
Masih Gadis, Ingin Jadi Suaminya? Ini Kriterianya
Si Badai NTB seolah menjadi tsunami bagi para bandar (pengedar) Narkoba. Terutama di wilayah Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Memiliki keberanian. Berani tingkat dewa.
Betapa tidak!
Dalam beberapa hari terakhir, akun Facebook ini berani, lantang dan vulgar memosting gambar-gambar dan nama sejumlah orang dengan beragam latar belakang. Orang-orang itu dia sebut sebagai (terduga) bandar Narkoba dan peran lainnya.
Bukan sekali dua kali. Namun berkloter-kloter. Status unggahannya rata-rata mendapat ribuan tanggapan dan komentar. Sedangkan unggahan video ditonton hingga puluhan ribu orang.
Tentu saja sarat dengan pro dan kontra. Bagi yang mendukung, ikut membagikan status-status Badai NTB disertai pula bermacam-macam apresiasi.
Demikian pula dengan mereka yang kontra, tak kalah memberikan “perlawanannya”. Meski sepintas, berdasarkan pantauan di media sosial, secara kuantitas tidak ramai dan segencar yang mendukung.
Badai NTB, sosok fenomenal di penguhujung 2024 ini. Di dunia nyata (lebih-lebih Dompu dan Bima) maupun di dunia maya, ramai membicarakan dan mendiskusikannya. Baik tentang sosoknya maupun keberanian dan isu sensitif yang diangkatnya.
Pantauan media ini, di beberapa platform media sosial sosial, isu tentang Badai NTB dan perjuangannya, menjadi topik kerap dibahas. Berikut isu bandar Narkoba, pemberantasannya dan penegakan hukum terhadap para pelaku kejahatan yang merusak masa depan generasi bangsa.
Keberaniannya di atas rata-rata. Hal ini memantik rasa penasaran. Lakeynews.com kemudian menelusuri siapa di balik akun Badai NTB itu? Siapa pemiliknya?
Beberapa sumber dan teman memang sempat menginformasikan nama dan asal pemilik akun tersebut. Namun, belum terlalu yakin sebelum berkomunikasi dan mengonfirmasi langsung yang bersangkutan.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Senin (23/12/2024), media ini pun berhasil mewawancarainya lewat chatting-an dan diakhiri video call. Dia mengaku sedang berada jauh, di luar Pulau Sumbawa.
“Nama saya Uswatun Hasanah, bang. Kalau Badai NTB itu nama pena saya,” kata wanita bertahi lalat persis di antara dua matanya itu
Tangis pertama Badai NTB meletus di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima pada 11 September 1996. Usianya berjalan 28 tahun.
Badai NTB merupakan putri keempat dari enam bersaudara, buah hati pasangan Mansyur (ayah) dan Khadijah (ibu). “Orang tua saya, dua-duanya Ngali tulen abang,” akunya.
Pendidikannya dari SD hingga SMA dituntaskan di Belo. Yakni SDN 1 Ngali, SMPN 1 Belo, dan SMAN 1 Belo.
Badai NTB mengenyam perguruan tinggi, tuntas hingga magister. S1-nya di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja – Bali. Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi.
Sedangkan S2-nya di Fakultas Ekonomi Universitas Mataram (FE-Unram), dengan jurusan Ilmu Ekonomi Konsentrasi SDAM.
Gaya publiknya agak tomboi, bicara ceplas-ceplos, dengan ciri khas tertentu. Penampilannya memang demikian. Pada ses-sesi tertentu, dia tampil berjilbap (kerudung). Berhijab sebagai wanita muslim.
Tapi jangan dikira, ini gadis kaleng-galeng. Saat ini dia mengomandani sebuah organisasi kemahasiswaan. Ketua Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Provinsi NTB, Periode 2022-2025.
“Saya aktif juga dalam mengadvokasi isu-isu perempuan dan anak, sosial, ekonomi dan keadilan hukum di NTB,” ujar lajang yang hobi dialog/diskusi dan senang mendengarkan lagu-lagu dangdut lawas ini.

Berani karena Klaim Punya Data Kuat
Sebagaimana diutarakan di awal tulisan, belakangan Badai NTB membeberkan (secara vulgar) nama-nama orang dari berbagai latar belakang. Oknum-oknum itu disebutnya sebagai (terduga) Bandar/pengedar Narkoba, terutama di wilayah Dompu-Bima.
Selain itu, Badai NTB sudah melaporkan masalah ini secara ke lembaga kepolisian. Setelah baru-baru ini ke Polda NTB, kini sedang menembus Mabes Polri.
Terlepas benar-tidak yang dilakukannya, tindakan Badai NTB tersebut dinilai banyak orang sebagai hal yang sangat berani. Bahkan digolongkan keberanian tingkat dewa.
Apakah Badai NTB tidak takut “dihabisi” para pelaku bisnis gelap barang terlarang nan terkutuk ini? Paling tidak dilaporkan ke aparat penegak hukum (APH)? Sekuat apa sih data yang dimilikinya?
Berikut petikan wawancara Wartawan Lakeynews.com Sarwon Al Khan (Won) dengan Ketua Wilayah SEMMI Provinsi NTB Uswatun Hasanah (Badai NTB) melalui aplikasi WhatsApp, Senin (23/12/2024) siang;
Won: Apakah tidak takut diincar oleh orang-orang itu?
