Aktivitas di sekitar lokasi pengeboran PT. STM di Proyek Hu’u, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – PT. Sumbawa Timur Mining (STM atau Perusahaan) mengumumkan hasil pengujian kadar logam (assay) dari lubang VHD096. Atau, lubang bor vertikal sedalam 2.042,72 meter (m) ke dalam potensi sumber daya mineral Onto.

Hasil assay mengonfirmasi, potensi sumber daya mineral Onto masih mengalami kemenerusan lebih dari 500 m di bawah kedalaman mineralisasi yang diketahui sebelumnya.

Dengan hasil assay yang telah berhasil melewati rangkaian pengujian kualitas yang lengkap, STM melaporkan intercept 1.594,7 m dengan kadar @1.00 persen Tembaga dan 0.40g/t Emas. Termasuk di dalamnya intercept yang luar biasa sepanjang 100 m dengan kadar @5,99 persen Tembaga dan 1,11 g/t Emas.

Pada 19 Februari lalu, STM telah mengumumkan temuan potensi sumber daya mineral Tembaga-Emas Onto. Sebuah temuan kelas dunia yang berpotensi menempatkan STM sebagai salah satu produsen tembaga terkemuka di Indonesia.

STM adalah pemilik Kontrak Karya (KK) Proyek Hu’u generasi ke-7 di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). STM merupakan perusahaan patungan antara Eastern Star Resources Pty. Ltd. (80 persen), anak perusahaan yang 100 persen sahamnya dimiliki oleh Vale SA, dan PT Antam Tbk (20 persen).

Presiden Direktur PT. STM Bede Evans, mengungkapkan antusisme Perusahaan dengan hasil tersebut. “Kami sangat antusias dengan hasil dari lubang bor VHD096,” ujarnya dalam rilis yang diterima Lakeynews.com.

Hal ini, lanjutnya, merupakan lubang bor yang cukup sulit dan dicapai melalui kerja keras dari tim STM dan kontraktornya di lapangan. “Kedepan, kami akan fokus untuk menilai peluang yang ada dari hasil terbaru ini,” ujar Bede Evans.

Bersamaan dengan rilis hasil dari lubang bor VHD096, STM juga menerima hasil pengujian kadar logam (assay) yang mengesankan dari lubang VHD091. Yakni lubang bor sedalam 1.420,2 m ke arah bagian Barat Daya dari potensi sumber daya mineral Onto dari lokasi pemboran yang sama).

“Lubang VHD091 memiliki intercept 1.010,2 m dengan kadar @1,11 persen Tembaga dan 0,84 g/t Emas. Termasuk di dalamnya intercept sepanjang 318,0 m dengan kadar @ 1,81% Tembaga dan 1,32 g/t Emas,” urai Bede Evans

Sementara Wakil Presiden Direktur PT. STM Bronto Sutopo, menegaskan kembali antusiasme STM dan para pemegang sahamnya. Katanya, hasil dari lubang VHD096 dan VHD091 memberikan banyak peluang bagi STM.

“Kami juga berbesar hati dengan hubungan kolaboratif yang kuat antara STM dan Pemerintah Indonesia. Kami yakin hasil ini akan memberikan dasar yang kokoh untuk kelanjutan pengembangan Proyek Hu’u,” tandasnya optimis.

Posisi strategis potensi sumber daya mineral Onto dan Proyek Hu’u bagi industri pertambangan di Indonesia baru-baru ini juga diakui dengan penghargaan yang diterima STM sebagai Best Exploration Expenditure, Best Discovery dan Best in Class oleh Asosiasi Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dalam acara IAGI Awards 2020.

Direktur Operasi PT. STM James Connolly, menekankan pentingnya tiga penghargaan dari IAGI ini. “Ini momen yang membanggakan bagi STM dan para pemegang saham karena telah dianugerahi penghargaan bergengsi tersebut,” cetusnya.

Pihaknya berterima kasih kepada IAGI atas pengakuan ini. Terima kasih juga disampaikan James kepada tim STM, baik yang masih maupun tidak lagi bekerja di STM, yang telah memberikan kontribusi pada penemuan sumber daya mineral Onto dan operasional Proyek Hu’u.

STM juga menginformasikan bahwa operasional di site Hu’u telah dimulai kembali setelah perlambatan sementara operasional karena pandemi virus Corona.

Seperti dikatakan Bede Evans, pihaknya telah melakukan sejumlah tindakan pencegahan pada Maret dan April 2020 dengan melakukan perlambatan sementara operasi.

“Dengan koordinasi dan hubungan kerja yang erat dengan Pemerintah Kabupaten Dompu, kami saat ini telah memulai lagi mobilisasi staf dan kontraktor kami ke lokasi Proyek di Hu’u,” paparnya. (tim)