Oleh: Muslimin Hamzah  *)

(Penulis Buku “GAJAH MAJA: PIMPIN EKSPEDISI PADOMPO, PROKLAMASIKAN BIMA”)

Lagi-lagi saya harus ngomong saklek. Penamaan Suku Mbojo itu mengada-ada, keliru dan menyesatkan orang Bima. Saya pikir ini ulah segelintir oknum bangsawan Mbojo/Mbojo Nae/Rasanae yang terobsesi oleh kebesaran masa lalu mereka. Padahal, menilik sejarahnya, sejumlah bangsawan Mbojo Nae dulu bertindak sebagai second man alias Londo ireng, Belanda Hitam.

Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)

Mereka menganggap dirinya bayangan kolonial Belanda di Tanah Bima. Makanya ketika Jenateke Muhammad Salahuddin menerima pengahargaan Officer de Orde van Orange dari Ratu Wilhelmina atas jasa-jasa Sang Jenateke menyukseskan operasi militer Belanda di Pulau Sumbawa, orang Mbojo Nae senang bukan alang-kepalang. Sementara orang/dou Kae seperti Ngali serta orang/dou Bolo serta dou Donggo menangis dalam nestapa.

Bagi mereka itu tidak adil. Operasi militer itu telah membuat mereka terpuruk hingga jatuh miskin karena terjebak rentenir. Mereka meratapinya karena kebijakan pajak kolonial yang mencekik leher ditoleransi oleh elit-elit priyayi Kerajaan Bima seperti Sultan Ibrahim, yang berkedudukan di Mbojo Nae. Orang Ngali (Kae), Rasanggaro dan Dena (Bolo/Sila) dan Kala (Donggo) yang suntuknya menyundul langit, akhirnya bangkit melawan.

Kita tahu pula, raja-raja Dompu bersikeras menolak kooperatif dengan Belanda hingga Manuru Kupang harus membayar dengan nyawanya sendiri. Baginya lebih baik mati daripada mengikuti kehendak Belanda.

Cover buku karangan Muslimin Hamzah. (ist/lakeynews.com)

Saya lihat sejumlah oknum bangsawan/bekas bangsawan Mbojo terjebak kesombongan ilutif dengan menganggap Mbojo itu sama dengan Bima, bahkan lebih agung dari Bima. Tidak! Itu keliru besar.

Mbojo hanya bagian dari Bima, bukan sebaliknya. Bahkan dibandingkan dengan Sape, Kore, Tambora (atau Sanghyang) menurut Nagarakrtagama yang menorehkannya abad ke-14, Mbojo itu bukan apa-apa, kecuali sebuah semesta baru, yang muncul belakangan jauh setelah Sape, Kore dan Sanghyang atau Gunung Tambora (bukan Gunung Sangiang di Wera) eksis, seperti yang diabadikan kitab Nagarakrtagama. Raba pun tidak masuk Mbojo, karena orang Raba jika ke Pasar Bima, ke Asi atau keluarganya di Sarae atau Kampung Sumbawa, kerap bilang, “lao di mbojo”.

Satu hal lagi,  jika berani dan mengaggap Mbojo/Mbojo Nae/Rasanae itu unggul, kenapa Anda tidak menggunakan saja Kota Mbojo untuk nama administratif Kota Bima sekarang. Buang Bima-nya ambil Mbojo-nya. Jangan setengah-setengah. Nyatanya Anda ciut nyalinya. Itu tandanya, Mbojo ada dan hidup karena ada Bima. Tanpa Bima dia tidak berarti apa-apa, hanya sebuah kampung besar.

Dengan posisi seperti itu bagaimana mungkin Mbojo menjadi sebuah nama suku dan dikukuhkan oleh Diknas sebagai sebuah nomenklatur suku?

( Bersambung ke; http://lakeynews.com/2019/07/05/suku-mbojo-itu-keliru-dan-menyesatkan-2/ )