Badai NTB: Saya tidak takut, karena (sudah) mengantongi bukti petunjuk keterlibatan mereka semua yang saya naikkan pamflet mulai dari satu sampai tiga (diunggah melalui FB Badai NTB, red).
Won: Apa saja data yang dimiliki dan memangnya sekuat apa?
Badai NTB: (Beberapa) jenis bukti petunjuknya, chattingan WA, jenis barang, ajakan untuk bergabung ke oknum-oknum lainnya. Pengakuan para bandar dan kurir, serta pengedarnya yang sudah mereka korbankan untuk “tukar kepala”.
Won: Bagaimana kalau orang-orang itu ramai-ramai melaporkanmu ke polisi? Apalagi (di antara mereka), salah seorang anggota DPRD Bima sudah melaporkan ke Polres Bima, baru-baru ini. Bagaimana tanggapannya?
Badai NTB: Semakin mereka laporkan (saya) semakin mereka menjerat dirinya. Itu secara tidak langsung mengonfirmasi keterlibatannya. Dan, saya siap, karena memudahkan dan mempercepat perjuangan ini.
Won: Mengapa Badai NTB begitu nekat? Apa yang melatarbelakangi dan memotivasi, sehingga bersemangat membongkar para (terduga) bandar/pengedar Narkoba di Dompu–Bima?
Badai NTB: Lima bulan saya keluar masuk kampong-kampung di Bima dan Dompu (tiga kabupaten kota, red), selama Pilkada lalu. Saya menemukan hal mengerikan. Dan, akhirnya saya melakukan investigasi independen (investigasi sendiri), dibantu beberapa informan yang juga harus saya lindungi identitasnya setiap kelurahan dan kecamatan. Tiada lain tiada bukan hanya untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih dari Koba-Koba (plesetan Narkoba, red), karena saya juga perempuan dan akan melahirkan anak jika Tuhan menghendaki.
Jika saja selama ini saya tahu Kartel Koba di Bima, saya mungkin sudah mengadvokasinya dari dulu. Tapi karena Pilkada membawa saya mengetahui itu. Selama saya merantau di Bali dan Mataram delapan tahun, pulang kampung hanya paling lama 3-7 hari. Ini hikmah dari keliling saat Pilkada selama lima bulan.
Won: Apa yang diharapkan dari perjuanganmu ini?
Badai NTB: Ibu-ibu di kampung tidak boleh lagi ada yang bercerai gara-gara suami dan anaknya jadi korban Narkoba. Remaja-remaja kita tidak boleh lagi ada yang melakukan kejahatan anak; bully, merampok, mencuri, dan lainnya, karena candu Koba.
Won: Lalu?
Badai NTB: Nanti harus diperjuangkan penegakan hukum terkait Koba. Pemkab Bima, Pemkab Dompu, dan Pemkot Bima, perlu mengeluarkan program rehab massal untuk semua pecandu di Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima. Serta, birokrasi di pemerintahan (tingkat) manapun di Bima – Dompu bersih dari apapun yang berkenaan dengan Koba.
Won: Sehubungan dengan itu juga, bagaimana harapannya pada APH, terutama kepolisian?
Badai NTB: Saya tidak percaya apapun di polisi, di NTB lagi. Makanya ini kita perjuangkan di pusat. Karena tidak mampu diselesaikan oleh APH di NTB. (Badai NTB kemudian mengungkapkan dugaan miring berdasarkan pengakuan informannya yang pernah terlibat dengan kartel ini, red).
Won: Kepada pihak-pihak terkait lainnya, termasuk masyarakat NTB?
Badai NTB: Harus dibentuk Tim Investigasi Independen dari PM (Polisi Militer) atau Propam Polri untuk menelusuri (dugaan) keterlibatan semua pihak di semua instansi dalam kartel ini.
Selamat proses wawancara berlangsung, Badai NTB tampak hangat dan bersahabat. Suaranya tegas, dengan nada/logat khas yang terdengar begitu kental.
(Sebelum pewawancara/penulis tahu statusnya) Lupa satu pertanyaan lagi, Badai NTB masih lajang atau sudah berkeluarga?
“Hahaha. Masih (lajang) Bang… Sekalian carikan laki-laki yang bernyali buat Badai nikahin,” jawabnya membocorkan kriteria calon suaminya kelak sembari menyertakan emot tawa.
Apakah itu kriteria dan syaratnya?
“Cukup. Jangan ciut aja. Dan, punya prinsip. Jangan gara-gara dikte dan duit, akhirnya jadi banci dan ngesot-ngesot,” katanya, lagi-lagi disertai emot tawa.
Polda NTB melalui Kabid Humas AKBP Mohammad Kholid yang dikonfirmasi Lakeynews.com via nomor WhatsApp-nya, hingga malam ini, sekitar pukul 20.25 Wita belum memberikan tanggapan. (*)

mantap, lanjutkan perjuanganmu badai NTB
doa kami selalu menyertai mu..
selamatkan generasi bangsa 🔥🔥🔥👍👍👍💪💪💪
luar biasa Lakey News
semoga perjuangan badai ntb hentikan peredaran Narkoba di pulau Sumbawa membuahkan hasil.
Aamiin.