Salah seorang korban, Amirudin (baju hijau) mengaku dianiaya Amirudin saat hendak pulang ke rumahnya. (ory/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Lima warga Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Kamis (2/4) sekitar pukul 11.00 Wita melapor ke Polsek Pekat. Mereka mengaku dikeroyok oknum Kades berinisial SJ bersama simpatisannya.

Kelima korban itu, A. Muin (65) dan Syafiudin Tayeb, SH, warga dusun Tente, Irwan Ismail (45) dan M. Yunus (36), warga Dusun Calabai, serta Amirudin (42), warga Dusun Sigi.

Di Mapolsek Pekat, A. Muin yang juga salah satu ASN di Kantor Camat Pekat mengaku, menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan di eemperan kantor caat, sekitar pukul 09.30 Wita.

“Saya tiba-tiba didatangi dan dikeroyok oleh (oknum) kepala desa dan simpatisan saat duduk di taman depan Kantor Camat Pekat,” kata Muin.

“Mereka bilang jangan lari. Langsung saya dipukul dan ditendang oleh kepala desa dan anggotanya,” lanjut Muin sambil menunjuk luka di pelipisnya.

Korban Syafiudin Tayeb, warga Dusun Tente, rumahnya menjadi sasaran lempar setelah beradu mulut dengan kepala desa dan simpatisannya.

Sementara tiga korban lainnya, Irwan Ismail, M. Yunus, dan Amirudin mengalami luka memar di bagian kepala.

“Penganiayaan ini bukan di satu tempat saja. Ada yang dipukul di kantor camat, ada yang dipukul di jalan, bahkan dipukul di rumah korban,” beber Amirudin.

Amirudin mengaku, peristiwa yang dialaminya terjadi di gang menuju rumahnya. Dirinya dicegat dan dipukul saat hendak pulang ke rumahnya.

Para korban mengaku tidak mengetahui penyebab mereka dianiaya. “Baru kali ini kepala desa yang mendatangi dan memukul kami tanpa ada masalah,” ungkap Irwan Ismail.

Oknum Kades SJ, ketika dikonfirmasi Lakeynews.com di kediamannya tidak membantah kejadian itu. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan karena itu jalan terakhir yang harus ditempuhnya.

Dia juga mengaku, sudah meminta kepada Muspika Pekat agar sesegera mungkin untuk dilakukan fasilitasi persoalan itu sebelum persoalan tersebut mencuat. “Namun, tidak diindahkan oleh Muspika,” tuturnya.

Dikatakan SJ, dirinya belum dua hari berkabung karena meninggal orang tuanya. Lalu, dihadapkan dengan isu yang tidak jelas.

Sayangnya, apa persoalan dan isu dimaksud belum diuraikan SJ secara gamblang.

SJ pun kembali mengaku, sudah minta unsur Muspika untuk memfasilitasi masalah ini tapi tidak direspon. “Ya, bismillah. Ini langkah terakhir saya. Risikonya dan konsekuensi saya hadapi,” tegas SJ.

Sementara, Kapolsek Pekat IPTU Yoseph Suban Tukan melalui Kanit Intelkam Bripka Mustawa, membenarkan adanya laporan warga atas dugaan main hakim sendiri oleh oknum Kades dan simpatisannya.

Menurutnya, peristiwa penganiayaan itu dilatarbelakangi adanya laporan korban terkait dugaan korupsi oknum kepala desa.

“Kami sudah menerima laporannya untuk ditindaklanjuti,” pungkas Yoseph. (orj/khn)