
Rencana Pemda Dompu Membuat Museum Istana Kesultanan Patut Didukung
–
DIALOG interaktif Panggung Inspirasi Ramadan Expo 2021 oleh Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Dompu di Lapangan Pelangi Jabbal Nur, Kelurahan Doro Tangga, Kecamatan Dompu, pada Rabu (5/5), diawali pengantar Imam Syahrullah sebagai moderator.
Menurutnya, budaya adalah sesuatu hal yang memiliki potensi untuk dijadikan destinasi wisata. Sebagai contoh, Situs Soro Bata, Situs Doro Mpana, Gunung Tambora, Pantai Lakey dan sejumlah potensi lainnya.
“Bagaimana cara agar nilai entitas lokal dari potensi daerah bisa mendatangkan wisatawan luar daerah,” ujar Imam dengan nada tanya kepada para narasumber.
Baca juga: Dari Panggung Inspirasi “Ramadan Expo 2021 HIPMI Dompu” (1)
Pemerhati Sejarah Budaya, Ir. Nurhaidah mendapat kesempatan pertama menguraikan pandangan dan gagasannya.
Dia mengakui, sebelum ini Budaya Dompu tidak memiliki alat peraga macam istana kerajaan seperti Museum Asi Bima. “Ketiadaan istana peninggalan Kesultanan Dompu disebabkan dihancurkan oleh pendudukan Jepang,” ucapnya.
Sehingga, lanjut wanita yang akrab disapa Dae Dau ini, diperkirakan peninggalan-peninggalan itu dibawa dan dipindahkan ke pusat pemerintahan Nipon yang ada di Bima saat itu. Yang tersisa dari peninggalan Kesultanan Dompu, tinggal identitasnya. Misalnya tari-tarian.
“Selain itu, ada rimpu dan sanggentu, pakaian formal khas daerah, seperti kebaya panjang,” bebernya.

Dikatakannya, meski tidak ada Istana Kesultanan di Dompu saat ini, tapi Pemda berencana membuatkan replika dalam bentuk museum. “Tujuannya, mengenalkan lebih dini generasi muda tentang sejarah dan kebudayaan,” jelasnya.
Dengan ikhtiar ini, katanya, diharapkan mampu menarik wisatawan luar mengunjungi Dompu. “Ini harus kita dukung dan dorong supaya bisa terwujud,” harapnya.
Pada kesempatan yang sama, Fotografer Teguh A.P menawarkan solusi bagaimana mengelola entitas lokal daerah supaya memiliki nilai jual. “Caranya, awetkan keindahan sejarah pada dua media populer, berupa fotografi dan tulisan,” tegasnya.
“Awetkan juga keindahan tradisi dalam bentuk gambar. Awetkan cerita kerajaan masa silam dalam bentuk tulisan dan jejak digital,” jelas Teguh.
Lebih lanjut Teguh menceritakan, pada 2012, dia pernah menulis artikel dengan judul Kearifan Lokal Berbasis Budaya. Objeknya saat itu adalah Dompu.
“Tiga tahun lamanya tulisan itu dan hasil fotografinya tersebut tersimpan di google. Sehingga, tahun 2015 barulah salah satu TV swasta melirik tulisan itu dan menjadi referensi peliputan acara Indonesia Bagus,” bebernya.
Dari situ kemudian dirinya belajar, bagaimana cara menarik wisatawan luar untuk mau melirik dan mengunjungi Dompu. “Caranya, melalui kekayaan alam, tradisi dan budaya kita,” tandasnya.
Pada kesempatan itu, Teguh membeberkan sejumlah kekayaan dan potensi yang dimiliki Kabupaten Dompu. “Dengan potensi wisata alam yang luar biasa, layak dikembangkan untuk menarik minat wisatawan domestik, bahkan mancanegara,” ujarnya.
Di menyebut diantaranya, Pantai Lakey, Pantai Felo Janga, Wadu Jao, Pantai Ria, Pantai Ho’do, Nisa Pudu, Sarae Nduha, Air Terjun Panca, serta masih banyak lagi pemandangan alam nan eksotik dan natural yang menakjubkan.
Selain itu, banyak pula potensi wisata budaya yang juga layak untuk diketahui publik, seperti situs budaya yang berada di Kelurahan Kandai Satu, Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu yakni Situs Doro Bata, Makam Sultan di Doro Mpana, Waru Kali, Nangasia di Hu’u, Doro Puma, Saneo, dan sebagainya. (ferimulyadin/bersambung)
