
Kondisi SMPN 8 Satu Atap (Satap) Woja begitu memprihatinkan dan memilukan. Salah satu sekolah terluar di wilayah selatan Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), minim perhatian pemerintah. Terpinggirkan dan terabaikan.
Sarana prasarananya masih sangat terbatas. Dua ruangan kelas sudah lama rusak parah, kini mengancam nyawa siswa dan guru. Sampai kapan pemerintah membiarkan sekolah dengan kondisi demikian?
CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu
SESUNGGUHNYA sudah lama saya (penulis) mendapat informasi tentang masih adanya sejumlah sekolah terluar di Kabupaten Dompu yang kondisinya memprihatinkan –termasuk SMPN 8 Satap Woja– namun kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Saat itu juga hati dan pikiran saya tertuju ke sana. Jiwa terdorong untuk segera melihat langsung sekolah yang berkedudukan di Desa Riwo. Desa yang terkenal dengan objek wisata Pantai Ria-nya.
Hasrat tersebut baru terpenuhi pada Selasa (11/11/2025). Itu setelah malam sebelumnya saya permaklumkan kepada kepala sekolah bersangkutan, Khairuddin.
“Siap, ditunggu,” sahut Sarjana Agama jebolan IAIN Mataram yang mulai familiar disapa Bang Rudy itu menjawab pesan penulis melalui aplikasi WhatsApp.
Pagi menjelang siang, Bumi Dompu mulai diselimuti cuaca mendung. Saya bersama wartawan sebuah kantor berita, Ady Ardiansyah meluncur ke Riwo. Boncengan kendaraan roda dua.
Sepeda motor melaju dengan kecepatan standar. Kadang pelan. Banyak sisi yang mesti kami perhatikan dan amati sepanjang perjalanan.
Kami berhenti tepat di depan pagar bercat putih kombinasi biru vertikal. Dari luar pagar berbahan dasar kayu dan seng, sejenak membaca plang nama sekolah. Plang nama itu sudah dibuat permanen.
Gerbang dengan cat dan bahan yang sama tampak terbuka. Setelah memastikan itu sekolah yang dituju, motorpun bergerak masuk. Memilih tempat parkir yang agak teduh dari sinar matahari, dan di atas tanah yang kering. Di beberapa bagian halaman becek tergenang air.
Kedatangan kami disambut hangat dan penuh kekeluargaan oleh kepala sekolah bersama beberapa guru. Ini kehormatan bagi kami yang kali pertama menginjakkan kaki di sekolah tersebut.

Profil Singkat Sekolah, Siswa dan PTK
SMPN 8 Satap Woja hadir dengan tujuan mulia, mencerdaskan generasi masa depan daerah dan negara di wilayah Riwo dan sekitarnya.
Dari beberapa referensi yang dihimpun, sekolah ini berdiri pada 1 April 2010 dengan SK Pendirian Nomor: 0676/C3.1/SK/2010. Tetapi baru beroperasi setelah lebih dari setahun kemudian. Persisnya, mulai 23 Agustus 2011. Menyelenggarakan pendidikan pagi selama enam hari.
Sekolah ini terakreditasi C, berdasarkan SK Akreditasi Nomor: 183a/BAP-SM/KP/X/2015, tanggal 29 Oktober 2015. Kendati baru akreditasi C, sekolah ini tak henti-hentinya berupaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Saat ini, total peserta didiknya 88 orang, dengan empat rombongan belajar (rombel). Kelas VII sebanyak 37 siswa (dua rombel), Kelas VIII sebanyak 31 siswa, dan Kelas IX sebanyak 20 siswa.
“Jika dibandingkan awal-awal sekolah ini beroperasi –bahkan hingga beberapa tahun lalu–, jumlah siswa kita sekarang meningkat dan berkembang,” kata Bang Rudy.
Ditemui di ruang kerjanya usai mendampingi wartawan melihat dan memotret kondisi sejumlah bagian bangunan, Bang Rudy menceritakan beberapa hal.
