
Kaharudin: Ini Upaya Kita Meningkatkan Pengetahuan Petani
DOMPU, Lakeynews.com – Ini terobosan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, NTB.
Meningkatkan pengetahuan petani, Jumat (9/7) sore lalu, lembaga itu membuka ruang dan melakukan diskusi dengan para petani dan pengurus kelompok tani (Poktan) di wilayahnya.
Kegiatan yang berlangsung di Aula BPP Kilo tersebut sebagai wadah pertemuan antara pelaku utama, penyuluh dan pelaku usaha lainnya.
“Diskusi ini bagian dari upaya kita untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang hidup berkelompok,” kata Koordinator PPL BPP Kilo Kaharudin, SST, pada Lakeynews.com di Dompu.
Pria yang akrab disapa Gondrong atau Dae Iron ini menjelaskan, kelembagaan petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh dan untuk petani. Ini untuk memperkuat kepentingan petani sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) RI Nomor 67 Tahun 2016.
“Hal ini juga sesuai dengan yang disampaikan oleh Bupati Dompu, Bapak Kader Jaelani, sehari setelah pelantikan. Dimana beliau ingin memperbaiki kelembagaan petani di daerah ini,” sambung Gondrong.
Gondrong juga berencana, pertemuan dan diskusi semacam itu dengan petani dan kelompok tani akan senantiasa dilaksanakannya.

Menurutnya, pertemuan semacam ini sangat bermanfaat. Terutama dalam memberikan pemahaman dan pengetahuan petani.
Pada kesempatan seperti ini, pihaknya bisa menyerap masukan dari para petani. Mengetahui kendala, hambatan dan persoalan yang mereka hadapi.
“Dengan demikian, kita bisa cepat mengetahui, kemudian melaporkan ke atas. Sehingga cepat pula diupayakan formulasi untuk mengatasinya,” papar Gondrong.
Pada kesempatan itu, beragam pendapat, masukan dan uneg-uneg disampaikan sejumlah perwakilan PPL. Salah seorang diantaranya, PPL Desa Taropo Ade Mariadi. Dia angkat bicara tentang e-RDKK pupuk petani.
Menurutnya, untuk e-RDKK kebutuhan pupuk bersubsidi, petani harus menggumpulkan KK sebagai dasar Entri Data agar bersinergi dengan Data Simluhtan.
Kedepan tidak ada lagi keluhan petani dan masyarakat Kecamatan Kilo selaku penerima manfaat yang kekurangan sarana produksi (pupuk). Juga tidak muncul lagi keluhan karena petani selalu menggunakan pupuk non subsidi.
“Sehingga, hasil dari budidaya bisa mencapai produksi yang ditargetkan,” paparnya. (tim)
