Suherman Ahmad. (ist/lakeynews.com)

Oleh: Suherman Ahmad *)

 

Tadi pagi (3 Maret 2025) saya mengikuti acara penyambutan dan serah terima jabatan Bupati dan Wakil Bupati Dompu Periode 2025-2030 melalui siaran langsung Facebook Dinas Kominfo.

Pidato sambutan Bupati Dompu tadi pagi sederhana dan santai, mengalir tanpa tekstual serta meyakinkan.

Menurut saya semua orang yang menyaksikan baik secara langsung maupun virtual, dapat atau telah mengetahui dan memahami pesan-pesan yang di sampaikan BBF pada pidato perdananya sebagai Bupati Dompu.

Untuk itu, saya tidak mengulasnya lagi melalui tulisan. Saya ingin mengulas sisi lain yakni soal karakter BBF melalui pidatonya.

Baca jugaBupati Dompu Murka

Pertama, Ia lugas. Pemimpin yang lugas adalah pemimpin yang menyampaikan pandangan atau pendapat secara jujur apa adanya dan tidak berbelit-belit. Ketika melihat ada sesuatu yang salah dan keliru, Ia akan menyampaikan dan menunjukkan rasa kesal dan kecewanya.

Hal itu nampak tadi, saat tidak adanya backsound lagu Indonesia Raya. Praktis, Ia ungkapkan kekecewaan itu secara langsung dan terbuka.

Pemimpin yang menyampaikan pesan, kekecewaan secara lugas di tempat kejadian harus dimaknai sebagai warning bagi para pejabat yang membuat kesalahan atau kekeliruan agar kedepan hal serupa tidak terulang.

Kedua, Ia tegas. Seorang pemimpin yang tegas adalah pemimpin yang menyampaikan ide dan gagasannya secara jelas dan meyakinkan dengan intonasi dan penekanan-penekanan pada setiap perkataannya.

Hal itu terlihat pada beberapa kalimat soal backsound lagu Indonesia Raya yang tidak ada, soal pentingnya membangun kolaborasi, kerjasama dan kekompakan. Pun demikian saat Ia menekankan soal perubahan.

Itu semua, Ia sampaikan dengan tegas yang ujung kalimatnya menggunakan penekanan “iya kan”. Hal tersebut bermakna bahwa setiap orang termasuk para pejabat yang mendengarkan kalimatnya baik dalam bentuk arahan atau perintah harus mencatat dan menggaris bawahinya.

Jika tidak, maka dianggap lalai, tidak memperhatikan arahan dan perintah atau bahkan dianggap tidak loyal. Kira-kira demikian makna semiotiknya.

Ketiga, Ia akrab. Seorang pemimpin yang akrab adalah pemimpin yang ingin membangun hubungan komunikasi yang efektif dan efisien tanpa ada sekat pembatas. Pada saat yang sama ingin membangun keharmonisan dan kehangatan bahkan persaudaraan.

Hal itu nampak pada saat ditengah-tengah sambutan, hampir semua audiens disapanya dengan panggilan atau sebutan langsung ke personal pejabat.

Seperti panggilan, “Abang Jaksa, Pak Kapolres, Pak Ketua Dewan dan Ketua Demokrat, Pak Sekda, Kepala OPD”, dan sebagainya.

Dari ketiga karakter yang penulis analisis, kesimpulanya adalah BBF pemimpin yang tidak mudah didikte dan dipengaruhi, Ia tipe pemimpin yang cepat mengambil keputusan tanpa banyak pertimbangan dan pada saat yang sama beliau tipe pemimpin low profile.

Itu hanya pandangan dangkal penulis, yang bisa benar dan salah semuanya atau sebagiannya. Namun yang pasti, setiap manusia dibekali karakter yang berbeda dan karakter tersebut bisa dilihat dan dianalisis, salah satunya dari cara berbicaranya (pidatonya).

Selamat menjalankan tugas dan amanah BBF-DJ. Jangan lupa wujudkan Dompu yang maju. Semoga! (*)

 

*) Penulis adalah pemerhati sosial, politik, dan pemerintahan. Juga pernah menjadi anggota KPU Kabupaten Dompu.