“Awalnya, siswa Kelas VII hanya 14 orang, dan Kelas VIII hanya 12 orang. Sementara Kelas IX sebanyak 20 orang,” urai Sekretaris Terpilih Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Dompu ini.
Sedangkan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan (guru dan tata usaha), secara keseluruhan 25 orang; 24 guru dan satu tata usaha sekaligus operator.
Dari 24 guru itu, sembilan diantaranya aparatur sipil negara (ASN); lima orang PNS, dan empat PPPK. “Sisanya berstatus PPPK Paruh Waktu,” papar Bang Rudy sembari menambahkan, ada tiga orang yang masih menyandang status tenaga sukarela.
Jaringan internet di sana masih sangat lemah. Perbandingannya 1 : 5-10. Yakni satu menit ada, lima sampai 10 menit hilang sama sekali. Kalaupun ada, kekuatan sinyalnya “E”. Sesuai indikator yang muncul di layar HP.
Air dan listrik aman. Air menggunakan sumur bor. Hasil urunan dan sumbangan Kasek dan guru-guru melalui semangat Sedekah Air yang dimotori Bang Rudy.
“Alhamdulillah air untuk memenuhi berbagai kebutuhan lancar. Lebih dari cukup,” papar Bang Rudy.
Demikian juga listrik. Sejauh ini lancar dan tidak mengalami kendala, karena sekolah mengandalkan PLN.

Fasilitas Terbatas dan Rusak, serta Upaya Menyiasatinya
Usia SMPN 8 Satap Woja sudah 15 tahunan berjalan. Ruang kelas dan fasilitas yang dimilikinya masih sangat terbatas. Sudah demikian, rusak lagi.
Secara keseluruhan, sekolah ini hanya punya enam lokal (bangunan lama dan agak baru). Tiga ruang kelas, dua lokal perpustakaan dan gudangnya, serta satu lokal lagi untuk Lab.
Dari tiga ruang kelas, hanya satu lokal yang bangunannya agak baru. Tanpa plafon, dan diyakini pembangunannya tidak tuntas.
Dua dua ruang kelas lainnya rusak parah. Plafon jebol, atapnya bocor. Saat musim hujan seperti saat ini, air masuk dan menggenang.
Kayu-kayunya tampak rapuh dan lapuk, terancam ambruk. Beberapa bagian keramik lantainya terkelupas, hingga terlihat tanah urug.
Meski demikian, salah satu dari dua ruang kelas yang rusak itu terpaksa tetap dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) peserta didik kelas IX. Meja dan kursi siswa ditempatkan di sisi kiri-kanan ruangan.
Mengapa meja-kursi siswa tidak ditaruh saja di tengah?
“Kita tidak berani. Khawatir sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kita takut, sewaktu-waktu atap plafon ambruk,” jawab Bang Rudy.
Pihak sekolah tidak memiliki pilihan lain. Mau menyelenggarakan KBM siang, tanggung. Cuma satu kelas, dengan siswa 20 orang. Apalagi tempat tinggal sebagian besar guru rata-rata jauh dari sekolah.
Sekali lagi, kondisi dua lokal bangunan ruang kelas memang tampak rusak parah. Kayu-kayu atap, kayu dan triplek plafonnya lapuk. Banyak yang sudah bolong. Sebagian jendela tidak berdaun/kaca lagi.
Lantainya juga tidak kalah memilukan. Selain tanahnya menyusut ke bawah, keramik-keramiknya terkelupas.
Peserta didik ada tiga rombel. Satu rombel (Kelas IX) memanfaatkan ruangan yang rusak, satu rombel lagi (Kelas VIII) KBM di ruangan agak baru yang tak berplafon. Bagaimana dengan dua rombel lain untuk kelas VII)?
“Satu kelas memanfaatkan ruangan perpustakaan, satu kelas lagi belajar di ruangan Lab,” jawab Bang Rudy.

