Dr. Ihlas H. Hasan, S.PdI, SH, M.Pd, mempunyai metode sendiri dan “unik”, ketika berorasi ilmiah di hadapan anak-anak KB PAUD Naylah Dusun Karaku, Desa Manggena’e, orang tua dan warga pada acara pelepasan dan perpisahan siswa/siswi, Sabtu (11/6). (tim/lakeynews.com)

SEORANG doktor melakukan orasi ilmiah di hadapan mahasiswa, biasa dan lumrah. Tapi bagaimana jika hal yang sama dilakukan di hadapan siswa/siswi Kelompok Bermain Pendidikan Anak Usia Dini (KB PAUD)?

Dr. Ihlas H. Hasan, S.PdI, SH, M.Pd, mempunyai metode sendiri. Cara yang diterapkan Asesor BAN PAUD PNF Pokja Kabupaten Dompu, NTB, itu agak “unik”.

Peristiwa itu terjadi saat acara pelepasan dan perpisahan seswa/siswi KB PAUD Naylah Dusun Karaku, Desa Manggena’e, Kecamatan Dompu, Sabtu (11/6).

Baca juga: Setelah 12 Tahun Berdiri, Kali Pertama Pelepasan Siswa KB Naylah Berlangsung Meriah

Awalnya, pria yang juga Direktur Pusat Studi Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Dompu itu, menilai luar biasa acara pelepasan dan perpisahan siswa/siswi KB PAUD Naylah.

“Acaranya super keren. Ini luar biasa, padahal tidak ada dananya,” kata Dr Ihlas yang saat ini menjadi salah satu Wakil Rektor IAIM Bima.

“Kedepan lembaga PAUD harus berani mengambil terobosan untuk kemajuan pendidikan anak usia dini di Kabupaten Dompu,” sambung Founder PAUD Amalia Kreatif Desa Karamabura, Kecamatan Dompu itu.

Sejurus kemudian, Dr Ihlas mengungkapkan, dirinya sempat berpikir tentang metode, cara dan bahasa yang tepat untuk menyampaikan orasi ilmiah di hadapan siswa/siswi kelompok bermain.

Diakuinya, selama ini berbicara atau menyampaikan orasi ilmiah di hadapan mahasiswa. Sekarang ini saya harus berorasi ilmiah di hadapan anak-anak kelompok bermain dan masyarakat umum.

“Saya sempat berpikir bahasa apa yang harus dipakai. Kita campur saja, ya,” ujarnya.

Bahasa campuran dimaksud, bahasa Indonesia dan bahasa Dompu-Bima. Dua bahasa itulah yang dikombinasikan Dr Ihlas ketika berbicara di sana.

Otak manusia, terutama anak-anak, seperti spons. Anak usia 0-8 tahun, otaknya seperti lampu. Semakin dikembangkan stimulasinya, semakin bagus.

“Anak-anak tidak mengenal diperintah, tapi pembiasaan,” tutur Dr Ihlas sembari menyebut beberapa contoh.

PAUD, salah satu tempat yang tepat untuk menumbuhkan pembiasaan positif terhadap anak. Jadi, menurutnya, sangat keliru kalau sekolah di PAUD tidak dianggap penting. Atau, dianggap hanya tempat bermain dan bernyanyi-nyanyi.

“Persepsi orang tua dan masyarakat bahwa sekolah di PAUD tidak penting itu harus diluruskan,” tegasnya.

Ditambahkan, PAUD penting dan menjadi peletak dasar. Tidak sekadar tempat bernyanyi. “PAUD itu tempat pengembangan motorik anak,” tandasnya.

Menurut dia, tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak dilahirkan dengan kepintaran dan kecerdasan masing-masing. Tugas PAUD-lah untuk menggali potensi yang dimiliki seorang anak.

“Ada anak yang berpotensi di bahasa, ada yang di kesenian, matematika, olahraga, atau bidang lainnya,” jelas Dr Ihlas sembari mengatakan, siap membantu dalam pengembangan KB PAUD Naylah.

Kepala Cabang Dinas Dikpora Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu, NTB, Indriati, S.Pd, saat memberikan sambutan. (tim/lakeynews.com)

Tanggung Jawab Bersama Pemerintah dan Masyarakat

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Dikpora Kecamatan Dompu Indriati, S.Pd, memberikan apresiasi kepada KB PAUD Naylah yang mampu mengacarakan pelepasan dan perpisahan siswa/siswinya.

“Belum tentu semua PAUD mampu melaksanakan hal yang sama dengan KB PAUD Naylah. Tidak salah bapak/ibu menitipkan anak-anaknya ke KB PAUD Naylah,” ujar Indriati.

Indriati yang saat itu mewakili Kadis Dikpora Kabupaten Dompu mengatakan, gaji guru-guru KB PAUD Naylah tidak seberapa. Nilainya hanya Rp. 1,2 juta setahun. Pun diterima dua kali setahun, per enam bulan. Tapi mereka ikhlas.

“Terima kasih kepada guri-guru KB PAUD Naylah yang telah bersusah payah dan ikhlas mengabdi dalam mendidik dan membina anak-anak,” tuturnya.

Tanggung jawab terhadap pendidikan, lanjutnya, merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan anak (siswa), kata Indriati, adalah tugas guru dan sekolah. Selebihnya tanggung jawab orang tua, warga dan lingkungan sekitar tempat tinggal. (ayi)