Direktur PDAM Dompu Agus Supandi, SE, didamping Staf Perencanaan Teknis Rahmatillah, A.Md, menunjukkan dokumentasi perbaikan pipa. (feri/lakeynews.com)

Pemda Diminta segera Buka Sumber Mata Air Baru

DOMPU, Lakeynews.com – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Dompu, akhirnya angkat bicara dan menanggapi keluhan sejumlah pelanggan soal kelangkaan dan rendahnya kualitas air bersih di beberapa wilayah.

Direktur PDAM Dompu Agus Supandi, SE, mengatakan, masalah tersebut imbas dari proses kegiatan perbaikan dan penanggulangan kerusakan jaringan pipa transmisi air baku.

“Pada 26 April lalu, kami melakukan perbaikan pipa di sumber mata air Kamudi Rababaka. Itulah penyebab terjadinya kelangkaan air minum di Kecamatan Woja,” kata Agus pada Lakeynews.com diruang kerjanya.

Menurutnya, proses perbaikan pipa yang memakan waktu hingga empat hari tersebut, mengakibatkan kelangkaan air minum warga selama satu minggu. ”Sempat terjadi keributan warga,” jelasnya.

Foto-foto dokumentasi perbaikan pipa PDAM Dompu di Lokasi Sumber Kamudi Rababaka. (feri/lakeynews.com)

Agus menuturkan, rasionalnya jarak pipa dari rumah pelanggan sekitar delapan kilometer (Km). ”Jadi butuh waktu satu minggu, hingga air mengaliri pipa yang baru dipasang sampai ke pemukiman warga,” terangnya.

Terkait kelangkaan air pada beberapa titik di Kelurahan Kandai Satu dan Karijawa, Agus mengaku, itu disebabkan intensitas air yang kecil dari sumber mata air di wilayah Kramabura.

“Jadi, kami gilirkan airnya. Satu hari pembagiannya untuk wilayah Dompu Kota, hari berikutnya untuk Kandai Satu dan sekitarnya,” ujarnya.

Akibat kelangkaan air, lanjut Direktur PDAM, banyak warga beralih menggunakan sumber mata air bor di masing-masing rumah.

Lebih lanjut dia menuturkan, mengatasi kelangkaan air jangka panjang, pihaknya meminta Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) agar segera membuka sumber mata air baru untuk keperluan konsumsi warga. ”Pemerintah harus segera melakukan reboisasi dari hulu ke hilir,” harapnya.

Apalagi saat ini, menurut dia, sekitar 20 hektare lahan pada masing-masing titik sumber mata air dialihfungsikan menjadi lahan pertanian. “Seperti di Desa Karamabura, Rababaka dan Hu’u,” bebernya. (fm)