Guru Berkantor di Emperan Perpustakaan
Gudang Perpustakaan yang juga kondisinya tidak terlalu membahagiakan, disulap menjadi ruang kepala sekolah dan penitipan barang guru-guru. Sekalian sebagai tempat menerima dan melayani tamu.
Guru-guru dan tata usaha di sana tidak memiliki ruangan. Mereka berkantor di emperan Perpustakaan yang telah dijadikan ruang kelas. Kadang kursi dijadikan meja. Duduk melantai tanpa alas.
“Mau bagaimana lagi. Terpaksa begini. Kenyataannya kondisi kita masih begini,” celetuk Bang Rudy.
Itu antara lain terkait kondisi bangunan sekolah. Di luar itu, juga terpampang fakta yang tidak kalah menyesakkan dada.
Bertahun-tahun, dari awal sekolah itu beroperasi, lapangannya tidak dapat digunakan secara maksimal saat musim hujan. Tergenang air dan becek.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pelan-pelan dapat dimanfaatkan. Begitu Bang Rudy dipercaya memimpin sekolah itu sejak Februari 2021, dia berinisiatif mengajak guru-guru memperbaiki secara swadaya.
Mereka mengumpulkan dana seikhlasnya untuk membeli material. Lapangan ditimbun dengan tanah dan pasir. Dikerjakan secara gotong royong.
“Sekarang sudah bisa kita pakai untuk kegiatan upacara. Kalau dulu, kita upacara di bagian depan sekolah, karena hanya di situ tempat yang kering,” jelasnya.
Saat ini, timbunan itu diupayakan menjadi lapangan bola voli. Dikerjakan pelan-pelan secara bertahap. “Insya Allah akan segera terwujud lapangannya,” ujar Bang Rudy.
Pagar sekolah pun menyedihkan. Pagar samping dan belakang terbuat dari kayu yang kondisinya rata-rata lapuk. Untungnya diikat dengan kawat berduri, sehingga terkesan masih punya pagar. Beberapa bagian dipagari kayu hidup.
Hanya bagian depan yang terlihat lumayan bagus. Seperti dikemukakan di atas, pagar depan sekolah terbuat dari seng dan kayu. Dicat vertikal warna putih kombinasi biru.
WC (kamar kecil)-nya juga terbatas. Hanya dua yang masih bisa dipakai. Satu untuk siswa, satu lagi untuk guru. Selebihnya rusak, dan jadi ruang ganti pakaian siswa.

Ukir Prestasi, Ubah Stigma Minor
Menurut informasi dan diperkuat Bang Rudy, ada tiga sekolah dasar dan satu madrasah ibtidaiyah di Desa Riwo dan sekitarnya yang menjadi penyokong SMPN 8 Satap Woja. Namun, minim siswa yang berminat masuk SMP ini.
Jumlah siswa yang mengenyam pendidikan di SMP tersebut sedikit sekali, jika dibandingkan dengan jumlah alumni empat sekolah yang diperkirakan jauh lebih besar.
Kebanyakan mereka masuk ke sekolah lain, disamping (menurut informasi) ada juga beberapa orang yang tidak melanjutkan pendidikan.
Sebelum Bang Rudy bertugas di sekolah itu, siswa kurang berminat dan cenderung meremehkan. “Mereka enggan sekolah di sini karena fasilitasnya sangat terbatas,” tuturnya.
Selain ruang belajar yang rusak dan terbatas, juga karena belum memiliki fasilitas olahraga, fasilitas jaringan Internet, pagar yang layak, laboratorium lengkap, maupun toilet memadai.
Pelan namun pasti, Bang Rudy bersama para guru terus berjuang mengubah kesan dan stigma minor itu dengan hal-hal positif. Perlahan-lahan diatasinya. Tentu dengan dukungan para guru dan warga sekitar.
Salah satu upaya tersebut, kendati dirundung keterbatasan sarana prasarana sekolah, para guru dan siswa aktif mengikuti berbagai kegiatan dan lomba. Bahkan mampu mengukir prestasi, baik tingkat Kecamatan Woja maupun tingkat Kabupaten Dompu.
