Mantan Kades Kadindi, Kecamatan Pekat, Dompu yang kembali memenangkan Pilkades beberapa hari lalu, Doriwanto, A.Md. (ory jeho/lakeynews.com)

Juara 3 Lomba Kampung Sehat 2020, Hadiah Mobil tak Kunjung Diterima

.

MANTAN Kades Kadindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu Doriwanto, A.Md, baru saja kembali memenangkan Pilkades setempat pada 17 Juli lalu.

Sejumlah isu minor mencuat dan menjadi buah bibir di tengah masyarakat sejak pencalonannya hingga dia memenangkan Pilkades. Mulai dari  dugaan penggelapan hadiah mobil yang diraih Desa Kadindi sebagai Juara 3 Lomba Kampung Sehat 2020, sampai isu pengelolaan Bumdes dan Pamdes selama dirinya menjabat Kades.

Untuk mengklarifikasi berbagai isu dan dugaan tersebut, Lakeynews.com (T) mewawancarai khusus Doriwanto (J) di lokasi wisata  Pantai Labu Barat, Desa Nangamiro, Minggu (20/6). Berikut kutipan hasil wawancara tersebut;

T: Desa Kadindi meraih Juara 3 Lomba Kampung Sehat 2020 dan mendapat hadiah mobil. Saat HUT ke-75 TNI, hadiah tersebut diserahkan secara simbolis kuncinya. Isunya, mobil itu sudah dijual oleh Pemdes. Benarkah?

J: Itu isu yang keliru. Memang benar Desa Kadindi mendapatkan sebuah mobil sebagai hadiah Juara 3 Lomba Kampung Sehat dan secara formalitas simbol kuncinya juga sudah kita terima saat HUT ke-75 TNI. Tapi mobilnya sampai sekarang belum kami terima.

T: Apa sudah disosialisasikan kepada masyarakat tentang keberadaan mobil hadiah itu?

J: Sudah kita sampaikan, bahkan sejak pulang dari pengumuman pemenang lomba kampung sehat.

T: Kalau simbol kuncinya sudah diterima, mobil juga diterima?

J: Informasi yang kami terima, mobilnya akan diadakan melalui anggaran tahun 2021. Mungkin bulan-bulan depan mobil itu kita terima.

Sampai sekarang mobil hadiah Juara 3 Lomba Kampung Sehat 2020 belum diterima Desa Kadindi, sementara secara simbolis kuncinya sudah diterima Doriwanto (paling kanan) saat HUT ke-75 TNI. (ory jeho/lakeynews.com)

T: Itu isu pertama. Kedua terkait pengelolaan BumDes. Kabarnya dana BumDes Kadindi dideposit. Bagaimana sebenarnya?

J: Bukan dideposit, tapi memang Kas BumDesnya ditabung ke bank. Salah satu usaha BumDes Kadindi adalah Brilink, tentu dananya harus menggunakan rekening. Jadi, bukan dideposit.

T: Kenapa usaha Brilink dilakukan di rumah salah satu pengurus BumDes, tidak memanfaatkan kantor BumDes?

J: Ini kan usaha, tentunya harus dikenal dan ramai pelanggan. Kalau Brilinknya dibuka di kantor BumDes, kurang pelanggannya. Sementara di sana (rumah pengurus, red) sudah dikenal oleh masyarakat. 

T: Apa saja unit usaha yang dijalankan oleh BumDes?

J: Selain Brilink, BumDes mengelola usaha molen dan Pamdes. Kami belum bisa mengembangkan unit usaha yang lain, karena dalam akta notarisnya BumDes hanya mengusulkan tiga unit usaha. Insya Allah kedepan kami akan tambah unitnya.

T: Kabarnya, PamDes hanya mampu mendapatkan Rp. 25 juta per tahun. Padahal, kalau dikalkulasi, misalnya 1000 water meter dikali Rp. 10 ribu, PamDes bisa menghasilkan dana sekitar Rp. 10 juta per bulan. Sementara, jumlah pelanggan saat ini lebih dari itu. Tanggapan Anda?

J: Yang Rp. 25 juta per tahun itu, PAD yang disetor pengurus PamDes ke desa. Bukan penghasilan atau pendapatan PamDes setiap tahun. Cuma setiap bulan, mereka mendapat honornya, biaya pemeliharaan dan lainnya. 

T: Anda baru saja kembali terpilih sebagai Kades. Apa program utama Anda kedepan?

J: Saya punya mimpi agar Kadindi menjadi desa tujuan wisata. Seirama dengan rencana Pemkab Dompu dalam mengembangkan wisata kawasan Satonda. Jadi, nanti Agro wisata. Wisata buahnya ada di Desa Kadindi.

T: Selain itu?

J: Saat saya menjabat Kades satu periode terakhir, program saya lebih menitikberatkan pada pengembangan fisik dan infrastruktur. Nah, untuk enam tahun yang akan datang, saya lebih fokus pada pemberdayaannya. (ory jeho)