Suriadin: Untuk Rakyat, tidak Ada Pilihan, Saya Lakukan Apapun Risikonya

Melakukan tindak pidana, iya. Terbukti melanggar hukum dan dipenjara, iya. Namun, tindak pidana dan pelanggaran hukum dia lakukan semata-mata untuk membela dan memperjuangkan kepentingan desa dan rakyat yang dipimpinnya. Setelah menjalani hukuman kurungan, kini dia bebas, bahkan sudah langsung aktif kerja.

Kades Madaparama, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Suriadin, S.Pd (baju putih di kursi), disambut penuh haru dan bahagia oleh warganya. (sarwon/lakeynews.com)

===========

ADALAH Kepala Desa (Kades) Madaparama, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Suriadin, S.Pd. Kades termuda di Bumi Nggahi Rawi Pahu itu, harus berurusan dengan hukum hingga menyandang status narapidana (Napi) karena kasus pemalsuan tandatangan.

Kasus ini terungkap setelah dilaporkan elemen masyarakat di Polres Dompu, beberapa bulan lalu. Sejak proses di kepolisian, Kejaksaan Negeri (Kejari), dalam persidangan hingga vonis di Pengadilan Negeri (PN) Dompu, Suriadin secara jantan mengakui perbuatannya.

Suriadin dinyatakan terbukti memalsukan tandatangan Sekdes Madaparama (saat itu) Mahdon M. Ali dalam Peraturan Desa (Perdes) APBDes 2016.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Subaid SH, MH (wakil ketua PN), didampingi dua anggota majelis, Sahriman Jayadi, SH, MH dan Ni Putu Asih Yudiastri, SH, MH, di PN Dompu pada Kamis (7/9/2017) lalu Suriadin divonis 60 hari (2 bulan) penjara kurungan.

Vonis tersebut lebih ringan 15 hari dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Taufikurrahman, SH dan Catur Hidayatullah, SH. Sebelumnya, JPU menuntut Suriadin 2 bulan 15 hari (75 hari). Namun kuasa hukumnya, Supardin Siddik, SH, MH, dalam pembelaan meminta kliennya 1 bulan 15 hari (45 hari).

“Oleh majelis hakim, beliau (Kades Karamabura, red) divonis 60 hari (dua bulan),” kata Supardin pada Lakeynews.com, di kediaman Suriadin.

Menurut dia, kliennya didakwa melanggar pasal 263 ayat 1 junto 263 ayat 2. “Tapi yang terbukti pasal 263 ayat 1, pemalsuan surat,” tandas pegacara muda ini.

Suriadin menghirup udara bebas pada Sabtu (9/9/2017), sekitar pukul 09.25 Wita. Saat keluar dan meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Dompu, Suriadin dijemput istrinya, Lena Marlina dan pamannya Ahmad, serta pengacaranya.

Yang mengharukan, Lena Marlina saat menjemput suaminya sedang dalam kondisi hamil tua. “Usia kehamilannya sedang berjalan sembilan bulan,” kata Suriadin.

Selang sehari setelah bebas, tepatnya Senin (11/9/2017) Suriadin langsung aktif ngantor. Dia bekerja sebagai Kades seperti biasanya.

 

Supardin Siddik, SH, MH (melihat kamera), kuasa hukum Kades Madaparama Suriadin, S.Pd, di kediaman kliennya. (sarwon/lakeynews.com)

Disambut Hangat Warga dan Dianggap “Pahlawan”

Meski Suriadin terbukti melakukan tindak pidana dan dipenjara 60 hari, namun baik pengacaranya, Supardin maupun sejumlah warga Madaparama, menganggap sang Kades sebagai “pahlawan”. “Beliau merupakan pahlawan bagi warganya,” kata Supardin.

Supardin bangga dengan keberanian kliennya. Suriadin memalsukan tandatangan Sekdes untuk menyelamatkan uang untuk desa dan rakyat Madaparama bernilai miliaran rupiah. “Salut saya,” kata Supardin.

Kepada Lakeynews.com, Kades Suriadin juga menjelaskan hal yang sama dengan yang pernah disampaikannya di hadapan sidang majelis hakim. Katanya, pada hari itu, hari terjadinya pemalsuan tandatangan Sekdes, merupakan hari terakhir penyetoran (penyampaian) Perdes APBDes 2016.

Pada sisi lain Sekdes, Mahdon, diketahui sedang berada di Bima dan tidak jelas kapan akan kembali. “Pak Mahdon ke Bima pun tanpa sepengetahuan dan tidak izin ke saya,” ujar Suriadin.

“Kalau saya tidak melakukan tandatangan pada kolom nama Sekdes, maka Perdes APBDes tidak dapat disetor. Jika Perdes APBDes 2016 itu tidak disetor, otomatis dana satu miliar rupiah lebih untuk Madaparama ini tidak akan cair,” urai Suriadin.

Walau begitu, Suriadin mengaku, beberapa waktu setelah membubuhkan tandatangan palsu pada kolom nama Sekdes, dirinya tetap dan telah menyampaikan perihal tandatangan itu kepada Sekdes.

“Waktu itu, lewat telepon (HP), Pak Mahdon mengatakan pada saya tidak ada masalah. Makanya saya tenang-tenang saja,” tandasnya.

Namun, Suriadin mengaku tidak habis pikir, ketika belakangan Mahdon melaporkannya ke polisi. “Tapi, sudah-lah. Saya ikhlas saja. Saya ambil hikmahnya saja,” ujarnya.

Hingga berita ini dinaikkan, mantan Sekdes Madaparama, Mahdon M. Ali belum berhasil dikonfirmasi terkait pernyataan Suriadin tersebut.

Suriadin memang mengakui telah bersalah, melakukan pelanggaran hukum dan menyesal atas perbuatannya. Namun, dia dengan tegas mengatakan, tidak akan menyesali telah membela dan memperjuangkan kepentingan rakyatnya.

“Yang penting bukan untuk kepentingan pribadi dan keluarga saya. Kalau untuk rakyat dan desa saya, insya Allah saya tidak akan pernah takut atau kapok membela dan memperjuangkannya,” tegas Suriadin.

“Kalau untuk kepentingan rakyat dan desa saya, tidak ada pilihan berani atau tidak berani. Saya akan lakukan, apapun risikonya,” sambung Suriadin yang mendapat pekikan Allahu Akbar dari sejumlah warga yang memenuhi ruang keluarga dan halaman rumahnya.

Tegas sikap Suriadin dan tegarnya dalam menghadapi ujian ini, membuat sejumlah rakyatnya rela mati untuknya. Mereka siap berkorban apa saja untuk membela pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyat hingga mengorbankan diri, termasuk urusan keluarganya.

Selain berani mengambil risiko, Kades Madaparama dianggap baik. Bahkan ketika mendapat informasi Suriadin bebas, mereka hendak beramai-ramai menjempunya di Lapas Dompu.

“Maunya mereka menjemput rama-ramai, tapi saya larang. Dan saya katakan, itu tidak perlu,” kata Supardin, pengacara Suriadin. (Sarwon Al Khan)