Sekretaris Satgas Covid-19 Dompu Jufri, ST, M.Si, dan Bupati Drs. H. Bambang M. Yasin sesaat sebelum dibawa ke Mataram (atas). HBY diangkut mobil RSUD Dompu, didampingi beberapa tenaga medis dan istrinya. (dok/ist/screenshot/lakeynews.com)

SETELAH berita tentang Bupati Dompu Drs. H. Bambang M. Yasin (HBY) positif Covid-19 beredar luas, muncul beragam reaksi dari sejumlah elemen.

Ada yang kaget, ada yang biasa-biasa saja. Juga ada yang ragu hingga seolah tidak percaya dengan berita (informasi) yang mereka terima.

Sikap-sikap dari berbagai elemen tersebut teramati dan terpantau, baik di dunia maya (media sosial) maupun di dunia nyata.

Namun, secara umum (mayoritas) mereka mengucapkan dan mendoakan kesembuhan bagi pemimpin Dompu dua periode itu.

“Semoga Allah SWT segera mengangkat penyakit dan memberikan kesembuhan bagi Bapak Bupati Dompu,” demikian antara lain tulisan status sejumlah akun Facebook yang dipantau media ini.

Disamping itu, ada pula komponen masyarakat yang merasa aneh dan unik, ragu dan seolah tidak percaya dengan status HBY yang positif Covid-19.

Mengapa?
Alasan mereka, salah satunya karena rentang waktu pengambilan swab dan pemeriksaan dengan keluarnya hasil relatif sangat cepat. Terasa aneh karena berbeda dengan kasus selama ini.

Alasan lain, lantaran pengambilan swab maupun pemeriksaan dilakukan bertepatan bahkan setelah dibacakan putusan sidang ajudikasi Bawaslu Dompu, Sabtu (10/10).

Yakni terkait sengketa Pilkada antara Bapaslon Bupati/Wabup H. Syaifurrahman Salman dan Ika Rizky Veryani (SUKA). Dimana, salah satu poin putusan majelis sidang ajudikasi tersebut, menerima gugatan SUKA untuk seluruhnya.

Poin lain, Bawaslu memerintahkan KPU Dompu agar menetapkan Bapaslon SUKA sebagai Paslon Bupati/Wabup paling lama tiga hari kerja, terhitung setelah putusan itu dikeluarkan.

Penilaian keanehan dan keunikan status positif coronanya HBY, ketika mereka bandingkan dengan kasus almarhumah Sri Rahmawati.

Anggota Bawaslu Dompu itu meninggal dunia pada Jumat, 2 Oktober lalu. Almarhumah Rahma sempat menjalani perawatan di RSUD Dompu.

Beberapa hari sebelumnya telah diambil swabnya. Kemudian dikirim ke RSUP rujukan di Sumbawa Besar.

Setelah begitu lama dan berhari-hari, baru keluar hasil pemeriksaan swab tersebut.

Tapi HBY, hanya sekitar dua jam setelah diambil swabnya, sudah keluar dan diketahui hasilnya. “Aneh kan,” kata salah seorang di antara mereka dengan nada tanya pada media ini.

BACA JUGA: Bupati Dompu Positif Corona

Anggapan dan penilaian miring beberapa elemen publik terkait status positif corona HBY tersebut, ditanggapi Satgas Covid-19 Kabupaten Dompu.

Menyangkut keterlambatan keluarnya hasil pemeriksaan swab almarhumah Sri Rahmawati misalnya.

“Perlu diingat, almarhumah Bu Rahma adalah pasien isolasi,” kata Sekretaris Satgas Covid-19 Dompu Jufri, ST, M.Si, ketika dikonfirmasi Lakeynews.com, Minggu (11/10) malam.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) DPBD Dompu itu menjelaskan, empat hari sebelum almarhumah meninggal, hasil pengambilan swabnya dikirim ke RSUP rujukan di Sumbawa. “Lama juga antreannya di sana,” paparnya.

Sehingga, saat Rahma meninggal pada Jumat (2/10), Satgas Covid-19 mengambil swab almarhumah untuk dilakukan uji sendiri di RSUD Dompu.

“Akan tetapi katrik kita habis. Sehingga, Direktur Rumah Sakit (RSUD Dompu, red) harus meminjam katrik di Bima,” tandas Jufri.

Namun karena hari Jumat dan biasanya di Bima tutup jalan kalau mulai khutbah, sehingga tidak bisa segera sampai di tempat tujuan sesuai harapan.

Karena itu, pihak Satgas Covid-19 Dompu menghubungi kembali pihak rumah sakit di Sumbawa untuk mempercepat proses pemeriksaan swab almarhumah.

“Walaupun demikian, ternyata lama juga prosesnya, baru diketahui hasilnya,” ungkap Jufri.

Sembari meluruskan informasi yang berkembang, Jufri menegaskan, saat meninggal, status almarhumah belum diketahui negatif atau positif.

“Statusnya baru reaktif. Ketika dirawat di RSUD, almarhumah ditempatkan di ruang isolasi,” jelasnya.

“Karena ada kesadaran yang tinggi, terutama dari suaminya, disepakati untuk mengikuti semua mekanisme protokoler Covid-19,” sambung Jufri.

HBY Jalani Isolasi di RSUP NTB

Ditanya kondisi HBY, Jufri mengatakan, pimpinannya tersebut sudah berada dan menjalani isolasi di RSUP NTB, Kota Mataram.

HBY sudah langsung dibawa ke Mataram pada Sabtu sore lalu. Menggunakan mobil RSUD Dompu, sekitar pukul 17.00 Wita.

HBY didampingi beberapa tenaga medis, dokter dan perawat. “Istri Beliau (HBY, red), Umi Eri (Hj. Eri Aryani, red) juga ikut berangkat dan mendampingi,” jelas Jufri.

(sarwon al khan)