Kepala Disbudpar Kabupaten Dompu yang juga panitia Festival Lakey 2025, Abdul Muis (Pak Daeng), di sela-sela persiapan panggung di venue utama festival, Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u. (ist/lakeynews)

 

CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu

 

MASIH ingatkah dengan Festival Tambora Tahun 2022? Event dengan tagline “Dunia Menyapa Tambora 207” yang berlangsung di Sabana Doroncanga, Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu pada 4-5 Juni itu menyisakan seabrek masalah. Akankah hal yang sama terulang di Festival Lakey 2025?

Festival Lakey telah dimulai tanggal 12 dan dijadwalkan hingga 20 Juli ini. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan wisata Pantai Lakey, Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u. Puncaknya, Sabtu (19/7/2025).

Festival Lakey juga diyakini dan disadari akan sarat kekurangan, kelemahan dan masalah.

Bedanya, masalah-masalah pada Festival Tambora terungkap setelah kegiatan berakhir. Sementara masalah dan kekurangan Festival Lakey justru sudah diketahui dari awal.

Catatan Lakeynews, ketika Festival Tambora, banyak netizen melalui akun media sosialnya mengangkat secara gamblang “aib” kelemahan event tersebut. Antara lain, debu, air bersih minim, hingga sempat heboh di Facebook isu “t*i gare” (BAB tanpa air).

Kemudian perkemahan ditumpuk, pengaturan lalu lintas dan parkir yang kacau, sampah menumpuk dan berserakan di mana-mana. Jaringan telepon, lebih-lebih internet, yang tidak tersedia. Akibatnya, arus dan akses informasi dengan “dunia” luar betul-betul terisolasi, serta sederet masalah lainnya.

Bagaimana upaya pemerintah daerah melalui panitia pelaksana agar masalah yang terjadi saat Festival Tambora tidak terulang lagi di Festival Lakey?

Jika sudah diidentifikasi dan diketahui masalah yang akan dihadapi, terutama pada malam hingga hari H puncak event (menjelang dan saat Tarian Kolosal Ou Balumba), 18-19 Juli, bagaimana mengatasinya?

Namun, kalau persiapan sudah sedemikian maksimal dilakukan, toh masih tetap ada kekurangannya, apa upaya dan langkah untuk meminimalisirnya?

Berikut rangkuman penjelasan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu yang juga panitia Festival Lakey 2025, Abdul Muis, ketika menjawab berondongan pertanyaan wartawan Lakeynews, Rabu (16/7/2025).

“Kami sudah sadari dari awal, Festival Lakey Tahun 2025 ini akan banyak kekurangan dan kelemahannya,” kata pria yang akrab disapa Pak Daeng itu.

Namun demikian, Pemkab Dompu melalui Disbudpar, jajaran panitia pelaksana, pihak-pihak terkait, dan elemen lainnya sudah, sedang dan akan tetap berupaya maksimal untuk meminimalisir masalah-masalah tersebut.

Memenuhi kebutuhan air bersih, sudah ada tiga titik sumur. Ditambah beberapa unit mobil tangki untuk mengangkut dan mendistribusikan air.

Telah dipersiapkan juga sejumlah kamar kecil; untuk WC dan tempat mandi. Berikutnya, pengaturan lalu lintas untuk keluar masuk arena, tempat parkir, faktor keamanan, ketertiban, dan lainnya telah disiapkan dan dikoordinasikan dengan pihak keamanan dan pihak-pihak terkait.

Panitia juga sudah menyiapkan beberapa unit mobil sampah, tiga mesin air untuk tiga sumur, beberapa unit mobil tangki untuk mengangkut dan mendistribusikan air di lokasi.

Meski begitu, dengan kekurangan, keterbatasan dan kendala yang dihadapi, tentu persiapan-persiapan dan pengadaan tersebut dirasa masih belum mampu mengatasi serta memenuhi semua hal yang dibutuhkan pengunjung di arena. Terutama pada Jumat malam (18/7/2025) dan hari “H” Festival Lakey, Tarian Kosal “Ou Balumba” pada Sabtu (19/7/2025).

Yang disadari masih sangat kurang, antara lain, sarana dan prasarana sanitasi; tempat buang besar dan kecil, fasilitas kebersihan dan pembuangan sampah, dan lainnya.

“Ada yang disiapkan pemerintah dan panitia, tetapi diyakini tetap tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan orang dalam jumlah banyak,” tandas Pak Daeng.

Karena itu, panitia festival membutuhkan partisipasi semua elemen untuk berpartisipasi dan ikut membantu mengatasi masalah-masalah tersebut. Terutama OPD-OPD (organisasi perangat daerah) dan kelompok pengunjung.

OPD-OPD maupun kelompok pengunjung yang datang bersama keluarga, teman-teman untuk berkemah, bisa menyiapkan dan membawa sendiri (misalnya) sarana untuk membuang atau mengumpulkan sampah, serta fasilitas untuk mandi.

“Seperti yang saya katakan tadi, memang ada yang disiapkan oleh panitia di lokasi, sekitar venue utama Festival Lakey. Tetapi pasti tidak mencukupi dan tidak mampu memenuhi kebutuhan orang yang begitu banyak (yang datang),” tandasnya.

Pak Daeng senang dan bangga, masyarakat Kecamatan Hu’u sangat mendukung dan bersemangat menyukseskan event tersebut. Bahkan, salah seorang pengusaha di Lakey, biasa dipanggil Bang Maman Cafe, rela mobil bak terbuka (pick up) dipakai membantu kegiatan di lokasi festival.

Mobil itu dibuatkan tandon air. Dipakai untuk membagikan air dan menyiram lapangan, termasuk arena venue utama festival. “Itu rutin beliau lakukan setiap hari, dari pagi hingga sore,” ujar Pak Daeng.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada beliau. Berkat dukungan dan niat baik beliau ini, kebutuhan air bersih dan penanganan debu menjelang puncak kegiatan dapat tertangani (khusus masalah debu, diulas pada tulisan lain, red),” sambungnya.

Pak Daeng kembali tegaskan, pihaknya sudah menyadari sejak awal, bahwa kegiatan Festival Lakey ini akan banyak kekurangan dan kelemahannya. Sehingga sangat dibutuhkan dukungan, partisipasi, peran serta, dan kesadaran semua pihak untuk sama-sama membantu mengatasinya.

“Kekurangan-kekurangan itu, mari kita atasi, tangani dan tutupi secara bersama-sama. Sehingga nanti tidak lagi ramai-ramai mempersoalkan setelah kegiatan berakhir,” ajaknya menggugah. (*)