“Ini antara lain upaya kami dalam mengubah stigma jelek publik terhadap sekolah ini,” ujar Bang Rudy.
Kegiatan dan lomba yang pernah diikuti tersebut, antara lain, kegiatan kepramukaan, gerak jalan, futsal, dan lainnya. Bahkan, tak jarang meraih prestasi.
Prestasi-prestasi tersebut, diantaranya, Juara I Lomba Nyanyi Solo Lagu Daerah Antar-instansi, Lembaga dan Organisasi Profesi Se-Kabupaten Dompu, Juara I volly Ball Putra.
Juga, Juara I Lomba Pentas Seni Tingkat Penggalang, Juara I Lomba Penyuluhan Tingkat Penggalang, Juara I Lomba Keberhasilan Tingkat Penegak, dan sejumlah prestasi lainnya.

Mendesak; Perbaikan Dua Ruang Kelas dan Bangun Dua RKB
Yang paling penting dan mendesak dibutuhkan SMPN 8 Satap Woja saat ini, perbaikan dua lokal kelas yang rusak parah.
Selain agar bangunan itu dapat bermanfaat, juga supaya tidak mengancam keselamatan peserta didik saat KBM berlangsung. “Ini salah satu yang mendesak saat ini,” ujarnya berharap.
Kebutuhan mendesak lainnya adalah pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) minimal dua lokal. Lahannya masih ada. Menghadap ke barat. Posisinya antara bangunan SD (di depan) dengan ruang Lab –yang sementara ini dijadikan ruang KBM.
Pihak sekolah yakin, kedepan satuan pendidikan ini akan terus berkembang. Seiring dengan itu, kepercayaan masyarakat meningkat, minat dan animo peserta didik semakin bertambah.
“Pengadaan dan pembangunan dua lokal RKB dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan ruang KBM, termasuk mengatasi jumlah siswa yang akan terus bertambah,” urai Bang Rudy.
Apakah kondisi memprihatinkan SMPN 8 Sayap Woja ini pernah disampaikan atau dilaporkan ke pemerintah atasan? Kepala Dinas Dikpora atau Bupati Dompu misalnya?
Menjawab pertanyaan itu, Khairuddin mengaku, sudah berulang kali melaporkannya ke Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu. Baik melalui sistem Dapodik maupun koordinasi langsung.
Pihak Dinas Dikpora melalui Kabid Dikdas H. Nurdin pernah turun ke sana tahun lalu. Melihat langsung kondisi SMPN 8 Satap Woja. “Beliau kaget melihat kondisi sekolah dan ruangan kelas yang tak layak,” paparnya.
Informasi dari beberapa sumber, tahun 2025, SMPN 8 Satap Woja mendapat program bantuan untuk rehabilitasi dua ruangan belajar. Sayangnya, hingga November ini, program tersebut belum sampai ke sekolah ini.
Benarkah ada program tersebut? Ataukah hanya kabar angin? Jika benar ada, kenapa tidak sampai? Mungkinkah digeser ke sekolah lain?
Terkait kabar tersebut, Bang Rudy mengaku tidak tahu persis. “Sebaiknya hal itu dikonfirmasikan langsung ke Dinas Dikpora,” sarannya. (Konfirmasi ke pihak Dinas Dikpora Kabupaten Dompu masih diupayakan, red).
Namun, ketika melihat langsung kondisi SMPN 8 Satap Woja, kata Bang Rudy, pihak Dinas Dikpora berjanji akan mengupayakan rehabilitasi dua ruang kelas yang rusak parah itu pada tahun 2026.
“Kita doakan, mudah-mudahan terwujud karena sangat dibutuhkan,” ujarnya sembari mengharapkan, media ikut mendorong pemerintah agar segera merespons aspirasi keluarga besar SMPN 8 Satap Woja melalui kepala sekolah. (*)

One thought on “SMPN 8 Satap Woja Memilukan, Sekolah Pinggiran yang Terpinggirkan”