
DOMPU – Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Daerah Korps Alumni HMI (KAHMI) Kabupaten Dompu Suherman Ahmad meminta Bupati Dompu H. Kader Jaelani melalui Dinas Dikpora mengeluarkan surat edaran (imbauan) yang melarang kegiatan wisuda pada satuan pendidikan mulai TK hingga SMA.
Pada Lakeynews.com, Sabtu (17/623), Suherman mengatakan, kegiatan wisuda pada “anak ingusan” tersebut, tidak sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya.
“Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki keterampilan dan pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani. Juga kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa,” ujar Herman, sapaan Suherman Ahmad.
Yang ada, lanjutnya, kegiatan wisuda tersebut hanyalah kegiatan feodalisme yang dikemas secara seremonial, hedonisme dan diduga (cenderung) menjadi ajang bisnis bagi penyelenggara kegiatan.
Terlebih untuk terwujudnya acara itu, dipungut biaya yang tidak sedikit. Baik untuk menyewa gedung dan sarana pendukung, beli konsumsi, dan kebutuhan lain seperti untuk membeli atau menyewa pakaian seragam.
Hal ini, tegas Herman, jelas-jelas sangat memberatkan dan membebani orang tua/wali murid. Dan, pada sisi lain, itu bentuk pungutan liar yang dilakukan sekolah secara samar-samar.
“Untuk itu, kami minta Bupati Dompu menyikapi serius persoalan ini dengan mengeluarkan surat edaran bagi sekolah-sekolah, melarang kegiatan tersebut sebagaimana dilakukan daerah lainnya,” pintanya.
Kalaupun mau mengadakan acara agar ada kenang-kenangan anak-anak yang akan mengakhiri masa sekolahnya, Herman menyarankan, sebaiknya dilaksanakan dengan nilai-nilai edukatif dan produktif. Dilaksanakan secara sederhana tanpa pungutan kepada orang tua siswa.
“Adakan kegiatan semacam pelepasan biasa. Itu bisa dilakukan di sekolah tanpa menyewa gedung. Orang tua siswa atau siswa membawa bekalnya masing-masing dan tidak perlu kostum seragam mewah,” tegasnya.
Sejatinya, pendidikan itu adalah sarana pembebasan manusia dari kejumudan, feodalisme dan hedonisme. Maka, seyogianya segala aktivitas anak didik di sekolah melalui Program Merdeka Belajar diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan.
“Bila tidak, maka pendidikan kita akan begini-begini saja. Tidak ada kemajuan,” kritik Herman. (tim)

2 thoughts on “Sekum KAHMI Minta Bupati Dompu Larang Wisuda “Anak Ingusan””