Dr. Nuril Furkan, M.Pd. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Ketua Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Al Amin Dompu, Drs. H. Muhammad Amin, MM mengungkapkan, peran dan dukungan pemerintah daerah terhadap eksistensi sebuah pendidikan tinggi di daerah sangat penting. Namun dukungan dan bantuan tersebut belum dirasakan juga oleh STAI/STKIP Al Amin Dompu.

“Kendati demikian Al Amin tetap eksis di mata masyarakat,” ungkap H. Muhammad Amin, pada Rapat Senat Terbuka dan Wisuda Program Strata-1 di Aula Gedung Serbaguna Montabaru Dompu, Sabtu (14/10/2017).

Lebih lanjut laki-laki yang akrab disapa Ama Emo ini mengakui, di daerah lain seperti Bima, perguruan tinggi tetap mendapat kontribusi dari pemerintah daerah, sementara Dompu belum memberikan bantuannya. Dan, sejak berdiri 13 tahun lalu, Al Amin telah mewisuda lebih dari 3600 mahasiswa menjadi sarjana.

“Terlalu bodoh pemerintah kalau tidak merespon upaya yang telah kita lakukan selama ini untuk masyarakat. Untuk membantu masyarakat, kita hanya tetapkan SPP Rp. 700 ribu per semester. Ini SPP paling murah,” ungkap Amin.

Ketua Yayasan Al Amin ini juga menyayangkan, adanya SDM-SDM daerah ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh daerah ini. Ia menyontohkan DR. Nuril Furkan, M.Pd, yang kini “hengkang” ke Jakarta. “Orang-orang potensial di depak dari daerah ini,” akuinya.

Nuril Furkan pada sesi orasi ilmiahnya sempat berkisah tentang sejarah perjalanan Al Amin yang lahir dari suka dan duka serta jerih payah. “Sejak awal ketika kami sama-sama jadi guru MTs Negeri Dompu. Semangat H.M. Amin harus disambut dengan baik untuk untuk daerah ini,” katanya.

Doktor karakter ini berbicara tentang Revitalisasi Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan SDM yang Berkualitas dan Berkarakter di Perguruan Tinggi (PT).

Diakuinya, upaya yang dilakukan Al Amin dengan SPP yang murah adalah langkah konkret dalam membantu mayarakat yang kurang mampu membayar biaya pendidikan tinggi di namun tetap mengedepankan kualitasnya.

Lebih lanjut doktor yang kini bekerja di Kemenristek RI ini menyebut, tantangan pelaksanaan pendidikan karakter di PT antara lain; dari pelaku pendidikan di PT, tantangan dalam kebijakan di perguruan tinggi, dan tantangan lingkungan dan globalisasi teknologi dan informasi.

“Perguruan tinggi tidak boleh lepas tanggung jawab dengan alasan apapun termasuk menganggap bahwa karakter sudah terbentuk sebelum mahasiswa masuk perguruan tinggi,” katanya.

Maka, komponen yang berperan dalam revitalisasi pendidikan karakter di perguruan tinggi katanya, lingkungan PT, hubungan antara civitas akademika PT, unsur pimpinan PT, dan dosen di perguruan tinggi.

Implementasi pendidikan karakter di PT yakni kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler atau kemahasiswaan. “Pendidikan karakter yang efektif di PT diharapkan dapat mendorong mahasiswa menjadi intelektual muda yang memiliki kepribadian unggul dan berkatakter,” harapnya. (nas)