Salah satu potret air “bersih” PDAM Dompu. (orj/lakeynews.com)

Perhatikan! Sumber, Infrastruktur, Manajemen dan IPA

MENURUT pemerhati masalah sosial, Suherman, sumber air, infrastruktur dan manajemen merupakan tiga hal besar yang menjadi penyebab mengkronisnya air PDAM Dompu.

Diketahui, setiap musim hujan (tiap tahun) tahun selalu keruh kecokelatan, kotor, bahkan kerap disertai lumpur. Musim kemarau, pendistribusiannya yang tidak merata. Bahkan beberapa wilayah sering tidak menerima pasokan air hingga dalam waktu relatif lama.

Pertama dan utama masalah air kita adalah sumber air,” sebut pria yang dikenal dengan nama panggilan Herman Pelangi itu dalam diskusi Membedah “Penyakit Kronis” Air Bersih PDAM Dompu di WAG LakeyNews.Com, Jumat (19/11) malam.

Baca Juga: (1) Membedah “Penyakit Kronis” Air Bersih PDAM Dompu

Kabupaten Dompu dikatakan sudah tidak ada (minim) sumber mata air (defisit). Pohon-pohon penyimpan air sudah ditebang semua. “Sumber mata air kita sekarang air hujan,” sambung Herman.

Masalah kedua, sebutnya, infrastruktur berupa bak air dan penyaring. Bak air yang menampung air hujan yang jatuh di tanah berupa lumpur. “Sementara di situ tidak ada alat penyaringnya agar air lumpur itu bisa jernih,” ungkapnya.

Dan, ketiga, soal manajemen. Air mengalir dari sumber mata air ke bak penampungan, mengalir melalui pipa2 dan sampai pada pelanggan itu soal managemen.

Menurut hematnya, yang harus dipastikan adalah ketersediaan sumber mata airnya. “Kalau mata airnya tidak ada, sudahlah, nggak usah bicara air bersih, nggak usah bicara infrastruktur dan manajemen,” tegasnya.

Karena mata air kita sudah tidak ada, maka, untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, sediakan anggaran untuk bor air dalam di bebetapa titik meski dalam jangka waktu tertentu ini dapat menimbulkan dampak terhadap pergeseran tanah.

Suherman alias Herman Pelangi, pemerhati masalah sosial ikut ambil bagian dalam diskusi WAG LakeyNews.Com. (ist/lakeynews.com)

Namun, itu langkah untuk mengatasi sementara waktu. “Itu upaya kita sembari melakukan penanaman pohon untuk menghadirkan kembali sumber mata air,” saran Herman yang juga mantan komisioner KPU Dompu itu.

Anggota grup Susatio juga angkat bicara. Sosok yang dikenal irit bicara dan kalau berbicara langsung poin-poinnya, mengatakan, dua hal pokok air bersih Dompu. “Pokok air Sumber dan IPA (Instalasi Pengolahan Air),” ujarnya.

Terhadap dua hal itu, antara masyarakat dan PDAM (pemerintah) masing-masing punga tanggung jawab.

“Sumber Air itu tanggung jawab masyarakat di wilayah tangkapan. Sedangkan IPA merupakan tanggung jawab PDAM atau pemerintah,” jelas pria yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Tio itu.

Warga baru WAG media online yang berpusat di Kabupaten Dompu, Hairil Anwar, juga ikut berpartisipasi dalam diskusi itu.

Sebelumnya, Hairil terlebih dulu memperkenalkan dirinya. Saat ini sebagai Guru Bahasa Inggris MAN Dompu, Wakil Ketua Wilayah Ikatan Guru Indonesia (Waketwil IGI) Provinsi NTB dan Fasilitator Nasional Satuan Pendidikan Ramah Anak (FASNAS SRA).

Hairil juga sebagai Penyuluh Antikorupsi (PAK), Kabid Pelatihan, Perpustakaan dan Kemakmuran Masjid DPD BKPRMI Kabupaten Dompu, Fasilitator Daerah Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Madrasah Aliyah Mata Pelajaran Bahasa Inggris (FASDA PKB MA Matpel Bahasa Inggris) Kemenag.

