Disinilah Kampung Restorasi di Kabupaten Dompu itu. Persisnya, di Jalan Mawa’adi, Kelurahan Potu, Kecamatan Dompu. (ist/lakeynews.com)
Anggota DPRD Dompu Ir. Muttakun bersama Bupati Dompu Kader Jaelani. (ist/lakeynews.com)

KAMPUNG Restorasi telah terbentuk di Kabupaten Dompu. Tepatnya, di Jalan Mawa’adi, Kelurahan Potu, Kecamatan Dompu. Anggota DPRD Dompu Ir. Muttakun, menjadi motor Kampung Restorasi tersebut. Dia lalu menceritakan perihal dasar hingga tujuan lahirnya “kampung” yang viral di dunia maya belakangan ini.

Kampung Restorasi menjadi cikal bakal bagi model penyelenggaraan Pemerintahan Kelurahan Potu yang restoratif dalam bingkai kehidupan masyarakat Potu yang beragama, pancasilais, berbudaya dan berkearifan lokal.

“Insya Allah,” kata pria asal Potu yang makin dikenal dengan nama panggilan Jara Poro (kuda pendek) itu.

Ide dasar lahirnya Kampung Restorasi di Potu, berawal dari diskusi kecilnya dengan beberapa pemuda dari Karang Taruna La Mbesy Poro.

Sekitar enam bulan lalu di Lingkungan Potu Barat. Saat itu, ada Xon (Ketua Karang Taruna), Dae Imi (Muhaimin), Mas Agus, Heri dan Ujang dan beberapa nama lain yang sempat dia disebutkan satu per satu.

Diskusi itu membahas bagaimana Kampung Potu menjadi kampung inovatif, kreatif dan produktif melalui aktivitas ekonomi, sosial budaya dan pendidikan.

Kadang pertemuan mereka dilaksanakan tanpa persiapan dan sifatnya informal. Tempat trotoar dan emperan rumah sambil ngopi bareng pun jadi. Dirasa nyaman saja untuk merancang, menyusun langkah dan strategi untuk mewujudkan keinginan.

Kampung Restorasi dengan warga –khususnya para pemuda– yang aktif dan kreatif penuh inovatif, serta produktif dalam bingkai kehidupan bermasyarakat yang pancasilais, beragama dan berbudaya.

Dari 2-3 kali pertemuan, mulailah Muttakun mengintervensi dengan memberi bantuan modal usaha Rp. 10 juta kepada satu Kelompok Usaha Ternak Lele “Rumahan” dan digunakan selama tiga bulan.

Kelompok itu beranggota lima orang. Dana Rp. 10 juta tersebut menjadi modal pengembangan “Kampung Lele” yang menggunakan tong plastik ukuran sedang sebagai wadah budidaya.

“Jadilah Lingkungan Potu Barat sebagai “Kampung Lele” yang merupakan “anak pertama” Kampung Restorasi,” jelas Muttakun.

Ibarat Kampung Restorasi itu adalah orang tua dengan pasangan suami-istri yang punya cita-cita membangun dan membina rumah tangga idaman. Menuju keluarga yang sakinah mawadah warrahmah. Memiliki anak-anak yang saleh-salehah, sehat, berpendidikan, cerdas, berjiwa sosial dan berjiwa entrepreneur. Anak yang berbudaya dan menjunjung tinggi adat istiadat dan taat beragama.

Maka, lahirlah “anak pertama” bernama “Kampung Lele”, dengan aktivitas usaha ekonomi produktif sektor perikanan air tawar yang lahir, tumbuh dan berkembang dari Kampung Restorasi.

Anak Pertama dari Kampung Restorasi yang tiga bulan lalu hanya punya modal Rp. 10 juta itu, telah dikunjungi Lilis Suryani, istri Bupati Dompu Kader Jaelani. Kunjungan itu dilakukan Umi Lilis (sapaan Lilis Suryani) usai acara sehat bersama melalui senam zumba, 24 Oktober 2021 .

Umi Lilis melihat langsung bagaimana aktivitas usaha budidaya lele yang menjanjikan anggota kelompoknya mendapatkan keuntungan.

Apa yang dipetik dari kunjungan Umi Lilis?

Menurut Muttakun, KT La Mbesy Poro mendapat bantuan dari Umi Lilis berupa 10 unit payung dan meja. Itu menambah payung dan meja bagi pelaku UMKM untuk menjajakan makanan dan minuman.

Usai Senam Zumba, Lilis Suryani, istri Bupati Dompu Kader Jaelani mengunjungi aktivitas usaha budidaya lele, 24 Oktober 2021. (ist/lakeynews.com)

Beberapa hari ke depan, ditargetkan, produksi Kampung Lele bisa dipasarkan dan dimanfaatkan pelaku UMKM yang membuka lesehan pada malam hari di Kampung Restorasi, Jalan Mawa’adi. “Insya Allah, itu akan menjadi cikal bakal lahirnya aktivitas-aktivitas usaha ekonomi dan sosial budaya lainnya,” papar Muttakun.

