
Jufri: Hu’u, Manggelewa dan Pekat Langganan Angin Puting Beliung
DOMPU, Lakeynews.com – Secara teoritis, saat ini tengah berlangsung masa transisi musim, dari musim hujan ke musim kemarau. Masa transisi ini diprediksikan berlangsung sampai Juni depan.
“Biasanya, pada masa transisi ini kita dihadapkan dengan angin kencang. Angin puting beliung. Kita tidak perlu panik, tapi harus sama-sama waspadai,” imbuh Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Dompu Jufri, ST, M.Si.
Imbauan itu disampaikan pria yang lebih akrab dipanggil Bang Jef ini, ketika ditemui Lakeynews.com di halaman depan kantornya, Jumat (28/5). Saat itu, Bang Jef sedang memantau pembuatan plang nama kantor BPBD.
“Sedangkan musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai Juli, Agustus hingga September mendatang,” papar Bang Jef.
Menghadapi musim kemarau tahun ini, BPBD Dompu telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTB terkait langkah-langkah yang akan dilakukan.
Salah satu yang harus dilakukan, menyiapkan armada (mobil tangki) untuk mengangkut air bersih ke wilayah-wilayah yang dibutuhkan warga.
Sejauh ini, sebut Bang Jef, baru ada tiga mobil tangki untuk melayani kebutuhan di delapan kecamatan se-Kabupaten Dompu. Satu armada milik BPBD, satu milik Dinas PU yang dititipkan ke PDAM, dan satu lagi armada Polri (Polres Dompu).
“Armada-armada itulah yang nantinya akan melakukan pendistribusian air bersih warga ke wilayah-wilayah yang menghadapi kekeringan,” ujarnya.
Kedua, BPBD Dompu akan meminta bantuan dana pada BPBD provinsi. BPBD Provinsi-lah yang melanjutkan permohonan itu ke pemerintah pusat. Yakni ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Data Desa Terdampak Se-Kabupaten Dompu
Menurut data BPBD Dompu, ada puluhan desa pada delapan kecamatan dengan total 16.936 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan.
Kecamatan Dompu, wilayah terdampak; Desa Sorisakolo, Dorebara dan Kelurahan Kandai Satu.
Kecamatan Pajo; Desa Ranggo, Woko, Tembalae dan Desa Lepadi.
Kecamatan Hu’u; Desa Cempi Jaya, Sawe, Daha, Rasabou, Hu’u dan Desa Marada.
Kecamatan Pekat; Desa Nangakara, Nangamiro dan Desa Tambora.
Kecamatan Kilo; Desa Mbuju, Taropo dan Desa Kiwu.
Kecamatan Kempo; Desa Kempo, Soro dan Desa Konte.
Kecamatan Manggelewa; Desa Tekasire.
Kecamatan Woja; Desa Mumbu, Riwo, Baka Jaya dan Desa Matua, serta (sebagian) Kelurahan Simpasai dan Kandai Dua.
“Desa-desa dan kelurahan itulah yang menjadi lokus pelayanan kami nanti. Yang paling banyak desa dan kelurahan terdampak adalah Kecamatan Hu’u dan Woja,” jelas Bang Jef.
Wilayah mana saja yang warganya mengeluhkan masalah air bersih?
Jufri menyebut, lebih kurang satu minggu yang lalu, ada laporan dari wilayah Kecamatan Woja. Khususnya di sekitar wilayah Terminal Ginte.
“Karena ada persoalan PDAM, kami layani kebutuhan air bersih warga di sana,” ujarnya seraya menjelaskan, bahwa masalah PDAM sedang dalam perbaikan.
“Dan, setiap ada laporan dari desa-desa dan kelurahan, kami langsung tindak lanjuti dengan menyuplai (membawa) air bersih ke wilayah itu,” sambungnya.
Pemerintah Kecamatan dan Desa Diminta secara Dini Ingatkan Warganya
Seperti yang dijelaskan di atas, pada masa transisi musim, semua elemen dihadapkan dengan angin kencang, angin puting beliung.
Berdasarkan pengalaman, ada tiga wilayah yang menjadi langganan angin puting beliung di Kabupaten Dompu. Yakni Kecamatan Manggelewa, Hu’u dan Kecamatan Pekat.
Kepada pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, terutama di wilayah-wilayah rawan angin puting beliung itu agar secara dini memberikan imbauan kepada warga (masyarakat)-nya.
“Tetaplah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, dalam hal ini BPBD,” pinta Bang Jef.
Sedangkan kepada masyarakat, Bang Jef mengimbau agar tetap waspada. Namun, tidak perlu terlalu panik.
“Jangan panik. Bila ada kejadian angin puting beliung di kampungnya, segera menginformasikan kepada pemerintah desa dan kecamatan setempat,” imbuhnya.
“Selain memberikan informasi kepada pemerintah desa dan kecamatan, bisa juga langsung ke kami, BPBD Dompu,” sarannya. (ayi)