Terkait tema diskusi malam itu, Hairil teringat dan mengutip sepenggal syair lagu “Kehilangan Tongkat” milik Haji Rhoma Irama.

“Cukup satu kali kehilangan tongkat, cukup satu kali. Jangan dua kali bersalah yang sama, jangan dua kali.”

Lirik lagu tersebut, menurut dia, semestinya bisa diterapkan untuk mengobati dua “penyakit kronis” air PDAM (keruh dan distribusi tak merata) yang selalu terjadi tiap tahun dan berlarut-larut, tidak mampu “diobati dan disembuhkan secara total”.

“Saya ingin bertanya, apakah pada awal beroperasinya dulu PDAM tidak mengalami dua penyakit kronis dimaksud,” kata Hairil.

Kalau iya, cara jitunya untuk mengobati penyakit kronis itu, obati/manage dengan menerapkan kembali teknis pengelolaan seperti masa normalnya tersebut.

“Tetapi kalau memang dari awal beroperasinya sudah langsung mengalami dua penyakit dimaksud dan terus mengalami sakit, kronis, sampai dengan sekarang, ITU SUNGGUH SANGAT TERLALU,” tulis Hairil.

Pertanyaan lanjutannya, apakah pernah pihak terkait (PDAM) melakukan studi banding terkait pengelolaan air baik dan benar? “Kalau iya, aplikasikan hasil studi bandingnya tersebut secara baik dan benar, sehingga bisa menyembuhkan dua penyakit kronis tersebut,” sarannya.

Terakhir, pertanyaan Hairil, apakah di sekitar area sumber mata air, hutan dan gunungnya masih alami dipenuhi pohon-pohon kayu yang rindang? “Kalau iya, terasa lucu kalau airnya mengalami penyakit kronis,” sindirnya.

Tetapi kalau memang sudah banyak pohon-pohon ditebang sehingga hutan dan gunung gundul, menurut dia, sudah dipastikan inilah penyebab utama dua penyakit kronis air PDAM.

“Solusi jitunya, kembalikan hutan dan gunung yang sudah gundul seperti sediakala, alami, dipenuhi oleh pohon-pohon kayu yang rindang. Caranya, revolusi reboisasi,” sarannya.

Yanto Manggelewa lebih singkat dan simpel lagi komentarnya. “Perbaiki manajemen dan kebocoran. Biasanya kalau air nggak bisa lancar ke konsumen, itu akibat banyak bocornya,” ujarnya.

Aktivis lingkungan Farid Fadli alias Chapunk tegas mengatakan, kata kunci mengatasi masalah air ini Stop Perusakan Hutan.

Chapunk mengaku miris ketika melihat legak brondscape (penampung air) yang dikelola PDAM di utara Dusun Kamudi, wilayah barat Desa Saneo, kecamatan Woja.

“Pantas saja kelangkaan air bersih dan air kotor dialami oleh masyarakat Woja dan Dompu terjadi hampir setiap tahun,” tegas Chapunk yang pada malam itu sempat mengunggah video dua tahun lalu, saat pembersihan penampung air dari sedimentasi kimia.

Anggota grup Suaidin Usman justrumengabarkan bahwa di wilayah Kandai Dua, sekitar lapangan bola radius 500 meter cukup lama gak dialiri air PDAM. “Yang saya pantau tidak ada air mengalir ke rumah warga, termasuk rumahku. Kurang tahu wilayah Bali Bunga,” paparnya.

Yang agak ekstrim lagi, adanya anggota grup yang berpendapat keras dan meminta PDAM ditutup saja.

“Tutup sudah kantor itu (PDAM). Gak berlaku. Masyarakat sudah pada bor air. Itu kantor dilema akut. Eks pegawainya kembalikan ke habitatnya,” kata anggota grup, Adi Sangaji tegas. (habis)