Anak Pertama (Kampung Lele) telah lahir. Kampung Restorasi memerlukan “rumah layak huni” sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya kehidupan yang beragama, pancasilais, berbudaya, berkearifan lokal, berjiwa sosial dan entrepreneur. Maka, awal Agustus lalu diberikan pendampingan untuk membangun semangat dan kesadaran pemuda KT La Mbesy Poro.

Ketika pemudanya mulai memperlihatkan semangat yang tinggi, intervensi awal dan berlanjut dalam bentuk uang dan barang. Tujuannya, memicu inisiatif pemuda agar mulai menata Kampung Restorasi sehingga menjadi “rumah layak huni”.

Saat itu, diberikan bantuan wadah bekas berupa hiasan pancuran air yang dibuat dari semen cor. Kemudian bantuan semen dan pasir untuk memperindah lantai serta bantuan uang yang nilainya tidak begitu besar. Totalnya hanya Rp. 10 juta, termasuk untuk pengadaan payung dan meja sebagai wadah jualan.

Ada hal yang luar biasa ditemukan Muttakun ketika mendampingi pemuda KT La Mbesy Poro. Potensi yang dimiliki pemuda Potu. Mereka memiliki semangat gotong royong tinggi dan masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan yang bisa saling mengisi satu sama lain dalam menata Kampung Restorasi.

“Sebagai putra kelahiran Potu, saya bangga sekaligus bahagia melihat pencapaian dan yang mampu dihasilkan pemuda KT La Mbesy Poro dalam penataan Kampung Restorasi,” puji Muttakun.

Berkat kebersamaan, gotong royong dan kekompakan pemuda tersebut, Kampung Restorasi mampu menginisiasi lahirnya aktivitas sosial, ekonomi dan budaya. Ditambah dengan dukungan Lurah Potu yang mau berkontribusi tenaga, pikiran dan waktu. Bahkan dukungan anggaran, meski tidak besar, namun penataan kampung Restorasi itu terwujud.

Kini, Kampung Restorasi mulai menggeliat. Melahirkan lagi “anak kedua” yaitu Kampung UMKM. Kampung kedua ini, tumbuh dan berkembang sebagai Kampung Kuliner yang melaksanakan aktivitas usaha makanan dan minuman, meski hanya terbatas pada malam Sabtu (Jumat malam) dan malam Minggu (Sabtu malam).

Setelah melahirkan Anak Kedua, Kampung Restorasi melahirkan lagi “Anak Ketiga” dengan nama “Kampung Budaya”. Aktivitas budayanya hidup sehat melalui olahraga Senam Zumba setiap Minggu pagi. “Ini menjadi kegiatan rutin di Kampung Restorasi,” paparnya.

Berikut Kampung Restorasi melahirkan “Anak Keempat” dengan nama Kampung Sehat. Aktivitas hidup bersih yang mulai tumbuh dan berkembang dengan kegiatan bakti sosial (bersih-bersih kampung) setiap hari Jumat oleh para pemuda di KT La Mbesy Poro.

Selanjutnya, lahir pula “Anak Kelima” dengan nama Kampung Demokrasi yang menyediakan ruang aspirasi dan diskusi bagi warga sekali sebulan melalui coffe night dan coffee morning.

Singkatnya, baru tiga bulan usianya, Kampung Restorasi telah melahirkan bayi yang tumbuh dan berkembang menjadi anak yang menjanjikan kehidupan masyarakat Potu yang Mandiri, Sejahtera, Unggul dan Religius (MASHUR).

Muttakun berharap, kedepan dan seterusnya akan banyak “bayi dan anak” yang lahir dari Kampung Restorasi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya kehidupan warga masyarakat Potu yang beragama, pancasilais, berbudaya dan berkearifan lokal serta berjiwa sosial dan entrepreneur menuju masyarakat yang MASHUR.

Sedangkan kepada Pemuda Potu melalui Ketua KT La Mbesy Poro Thabua Malang, Muttakun mengajak untuk tunjukkan bahwa pemuda Potu adalah pemuda-pemuda hebat, tangguh dan mandiri.

Menurut dia, boleh minim sumber daya alam, tidak ada hutan, tidak punya pesisir dan tidak punya areal sawah dan sabana untuk penggembalaan ternak. Namun, Potu mempunyai kekayaan SDM yang terampil dan cerdas. Memiliki semangat kebersamaan dan gotong royong tinggi.

“Itulah kekayaan pertama yang menjadi modal utama untuk memajukan dan mengembangkan Kelurahan Potu. Bersama Kita Bisa, Kita Bisa Bersama. Mewujudkan Kelurahan Potu yang Maju dan Berkembang meski minim SDA,” tegasnya. (won)