pemukiman warga, dari kawasan elit hingga ke bilik gubuk lusuh di tepi sungai sekalipun.

Datang menawar visi, membuat janji hingga berbagi Sembako. Isinya ada gula, minyak goreng dan sabun colek. Ohh sorry, satu lagi, mie instan. Mereka paham betul, level tertinggi kebutuhan emak-emak di sudut-sudut Kampung(an), yang dapurnya kadang tidak berasap.

Sementara untuk anak-anak, cukup disuguhi nasi bungkus berikut kaos yang bagian depannya berlogo foto Calo(n) lengkap dengan at(ribut) Parpol. Sampai di sini, perkara selesai. Tinggal menunggu di TPS terdekat.

**
Tuan dan Puan yang berbahagia, apa yang diuraikan di atas adalah ringkasan potret –realitas sosial (social reallity) sekaligus cerita pembuka dimulainya praktek eksploitasi rakyat demi kepentingan politik praktis. Laku politik semacam itu sudah menjadi budaya di negeri ini, bahkan kian akut. Untuk menggali lebih dalam tentang laku “sadis” para elit politik, mari kita coba periksa satu persatu.

Pertama-tama kita perlu petakkan terlebih dahulu, ada 2 (dua) segmen ‘empuk’ yang menjadi objek eksploitasi para politisi ‘raja tega’. Kelompok pertama adalah anak-anak dibawah umur (childlhood), tuna aksara dan anak-anak miskin dan telantar. Dan kelompok kedua adalah masyarakat miskin (grass root) alias kelompok marginal.

Dalam narasi politik praktis, kedua kelompok tersebut dikanalisasi menjadi alat kampanye politik yang paling menggiurkan. Mereka menjadi bahan baku dalam menyajikan menu iklan politik. Mereka hanya dibutuhkan saat momen politik, dan akan tenggelam setelah dramaturgi politik usai.

Anak-anak adalah obyek material yang sangat rentan dan sering dieksplositasi. Politisi yang dekat dengan anak-anak miskin diasosiasikan seolah-olah berhati lembut, rendah diri, dan memiliki keberpihakan yang besar terhadap pendidikan anak. Juga seakan-akan memiliki visi membangun sumber daya manusia (SDM) di masa mendatang. Sialnya lagi, media bayaran (oknum) juga ikut berkonstribusi mem-blow-up skenario fiktif semacam ini, sehingga tercipta sebuah kondisi yang seakan-akan benar, padahal semuanya palsu.

Anak-anak yang nasibnya belum beruntung; miskin/telantar yang menggantungkan hidup sebagai buruh pasar, mengadu nasib di terminal bus, dan mengais rezeki di tengah sesaknya pelabuhan kapal, kerap menjadi alat pencitraan.

Modusnya, anak-anak diajak berselfie bareng, duduk bareng, makan bareng. Semuanya didokumentasi dengan rapi. Esoknya dokumen itu akan muncul dalam wujud baliho (misalnya) dengan ukuran 5 x 10 meter yang dipajang di gapura-gapura pintu masuk desa. Setelah itu ditinggalkan.

Selain itu, pada momentum kampanye, anak-anak menjadi massa penentu yang ikut dilibatkan dalam event mobilisasi massa saat kampanye di lapangan terbuka. Hal ini dilakukan demi menyuplai dukungan pada calon tertentu agar terlihat membludak dan ‘wah’. Na’udzubillah!

Sementara kelompok masyarakat marginal (grass root) alias kaum papa, adalah kelompok yang nasibnya paling sial. Kelas sosial yang jarang mendapatkan keberpihakan dari para elit. Bahkan kelompok seperti ini ditengarai memang sengaja dicipta dan dirawat agar terus melarat. Karena mereka dianggap sebagai ‘komoditi’ yang paling menjanjikan saat event politik itu tiba. Mereka menjadi back ground kampanye. Modusnya operandinya sama; berselfie bareng, duduk bareng, makan bareng, pura-pura berempaty mereka, setelah itu lalu ditinggalkan. Nahas memang nasib mereka.

**
Tuan dan Puan yang berbahagia, di ruang maya yang penuh sesak ini, perkenankan saya menyampaikan 2 (dua) peristiwa penting yang dapat dijadikan hikmah bagi kita bersama.

Pertama adalah kejadian saat acara Care Free Day (CFD) di Jakarta beberapa waktu lalu. Seorang ibu dan anak yang ‘diperankan’ menjadi korban persekusi oleh oknum tertentu yang mengenakan kaos #2019GantiPresiden. Awalnya masyarakat terkecoh. Banyak yang menyayangkan sikap oknum yang tega mengumpat ibu dan anak di ruang publik. Bahkan ‘korban’ pun akhirnya melapor ke polisi. Dukungan dan empati publik terus mengalir kepada ibu dan anak itu.

Namun belakangan diketahui, ternyata itu hanya settingan kelompok tertentu. Mereka bikin skenario sendiri, aktornya sendiri, ribut sendiri, lapor sendiri, lalu heboh sendiri.

Lepas dari kepongahan orang dewasa, pada kejadian itu ada anak di bawah umur yang menjadi korban rekayasa politik mereka. Bayangkan saja, bagaimana anak itu diskenariokan agar bisa berbohong di hadapan publik, pura-pura takut lalu menangis. Bukankah itu petaka bagi pembentukan karakter anak di masa yang akan datang? Ini benar-benar dieksploitasi. Astagfirullah hal’adzim.

Kedua, hikmah yang bisa ambil adalah insiden Monas yang menewaskan 1 (satu) orang bocah belia. Cukuplah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Acara bertajuk ‘Pesta Rakyat’ yang berujung maut adalah sejatinya modus politik para elit yang menggarap dan mengeksploitasi anak dan kelompok marginal demi kepentingan politik sesaat. Sekali lagi ini penting dan harus dicatat dalam lembaran sejarah demokrasi kita, betapa anak dan kemiskinan menjadi agenda setting bagi kaum kapitalis dan para elit politik ‘raja tega’.

Tuan dan Puan yang berbahagia, menutup coretan ini, saya sarankan kepada kita semua. Silahkan berpacu merebut hati rakyat, tetapi mohon berhentilah mengeksploitasi anak-anak dan kaum marginal. Izinkan anak-anak tumbuh normal dalam ruang sosial yang sehat dan netral. Beri ruang kepada mereka agar hidup tanpa tendensi mencari kepentingan sesaat. Masa depan mereka masih panjang. Baiknya berbuatlah secara tulus untuk masa depan mereka. Beri mereka kesempatan menjadi anak sekolah yang baik. Masih banyak cara politik yang jauh lebih sehat dan bermartabat.

Bangun politik gagasan, politik yang menempatkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Berdirilah bersama rakyat kapan dan di mananpun saat mereka membutuhkan pertolongan dan keberpihakan. Saya yakin Tuan dan Puan akan senantiasa berada di hati rakyat dan selamanya akan berdiri kuat bersama rakyat.

Sekali lagi saya ingatkan, mengeksplotitasi anak dan kaum marginal adalah cara jahat dan menjadi dosa sosial yang tak dapat diampuni. Jangan sampai! Wallahu’alam!!! (*)

 

)* Penulis adalah Ketua Pemuda Muhammadiyah Dompu.