Tanaman (pohon) kelor yang dibudidayakan di wilayah Desa Kramat, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu. (ist/lakeynews.com)
Owner CV. Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar (kaos hitam) bersama beberapa dedengkot Media Independen Online (MIO) Indonesia Wilayah NTB. (ist/lakeynews.com)

Dimasa Pandemi Covid, Industri Kelor Tri Utami Jaya Tetap Eksis di NTB

.

MASYARAKAT Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama di Kabupaten Dompu dan sekitarnya, tidak perlu ragu-ragu menanam kelor. Mengapa?

Menanam kelor diyakini, selain berkontribusi dalam memberantas kemiskinan, juga akan meminimalisir bencana banjir.

Selain itu, industri dengan bahan baku dau kelor milik CV. Tri Utami Jaya adalah salah satu industri di Provinsi NTB yang tetap eksis, meski negeri ini tengah dilanda pandemi Covid.

Menurut Owner Tri Utami Jaya, Nasrin H. Muhtar, tidak rugi menanam kelor. Kelor bisa menjawab berbagai persoalan saat ini. Tanamam kelor, salah saatu alternatif solusi terbaik.

“Jika hutan gundul, kelor dapat ditanam untuk mencegah banjir. Karakteristik akar pohon kelor berserabut. Jadi, dapat menahan dan menyimpan air,” jelas pria yang kerap disapa Doktor Jamu itu.

Pohon kelor yang baru ditanam di Kecamatan Kilo, Dompu. (ist/lakeynews.com)

Ketika berbicara tentang kesulitan atau kelangkaan pupuk, kata Nasrin, tanamlah pohon kelor. Kelor sama sekali tidak membutuhkan pupuk, pun pestisida dan lainnya. “Kelor juga tidak merusak lingkungan,” tegasnya.

Penyerapan tenaga kerja melalui usaha kelor ini diakui maksimal. Misalnya, jika lahan tanam kelor mencapai satu hektare yang berisi 20 ribu pohon, maka, per hari ada sekitar 10 tenaga kerja yang dapat diserap untuk memanen kelor.

Masalah kemiskinan juga akan teratasi. Harga daun kelor dihitung Rp. 10 ribu per kilogram (Kg). “Satu karung kelor bisa mencapai 30 kilogram. Kalau dikali Rp. 10 ribu, maka petani bisa mendapatkan uang Rp. 300 ribu per karung,” jelas Nasrin.

Yang menakjubkan lagi, petani kelor dapat memanen 2-3 kali dalam satu tahun. Jika lahannya satu hektare, satu kali panen dapat mencapai Rp. 10 juta. “Kalau tiga kali panen bisa Rp. 30 juta,” beber pria yang kadang dipanggil Paduka ini.

Karena itu, Nasrin menekankan, petani kelor tidak perlu khawatir menanam kelor dan pemasarannya. Daun kelor tetap akan dibutuhkan. Apalagi saat ini permintaan produk olahan kelor NTB, baik nasional maupun dunia, semakin banyak.

Pria kelahiran desa Malaju, Kecamatan Kilo, Dompu ini mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan pemerintah. Pemerintah hadir dalam membantu para pengusaha terkait legalitas usaha, proses perizinan, spesifikasi halal, BPOM dan lainnya.

Daun kelor hasil panen petani (kiri) dan beberapa tenaga kerja tengah melakukan beberapa proses pengeringan. (ist/lakeynews.com)

Sasar Pasar Internasional

CV. Tri Utami Jaya saat ini menyasar pasar lokal hingga mancanegara. Produk-produk yang sangat bermanfaat bagi kesehatan ini akan masuk ke sejumlah hotel berbintang dan pasar modern.

Hebatnya, Tri Utami Jaya telah memiliki akses dan bekerja sama dengan 16 negara. Yaitu Malaysia, Jepang, Brunai, Cina, Rusia, Afrika Selatan, Inggris, Dubai, Qatar, Australia, Taiwan, Jerman, Belanda, Korea dan Turki.

Ke depan, produk olahan kelor semakin diminati masyarakat lokal dan dunia karena manfaat besar yang terkandung di dalamnya.

Bukan itu saja. Tri Utami telah memproduksi Teh Moringa KIDOM, dan Kopi Kidom Coffee Robusta. Ke depan produk olahan kelor akan semakin bervariasi dengan menghadirkan masker wajah dari kelor, sabun cair, shampo, kripik kelor, dodol kelor, mie kelor dan banyak lagi yang direncanakan. (tim)